Pemerintah Telah ‘Mati,’ Rakyat Bergerak Sendirian Melawan Virus Corona

0
LOCKDOWN

Masyarakat dan puluhan pemuda Desa Tublopo, Kecamatan Amanuban Barat, NTT terus bergerak melawan virus corona atau covid-19. Masyarakat dan pemuda ini melakukan penyemprotan desinfektan secara menyeluruh sampai kesudut-sudut kecil pemungkiman warga. Hal ini membuktikan bahwa, tanpa adanya perintah yang jelas dari pemerintah pusat, para masyarakat dan pemuda ini terus bergerak.

‘Seirama’ dengan Desa Tublopo, pemuda di Desa Kawengen di Semarang juga melakukan langkah antisipasi penyebaran Covid-19 dengan melakukan penyemprotan disinfektan ke rumah warga. Kegiatan pemuda ini dinilai luar biasa bagi masyarakat Semarang yang membutuhkan uluran tangan dalam menghadapi Covid-19. Selain menyemprotan disinfektan, para pemuda juga mensosialisasikan agar warga mencuci tangan dan mengunakan masker jika berpergian.

Cerita menarik lainnya datang dari pelajar SMK di Demak Subang, pelajar ini malah membuat dan menjahit sendiri masker untuk dibagikan kepada masyarakat. Pelajar ini menunjukan kebolehan dan keterampilan mereka kepada hal-hal yang positif. Mereka tidak tinggal diam ketika bangsanya sedang dirundung kesakitan. Sementara, pemerintah malah mengimpor masker dari luar negeri yang beratnya sampai berto-ton.

Kemudian, dari desa magetan, ‘sakin’ semangatnya masyarakat untuk berjuang melawan Virus Corona sampai-sampai masyarakat menutup akses jalan keluar-masuk desa. Mungkin karena sedikit emosional, oknum warga sampai salah menuliskan LOCK DON’T yang seharusnya bertuliskan LOCKDOWN. Tetapi pada dasarnya warga tetap bersemangat. Hal ini karena di desa mereka masuk dalam zona merah Covid-19. Di desa tersebut terdapat sedikitnya 20 kepala keluarga dan mereka melakukan isolasi mandiri.

Sudah sebegitunya masyarakat menghadapi Virus Corona, namun pemerintah tidak hadir untuk sekadar memberikan apresiasi terhadap niat baik masyarakat ini. Pemerintah dinilai lebih mementingkan hal-hal yang lain ketimbang menyelamatkan nyawa masyarakatnya. Misalnya saja tentang pembangunan proyek ibu kota baru. Pembanguan ibu kota baru ini akan menghabiskan dana triliunan rupiah. Pemerintah seharusnya mengalihkan dana pembangunan ibu kota baru untuk menghadapi wabah Covid-19 ini. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh pemerintah.

Baca juga  Peran Menhan Lebih Ditunggu Ketimbang BIN untuk Usir Virus Corona dari Indonesia

Beban masyarakat juga ditambah dengan kebijakan iuran BPJS yang berputar-putar. Awalnya pemerintah menaikan iuran BPJS lalu menurunkannya kembali. Kebijakan ini sangat membingungkan masyarakat. Dan jika ternyata iruran BPJS kembali diturunkan, bagaimana kelebihan iuran BPJS yang telah dibayarkan oleh masyarakat!

Sebelumnya, MA mengabulkan judicial review atas perpers 75/2020 pada awal Maret 2020 untuk persoalan BPJS ini. Namun digugat oleh beberapa kalangan masyarakat. Dalam putusannya, MA membatalkan kenaikan iuyran BPJS yang sudah berlaku sejak 1 Januari 2020.

Tidak hanya itu, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly juga kembali ‘berulah.’  Dimasa yang sangat sulit ini, Yasonna malah ingin mengeluarkan narapidana dari jeruji besi. Mungkin maksudnya ingin menyelamankan narapidana dari ancaman Virus Corona. Tetapi, keinginan Yasonna itu tidak tepat, karena narapidana dinilai lebih aman di dalam jeruji besi ketimbang mereka dikeluarkan. Narapidana ini memungkin untuk menyebarkan Virus Corona semakin meluas. Alasannya, karena narapidana ini sudah terbiasa dilingkungan yang tidak baik.

Sebab itu, mungki pemerintah telah ‘mati’ dan masyarakat tidak bisa mengharapkan apa-apa dari pemerintah. Hari ini, masyarakat akan berjalan sendiri dan masyarakat akan lawan Virus Corona tanpa uluran tangan pemerintah yang tidak serius.

 

Dajon Gunawan: Aktivis Pembela Rakyat Kecil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here