Tri Rismaharini Harus Dikarantina Terkait Covid-19!

0
risma
Proses Penyemprotan Disfentan untuk mencegah penularan Covid-19

Politik Today – Rabu kemarin 18 Maret 2020, Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan penyemprotan disinfektan ke wilayah-wilayah yang berpotensi terjangkitnya virus corona atau Covid-19. Upaya pemerintah daerah ini perlu diapresiasi, apalagi seorang walikota turun langsung berhadapan dengan wabah Covid-19 yang paling berbahaya di dunia hari ini.

Protokoler pemkot Surabaya juga terlihat sangat percaya diri dengan “mengantongi” daerah mana saja yang akan disemprot dan pihak-pihak apa saja yang akan berkoordinasi. Sesuai dengan informasi yang beredar,pihak yang dikonfirmasi oleh Pemkot Surabaya itu diantaranya, persatuan perhotelan, café-café, mall, bank, dan tranformasi umum.

Sepertinya, penyemprotan disinfektan di ruang public akan terus dilakukan Pemkot Surabaya sampai Indonesia dinyatakan aman dari Covid-19. Kebijakan Pemkot ini juga didukung dengan pengamatan dan analisis sehingga ditemukannya 98 titik ruang public pontensial.

Namun, pada pelaksanaan-penyemprotan disinfektan kemarin terdapat sedikit kejanggalan. Risma tidak mengenakan pakaian khusus penyemprotan disinfektan. Sedangkan Risma sedang berada di daerah yang sangat rawan terjangkitnya Covid-19.

Mungkin maksudnya Risma ingin membantu petugas kesehatan untuk meringankan tugasnya. Selain itu mungkin karena terlalu banyak titik yang potensial terjangkit Covid-19 di Kota Surabaya.

Tetapi tidakan Risma tersebut justru membuat masyarakat menjadi khawatir. Jangan-jangan Risma sudah terjangkit Covid-19 karena berpergian ke tempat-tempat yang sebelumnya sudah dinilai berpotensi sebagai pusat penyebaran Covid-19!

“Tidak mengada-ada,” faktanya bisa dilihat pakaian Risma tidak memenuhi standar WHO untuk penanganan Covid-19. Mungkin standar WHO terlalu berat, untuk Standar kesehatan di Indonesia saja Risma tidak memenuhi standar.

Penting untuk diketahui bersama, memakai pakaian atau biasa disebut dengan Alat Pelindung Diri/APD/Hazmat Suit tujuan pengugunaan APD untuk menghindari sekaligus mengurangi risiko tertularnya penyakit yang infeksius seperti Ebola, MERS, SARS, Flu Burung dan Covid-19.

Baca juga  Kabar Gembira: Bersyarat Ringan, Ojol Boleh Angkut Penumpang

Tidak main-main, pengunaan APD bagi para medis ketika bertugas menangani sebuah kasus kesehatan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) pasal 6, ayat 1 nomor 27 tahun 2017.

APD tersebut dirancang mengunakan teknologi tinggi agar APD dapat melindunggi penggunanya dari serangan virus dan partikel yang ukurannya sangat kecil. APD terdiri dari penutup kepala (Hoodie), pelindung wajah, pelindung mata (goggles), masker (respirator), sarung tangan, baju pelindung (gaun) dan sepatu boot.

Tidak hanya pakaian dan cara memakainya yang begitu ketat, untuk melepaskannya juga memiliki prosedur operasional. Setiap kali melepaskan bagian dari APD harus mencuci tangan menggunakan cairan antiseptic bakteri atau mikroorganisme.

Setelah semua lepas dari badan APD juga harus dicuci dengan cara khusus untuk menstrilkan APD dari jenis penyakit atau zat berbahaya. Sarung tangan, masker dan sarung kaki hanya boleh dipakai satu kali. Lalu untuk menjaga aspek lingkungan APD yang sudah dipakai juga akan dimusnahkan dengan procedural tertentu juga.

Sebagai tokoh panutan bagi masyarakat Surabaya, seharusnya Risma memberikan contoh yang baik. Jangan “krasak-krusuk” dan akhirnya terlihat lucu. Coba saja dibayangkan, resiko apa yang akan terjadi jika tidak menggunakan APD dalam menyemprotkan disinfektan di daerah yang rawan terjangkit Covid-19.

Secara aturan sudah menjadi hal yang sangat penting bagi petugas kesehatan untuk menggunakan APD agar terhindar dari penularan Covid-19. Jangan seolah-olah para pejabat di daerah mengambil kesempatan “aji mumpung” Covid-19 sedang hangat dibicarakan lalu pengen tenar.

 

Dajon Gunawan: Pejuang Demokrasi

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here