Yasonna Laoly Kembali ‘Bertingkah’ di Kala Wabah Covid-19

0
yasona-laoly
Menteri Hukum & HAM Yasonna Laoly

Kementerian Hukum dan HAM Yasonna Laoly memberikan keringanan dan bahkan membebaskan sejumlah tahanan ditengah penyebaran virus corona atau Covid-19. Sementara itu, kasus covid-19 di Indonesia telah mencapai positif 1.677 dan meninggal 157. Data ini diambil tanggal 1 April 2020 Pukul 15.53 yang diakse dari covid19.go.id.

Yasonna Laoly menyatakan, hingga hari ini sebanyak 5.556 narapidana telah dikeluarkan dan dibebaskan. Menurut data dari lembaga pemasyarakatan, yang berhak menerima asimilasi dan hak integras bersal dari provinsi Sumatera Utara sebanyak 4.730 orang, disusul provinsi Jawa Timur 4.347 orang, serta provinsi Jawa Barat 4.014 orang. Sayangnya, Yasonna tidak membeberkan data dari 5.556 narapidana tersebut lebih lanjut.

Kemudian menanggapi hal ini, Yasonna dinilai sama saja dengan menambah beban masyarakat yang sedang risau menghadapi Covid-19. Bagaimana tidak menambah beban masyarakat! Narapidana adalah orang-orang yang telah melakukan tindakan criminal yang mesti di hukum sesuai dengan tindakan hukum yang berlaku. Lalu sekarang dilepaskan begitu saja.

Dengan dalih pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19, Yasonna menggunakan peraturan nomor 10 tahun 2020 untuk membebaskan narapidana tersebut. Kebijakan Yasonna ini benar-benar telah menimbulkan kegaduhan sosial yang baru.

Selain itu, kebijakan Yasonna ini tidak sesuai dengan prinsip pemberian sangsi terhadap pelanggar hukum. Kebijakan ini nantinya juga akan berpotensi menyebabkan para pelaku kejahatan malah semakin banyak. Kekacauan sosial semakin meningkat dan tidak terkendali sama sekali. Secara Psikologi, orang yang telah melakukan kejahan akan terus melakukan kejahatan selagi tidak diberi sangsi hukum yang tegas.

Kemudian, peraturan ini juga dinilai rancu, karena sebelumnya sudah ada aturan hukum untuk mengurangi masa tahan dengan pemberian grasi dan amnesti. Grasi merupakan pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden. Grasi juga memiliki aturan yang kuat. Grasi diatur di dalam Pasal 14 Ayat (1) UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 (UU Grasi). Sedangkan Amnesti merupakan pengampunan atau penghapusan hukuman yang diberikan kepala negara kepada seseorang atau kelompok orang yang telah melakukan tindak pidana tertentu. Amnesti diatur di dalam Pasal 14 Ayat (1) UUD 1945. Kebijakan Yasonna untuk membebaskan narapidana ini seolah-olah telah menginjak-injak aturan yang telah ada sebelumnya.

Baca juga  Update Corona 21 Maret 2020: 450 Positif, 38 Meninggal, 20 Sembuh

Selain itu, Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produkasi Direktorat Jenderal Permasyarakatan Yunaedi seolah bersekongkol dengan Yasonna Laoly. Yunaedi mengatakan, anggaran narapidana dapat menghemat Rp 260 Miliar. Hal ini terlihat aneh, demi menghemat uang Rp 260 Miliyar Yasonna dan Yunaedi berkeinginan untuk melepas narapidana. Orang yang jelas-jelas telah merugikan bangsa dan negara.

Untuk kebijakan Yasonna yang dinilai sangat ekstremis ini juga akan melukai hati penegak hukum lainnya. Misalnya saja dari aparat kepolisisan dan militer yang telah ‘bercucuran air peluh’ untuk menangkap pelaku kriminalisasi agar jera atas perilakunya. Hal ini ibarat ‘nila yang telah terpisah dari susu, lalu Yasonna memasukan nila itu kembali ke dalam susu yang telah bersih.’ Akal Yasonna benar-benar telah tersiram air comberan.

Selain itu, kebijakan ini juga akan membuka peluang bagi oknum aparat hukum untuk melakkukan tindakan kecurangan dengan cara melakukan pungutan liar. Misalnya, jika terdapat narapidana yang memiliki banyak uang, maka narapidana itu dapat menyogok aparat terkait sehingga bisa bebas.

Oleh karena itu, masyarakat tidak boleh tinggal diam terhadap kebijakan Yasonna ini. Terutama bagi LSM-LSM yang berada di garis terdepan dalam membantu masyarakat untuk menyuaarakan ketidak beradilan para penguasa yang zalim ini.

 

Dajon Gunawan: Aktivis Demokrasi Beradap

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here