Berdamai dengan Corona: Sebuah Narasi yang Seharusnya Tidak Layak untuk Muncul

0
virus corona mematikan

Narasi berdamai dengan corona berkali – kali kita dengar. Langsung dari Presiden kita tercinta. Sekali lagi saya tegaskan, bukan dari para menterinya, tapi langsung dari pemegang tampuk kepemimpinan tertinggi di negara ini, Presiden Joko Widodo.

Narasi itu bisa ditafsirkan dalam dua hal yang bersifat kontradiktif. Optimis dan Pesimis.

Optimis karena berdamai dianggap sebagai cara paling ampuh supaya tidak mati kutu karena stress. Dengan berdamai orang – orang akan terbiasa dengan apa yang oleh banyak orang dikatakan sebagai “the new normal”.

Pesimis karena di dalam kata berdamai itu diam – diam terkandung arti “corona tidak mungkin bisa diatasi”. Ya, pemerintah sudah pusing tujuh keliling mencari cara supaya tidak ada kasus corona baru lagi, yang meninggal berkurang dan yang sembuh bertambah banyak.

Banyak negara di dunia kalang kabut. Tidak kunjung selesai mengatasi corona. Tetapi bukan berarti tidak ada yang berhasil dalam menghadapi corona.

Tiongkok, yang menjadi titik awal persebaran virus. Saat ini, walaupun beberapa kali terdengar muncul gelombang kedua persebaran corona, saya kira termasuk beberapa negara yang berhasil mengatasi corona. Rumah sakit – rumah sakit darurat yang dibuat hanya dalam hitungan hari itu sudah tutup lama. Mereka juga sudah mulai berkegiatan seperti biasanya.

Selain Tiongkok ada juga Jerman. Tepat pada hari Sabtu, 16 Mei 2020 yang lalu Bundesliga sudah boleh diselenggarakan lagi. Pertandingan olahraga, yang fungsinya tidak lebih dari sekadar entertainment, sudah boleh jalan, bukankah itu indikator yang paripurna dari keberhasilan sebuah negara dalam mengatasi bencana pandemi ini.

Negara yang benar – benar menjadi teladan paripurna bagi berhasilnya menghadapi corona adalah Vietnam. Kasusnya ribuan. Tidak ada satu pun kasus kematian.

Baca juga  Jokowi Bisa Dilengserkan Jika Sengaja Pertaruhkan Keselamatan Rakyat Dari Virus Corona Demi Pariwisata

Yang jelas, negara – negara yang berhasil menghadapi corona tersebut membuat kebijakan ataupun aturan yang jelas, akurat dan tegas. Tidak mencla – mencle dan retoris.

Dengan adanya bukti adanya negara – negara yang berhasil mengatasi pandemi corona menunjukkan bahwa pandemi ini bisa ditangani. Tentu saja kuncinya adalah jika ditangani dengan serius.

Maka, narasi berdamai dengan corona—walaupun bisa ditafsirkan dalam artian yang positif—seharusnya tak perlu muncul dari pemerintah dan negara. Mengapa seperti itu? Ya tentu saja karena, mereka pemerintah. Sekumpulan orang yang sudah dipasrahi untuk mengelola negara.

Negara itu dibuat dan ada tentu saja untuk melindungi rakyat yang hidup di negara tersebut. Bagaimanapun susahnya, mau tidak mau, tidak bisa tidak, keamanan dan kenyamanan hidup rakyatnya adalah nomor satu dibandingkan hal– hal lain, kepentingan – kepentingan pribadi para pengelola negara–misalnya.

Corona, sesulit apapun itu mau tidak mau harus ditangani, diselesaikan. Karena berdamai tak akan membuat bahaya corona bisa jadi tidak berbahaya. Virus itu tanpa kompromi. Mau bersikap baik, atau bersikap dengan sangat baik sama si virus, dengan menyediakan inang – inang yang mudah didapatkan bagi si virus, tetap saja yang namanya virus tetap virus. Kalau masuk ke dalam tubuh akan membahayakan tubuh. Resikonya tidak tanggung – tanggung, bisa sampai meregang nyawa.

Jika kita melihat upaya yang dilakukan pemerintahan kita, apakah pemerintah sudah maksimal dalam menangani bencana ini ? Dengan sekilas, sangat mudah kita simpulkan, belum.

PSBB adalah sebuah tindakan setengah lepas tanggung jawab dari pemerintah. Pemerintah tidak berani karantina wilayah dengan serius karena tidak mau menafkahi rakyatnya. Dengan PSBB yang lebih longgar rakyat bisa bekerja. Yang sudah barang tentu banyak celah bagi rakyat untuk berkerumun.

Baca juga  Indef Sebut Kebijakan Jokowi Berbahaya Bagi Anak Cucu

Nyatanya, provinsi yang sudah memutuskan PSBB pun bisa masyarakatnya bisa kumpul – kumpul. Hanya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada restoran cepat saji yang sudah beroperasi selama 30 tahun, yang akhirnya tutup.

Belum lagi kebijakan perihal mudik yang tidak jelas. Antara boleh dan tidak. Yang akhirnya keputusan tidaknya muncul telat. Ketika sudah begitu banyak pemudik sampai kampung. Dan akhirnya memberikan kontribusi bagi si corona untuk mendapatkan inang – inang baru.

Dengan upaya – upaya yang jauh dari kata maksimal itu, bagaimana bisa narasi berdamai corona muncul dengan begitu mudahnya? Kecuali jika memang pemerintah dan negara tidak mau sepenuhnya bertanggung jawab atas keselamatan rakyatnya.

 

Dani Ismantoko: Penulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here