Indonesia Terserah dan Perang Semesta Melawan Pandemi

    0
    corona virus

    Bahu membahu. Gotong royong. Pilihan kata itu indah ditulis, namun sulit dilakukan. Tidak semudah bersilat kata, maknanya mendalam. Butuh pengorbanan, untuk sampai pada tujuan bersama.

    Pandemi hadir sebagai kejadian yang tidak pernah disangka. Meski banyak kisah wabah di masa lalu, yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran. Kita tidak juga mampu untuk segera belajar dengan cepat.

    Setelah sekian lamanya dikurung, dalam pemenjaraan fisik, melalui physical distancing, manusia memang sulit menghindar dari sifat alamiahnya untuk menjadi homo socius.

    Jika situasi kali ini, dianggap layaknya sebagai palagan perang. Maka dalam ruang pertarungan melawan jasad renik yang tidak kasat mata, konsep perang semesta menjadi solusi yang dapat diandalkan.

    Wabah ini menjadi musuh bersama, yang harus segara dikalahkan. Model karantina dan isolasi, adalah siasat jangka pendek, untuk memperlambat penularan, menjadi upaya melandaikan kurva -flattening the curve.

    Perang Bersama

    Jika mengacu pada pilihan strategi perang semesta, maka skemanya mempergunakan kemampuan seluruh rakyat, ditambah mekanisme gerilya. Kenapa gerilya? karena logistik perang terbatas, harus efektif.

    Durasi perang yang tidak pernah diketahui kapan akan berakhir, membuat kita menyadari bahwa perang ini akan berlangsung lama. Perlu nafas panjang, serta menjadi tugas kita bersama. Layaknya lari marathon.

    Dengan begitu, perang semesta sekurangnya dilakukan dalam dua ranah besar, yakni: (i) melaksanakan perang-perang kecil (gerilya) berulang kali secara dinamis, tertuju pada sasaran, dan (ii) membutuhkan dukungan publik.

    Pada perang fisik, hal ini mungkin sekali dijalankan. Kehendak bersama dan perasaan senasib sepenanggungan, memudahkan sikap kerjasama. Kini berbeda, musuhnya seolah nampak imajiner. Terdapat kesulitan baru, egoisme.

    Meski tidak terlihat nyata, namun dampak wabah terbilang dahsyat. Konfirmasi penularan, hingga laju kematian menghadirkan situasi mencekam. Perang psikologis terjadi, sendi kepercayaan digoyahkan.

    Baca juga  Kabar Hoax Jokowi dan Republik Salah Data

    Pada perang semesta, setidaknya; (i) ada kesatuan komando yang memberi arah gerak. Disamping itu, (ii) para pemimpin kelompok, menjadi role model yang ditiru. Hingga akhirnya (iii) solidaritas ditumbuhkan, masyarakat membantu melindungi para pejuang.

    Kontribusi dan pelibatan massa di dalam konsep perang semesta, terletak pada kepatuhan untuk mengikuti instruksi, dan memberi ruang perlindungan yang dibutuhkan dari para pejuang perang. Bagaimana kita saat ini? Apa sumbangsih kita?

    Indonesia Terserah

    Dalam perang modern menghadapi pandemi, kita diliputi banyak ketidakpastian. Terdapat segudang ketidaktahuan. Sampai kapan ini akan terjadi? Seperti apa bentuk kehidupan kita nanti?

    Setelah seluruh kegiatan dihentikan secara paksa. Jalanan yang sebelumnya sepi, mendadak mulai berdenyut. Ajakan untuk berdamai, hingga hidup berdampingan, terdengar disuarakan. Diksi new normal dimaknai sebagai kemampuan beradaptasi.

    Padahal, virus terus mengembangkan kemampuan bermutasi, untuk masuk ke ruang hidupnya, di dalam tubuh manusia. Jika berharap pada vaksin dan obat penawar, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

    Tidak bersabar adalah sifat manusia. Sebagian dikonstruksi karena problematika ekonomi. Apa boleh, harus diakui kapasitas kita tidak cukup mampu untuk mengatasi persoalan ini. Seleksi alam.

    Menuju herd immunity? Bisa jadi, meski berisiko besar. Perjalanan mudik dilarang, tetapi bandara udara sudah mulai dibuka. Pasar-pasar kembali bergeliat. Interaksi massal terjadi, bahkan rela berjejal untuk prosesi penutupan restoran cepat saji.

    Kebal dan bebal? Tanda pagar keprihatinan #IndonesiaTerserah berkumandang di jagat maya. Tenaga medis bersuara, mereka garda terdepan pelayanan, sekaligus penjaga gawang dari kesadaran kolektif pencegahan penularan wabah.

    Perang kali ini, seharusnya menempatkan publik sebagai elemen paling penting, untuk berdisiplin menjaga kesehatan bersama. Edukasi penting dalam membangun kesadaran.

    Baca juga  LPG 3 Kg Dalam Jeritan 44 Juta Rakyat Miskin

    Sementara itu, regulasi perlu ditegakkan, guna menciptakan kebiasaan. Kekuasaan harus mampu merumuskan prioritas kebijakan, yang ditujukan untuk melindungi segenap penduduk.

    Tanda pagar #IndonesiaTerserah memberi isyarat, bahwa; (i) kita tengah berspekulasi dengan bahaya, (ii) satire bagi kegagalan pengelolaan urusan publik, (iii) kepedihan melihat pengabaian publik, hingga (iv) hilangnya harapan bersama untuk saling menjaga, kini kembali menjadi tanggung jawab individual.

    Jangan menyerah pada peperangan kali ini, kita membutuhkan artikulasi dari kolaborasi bersama seluruh pihak. Kita tidak berharap mengibarkan bendera putih, lantas disusul bendera kuning, berada lebih tinggi dari bendera merah putih.

    Pada bagian akhir, para insan kesehatan, tentu tidak bisa mundur ke belakang. Terikat sumpah profesi, dan kode etik profesional. Tetapi mereka kehilangan dukungan. Perang semesta semestinya menjadi perang bersama!

    Yudhi Hertanto: Penulis

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here