Anarko, Potensi Anak Muda Yang Mesti Diluruskan

0
anarko

Kita semua harus sepakat, ‘mencap’ tindakan corat-coret anarko kemaren sebagai perilaku tidak terpuji. Beberapa hari belakangan, sekelompok orang ini membuat ‘gaduh’ dan menambah kepanikkan dikalangan masyarakat. Ditengah pandemic virus corona, mereka memanfaatkan situasi kepanikan masyarakat dengan merusak fasilitas umum. Mereka juga menuliskan slebaran yang propokatif tidak terarah. Misalnya, ‘kill the rich,’ ‘sudah krisis saatnya memb***r,’’marxis otonomis’ dan banyak bahasa lainnya yang tidak begitu penting untuk dipaparkan.

Untuk menyoroti persoalan perilaku sosial yang menyimpang ini, tentunya masyarakat mengharapkan ketegasan polisi untuk menertipkan kembali kelompok anarko ini. Tidak berhenti disana, pihak kepolisian dan pihak terkait seperti Lembaga BPIP juga perlu mengembalikan pemahaman Pancasila kepada mereka yang telah terbukti melakukan tindakan propokatif dan mempecah-belah bangsa.

Meskipun pada dasarnya masyarakat bisa memahami ketidak puasan mereka terhadap kinerja pemerintah hari ini. Namun, cara dan tindakkan mereka telah melampaui batas-batas etika dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, mereka juga melanggar konstitusi negara yang tedapat dalam Undang-Undang Pasal 14 dan Pasal 15 Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau Pasal 160 KUHP dengan ancaman 10 tahun penjara.

Sebagaimana diketahui, kelompok anarko ini mengadopsi ideology yang tidak cocok diterapkan di Indonesia. Dulunya, ideology anarko memang berfungsi untuk menyelamatkan para kelompok buruh di tanah eropa. Ketika itu kelompok borjuis terlalu menekan kelompok proletar. Sebab itu, kelompok proletar membentuk aliansi buruh dan terbentuklah anarko. Anarko memang berpengaruh ketika itu. Dan anarko juga berhasil memperjuangkan ketidak-beradilan di daratan eropa. Hal tersebut dikarenakan kebudayaan eropa yang cocok dengan ideology anarko. Sedangkan di Indonesia ideology ini tidak cocok karena orang Indonesia lebih suka bergotong-royong dan pengkotak-kotakan interaksi antar kelas juga boleh dikatakan tidak ada. Misalnya saja dimata hukum, orang kaya, orang miskin atau orang yang ekonominya menengah, jika melakukan kesalahan maka akan ditindak secara hukum. Jika hukum negara dinilai terlalu berat untuk diterapkan dalam sebuah persoalan, masyarakat Indonesia lebih cenderung mengunakan hukum adat-istiadat atau hukum agama.

Baca juga  PAN Berpeluang Gabung di Pemerintahan Joko Widodo: Presiden Paling Tahu

Selain itu, anarko juga mengkosumsi buku-buku yang berkiblat pada pemahaman maxisme. Termasuk buku Tan Malaka. Namun, cara mereka menginterpretasikan pemahaman maxisme dan Tan Malaka sangatlah sesat. Tan Malaka memang menyuarakan hak-hak buruh sama dengan maxisme, bahkan Tan Malaka sampai-sampai membuat partai yang membela hak-hak buruh tersebut. Tetapi, ketika Tan Malaka memperjuangkan kaum buruh, kaum buruh itu memang dalam kondisi yang memprihatinkan. Selain itu, Tan Malaka juga dinilai lebih cerdas dan terukur dalam melakukan gerakan sosialnya. Sehingga Tan Malaka mampu mencatatkan namanya dalam catatan sejarah bangsa ini.

Dan tidak dapat dipungkiri pula, isi dari buku aksi masa memang berisikan profokatif, namun isi buku tersebut lebih kepada yang sifatnya revolusioner. Tan Malaka hanya meginginkan bangsa kita tidak terkungkung oleh sifat menjajah yang nantinya akan dihadapi pasca kemerdekaan. Tan malaka juga dinilai tidak memanfaatkan kondisi bangsa yang sedang rapuh seperti halnya sekarang, dimana masyarakat sedang dihadapkan dengan virus corona yang sangat mematikan. Masyarakat yang dimaksud tentunya termasuk buruh, pemilik perusahaan, dan para birokrat. Semuanya sedang fokus menghadapi virus corona.

Dalam kondisi yang seperti ini, yang dibutuhkan bangsa adalah saling berintegritas atau bersatu padu untuk menghadapi virus corona. Peran aktif anak-anak muda calon penerus bangsa juga perlu untuk dimaksimalkan. Menegakkan kedisiplinan, menjaga kebersihan dan bersenergi dengan tenaga kesehatan dalam mensosialisasikan bahaya virus corona, mungkin hal tersebut lebih manusiawi ketimbang menuruti perilaku kelompok anarko yang tidak jelas ini.

 

Dajon Gunawan: Aktifis Akar Rumput

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here