Milenial Harus ‘Melek’ Partai yang Melawan Covid-19 Secara Merata di Seluruh Indonesia

0
Milenial

Suara anak muda atau generasi milenial kini menjadi magnet khusus bagi partai politik. Demikian juga sebaliknya, para milenial hari ini juga mesti ‘melek’ politik agar tidak ketinggalan dengan perkembangan zaman. Generasi milenial yang maju adalah generasi yang suka membaca buku, mendengarkan berita terkini tentang partai politik, beropini dan melahirkan gagasan-gagasan yang ‘segar.’ Apalagi ditengah mewawabahnya virus corona atau covid-19 ini, sudah waktunya partai politik dan generasi milenial bersatu dan bergandengan tangan untuk turun ke masyarakat.

Sebagai catatan pada partisipasi pemilu tahun kemaren, sebanyak 75 juta generasi milenial yang berusia 17 sampai 35 tahun ikut serta dalam meramaikan perhelatan demokrasi tersebut. Artinya generasi milenial memang sangat mempengaruhi nasib bangsa kedepannya. Namun sayangnya pemerintah tidak melihat hal ini sebagai potensi untuk generasi melenial diikut berperan lebih aktif dalam melawan Covid-19.

Generasi milenial hari ini harus melihat dan menggali informasi partai-partai apa saja yang benar-benar turun ke masyarakat. Dan generasi milenial juga perlu menilai apakah partai tersebut telah merata membantu atau hanya sebagian masyarakat saja yang merasakan bantuan tersebut. Selain itu, generasi milenial juga perlu memberikan apresiasi kepada partai yang telah membantu masyarakat dalam menangani wabah Covid-19 ini. Tentunya, apresiasi tersebut berdasarkan hasil dari membandingkan antara partai satu dengan partai yang lainnya. Jangan sampai generasi milenial terpengaruh dari pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta dilapangan.

Hal ini penting dianalisis oleh para generasi milenial. Terkadang ada partai tertentu yang mendatangkan bantuan berton-ton beratnya, tetapi bantuan itu di produksi oleh negara lain. Hal ini sama saja tidak membantu masyarakat, padahal bantuan tersebut masih dapat diproduksi di dalam negeri. Dengan mengunakan produk dalam negeri, maka perekonomian dalam negeri juga ikut membaik. Hal ini tidak terpikirkan oleh partai tersebut sebelumnya.

Baca juga  SBY Lantik Demokrat Banten, AHY Beri Suntikan Semangat

Kemudian, beberapa partai hanya memberikan bantuan kepada daerah yang mayoritas masyarakatnya mendukung partai itu dalam pemilu tahun kemarin. Alasan ini penting diperhatikan oleh generasi melenial, karena tindakan partai yang seperti ini menyebabkan masyarakat menjadi terkotak-kotakan. Bahkan partai pemenang tersebut, tindakan dari oknumnya telah jelas-jelas mengunakan fasilitas negara untuk kepentingan ‘prestise’ partainya.

Generasi milenial juga perlu menganalisis, partai-partai apa saja yang bekerja dengan cara berbagi tugas dengan dokter atau rumah sakit. Misalnya, partai mengambil peran sebagai pihak yang membantu ketersediaan APD kesehatan dan dokter sebagai pihak yang bekerja sebagai eksekutor penanganan Covid-19.

Di zaman yang berkemajuan ini, partai politik tidak hanya sekedar bicara tentang merancang sebuah rencana, tetapi juga bisa langsung berhadapan dengan persoalan yang tengah dialami oleh masyarakat. Partai yang bisa bersentuhan langsung dengan keluhan masyarakat. Partai yang serius menghadapi Covid-19 bersama masyarakat. Partai yang memiliki koordinasi yang kuat sehingga DPD dan DPC di daerah-daerah tidak bergerak sendiri-sendiri. Hal seperti inilah yang mesti dipahami oleh generasi milenial untuk kedepannya.

Demikian juga dengan partai politik hari ini yang harus bekerja lebih keras, karena pemerintah tidak maksimal dalam menangani Covid-19 ini. Partai politik dan generasi milenial bisa melihat kebijakan pemerintah yang terlalu berbelit-belit sehingga masyarakat kebingungan menghadapi Covid-19. Tidak hanya kebinggungan, masyarakat juga mendapatkan beban yang lebih berat. Mulai dari beban menghadapi Covid-19 dan beban menghadapi ekonomi yang sulit. Terkhusus bagi kepala keluarga yang mesti befikir dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Anak dan istri juga perlu beri makan, sementara kepala keluarga tidak bisa bekerja lantaran kebijakan pemerintah melarang beraktifitas di luar rumah.

Baca juga  Tekor US$ 350 Juta, Neraca Dagang: April 2020 Impor Anjlok 19%

 

Jamaluddin Rumi: Orang Pinggiran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here