Terkait Corona, Jokowi ‘Cinta’ Pencitraan Ketimbang Nyawa Rakyat Indonesia

0
Jokowi Raja Adikuasa
Presiden Jokowi menggunakan pakaian adat kerajaan nusantara.

Sebelumnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menggelontorkan Rp 72 miliar untuk jasa influencer. Budget sebesar itu diperuntukkan untuk meningkatkan sektor pariwisata yang lesu karena wabah virus corona. Di sisi lain, banyak yang tidak diketahui publik, anggaran pemerintah untuk penanganan wabah menular (termasuk) virus corona (Covid-19) hanya sebesar Rp 7,1 miliar.

Kebijakan ini seolah-olah menempatkan Indonesia sebagai taman bermain bagi masyarakat dunia. Siapa saja silahkan datang, bayar tiket masuk, bawa uang yang banyak dan habiskan semuanya di Indonesia. Padahal, banyak negara di dunia saat ini justru melakukan pengetatan arus keluar masuk orang.

Seperti langkah antisipasi penyebaran virus corona di negara-negara Eropa, penutupan perbatasan hingga penerapan larangan perjalanan dilakukan. Di Iran, sholat Jumat berjemaah pun ditiadakan sampai batas waktu yang belum ditentukan demi menghindari penyebaran virus di tempat-tempat yang padat. Begitulah gambaran negara-negara di dunia melindungi segenap tumpah darahnya dari ancaman virus corona. Kata orang bijak, mencegah lebih baik daripada mengobati. Atau, uang bisa dicari, sementara itu sehat mahal harganya

Kebijakan pemerintah ini tentunya bertolak belakang dengan semangat Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya. Karena pada saat kampanye Pilpres 2019 lalu, Jokowi sesumbar mengatakan kalau diperiode kedua kepemimpinannya, dia akan berfokus pada sumber daya manusia Indonesia. Tentunya, untuk membangun sumber daya manusia yang handal harus dimulai dengan meningkatkan sektor kesehatan dan pendidikan. Istilah latin menyebutkan, “Mens Sana In Corpore Sano” (pikiran yang sehat ada di dalam tubuh yang sehat).

Langkah ‘pencitraan’ Jokowi melalui pariwisata ini akhirnya membawa petaka. Dua orang warga negara Indonesia positif corona. Anehnya, pembawa virusnya bebas keluar masuk Indonesia. Warga negara Jepang yang saat ini berada di Malaysia dan dinyatakan otoritas setempat positif corona ditunjuk batang hidungnya sebagai penyebabnya.

Baca juga  Wow, DPR Setujui Bahas RUU Omnibus Law Cipta Kerja: Dewan Manfaatkan Situasi Pandemi Corona

Jika pemerintah dari awal lebih aware dengan virus corona, tentu warga negara Jepang yang diduga menularkan virus corona kepada kedua WNI bisa ‘dicegat’ ketika masuk atau pun saat hendak keluar Indonesia. Kini kita tidak tahu, sejak Desember 2019 (virus corna muncul di Hubei, China), sudah berapa banyak lalu lintas manusia keluar masuk Indonesia tanpa pengawasan yang ketat. Tidak tertutup kemungkinan, kasus seperti warga negara Jepang yang menularkan corona juga dibawa oleh warga negara lain, atau bahkan warga negara Indonesia yang baru saja plesiran dari luar negeri.

Jadi, jika pemerintah menghimbau masyarakat jangan panik dengan virus corona, justru masyarakat panik karena langkah preventif pemerintah yang salah alamat. Harusnya, Rp 72 miliar budget influencer digunakan untuk melakukan langkah preventif, bukan malah memasukkan orang dari luar tanpa pengawasan yang ketat.

Kini ketika petaka corona itu sudah masuk Indonesia, ternyata budget pemerintah untuk menghadapi virus menular dengan jumlah penduduk sekitar 264 juta hanya sebesar Rp 7,1 miliar, atau 10 kali lebih kecil dari budget pencitraan pariwisata. Jadi jangan tuding rakyat panik ketika memborong masker dan barang kebutuhan pokok. Apa yang ditunjukkan masyarakat itu merupakan naluri alamiah untuk bertahan hidup ketika pemerintah tidak lagi dianggapp bisa memberi rasa aman. Masih untung, kepanikan masyarakat tidak berujung kepada chaos dan ‘menggulingkan’ Jokowi.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here