Kualitas Pendidikan Indonesia Menurun, FSGI: Akibat Corona

0
pendidikan

Politik Today – Pandemi virus corona (covid-19) dinilai turut berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di Indonesia.

Proses pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan saat ini menjadi kesulitan tersendiri bagi guru maupun siswa.

Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim menyatakan, metode PJJ yang diterapkan selama pandemi Covid-19 menyebabkan guru maupun siswa tak maksimal dalam menjalankan proses pembelajaran. Minimnya akses teknologi hingga keterbatasan materi yang disampaikan menjadi sejumlah kendala.

“Sudah pasti terjadi penurunan kualitas pengetahuan akibat corona. Pembelajaran dilakukan jarak jauh dan faktanya guru, siswa, orang tua, gugup dan gagap menghadapi model pembelajaran seperti itu,” ujar Satriwan saat dihubungi awak media, Jumat (1/5).

Dalam penyampaian materi, Satriwan mengatakan, guru terpaksa memadatkan materi pembelajaran dalam kurikulum yang mestinya 10 bab menjadi lima bab saja. Pengurangan materi dalam kurikulum ini juga diatur dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

Meski pada praktiknya, guru kerap kali merasa bertanggung jawab untuk menuntaskan seluruh materi melalui PJJ pada siswa. Namun, materi yang diterima siswa pun tak maksimal. Terlebih, jam belajar siswa selama PJJ banyak berkurang.

Satriwan menuturkan, jika biasanya siswa belajar dari pukul 7.00 pagi 16.00 sore, kini waktu belajar dibatasi hanya sampai pukul 13.00 siang. Mata pelajaran yang diajarkan pun terbatas hanya satu hingga dua per hari.

Belum lagi penilaian aspek lain dari aktivitas siswa. Sejak PJJ, guru tak dapat memantau langsung aktivitas siswa yang dapat menjadi indikator penambahan nilai.

“Proses biasanya ada dialog, diskusi, debat, sekarang prosesnya serba terbatas,” katanya.

Baca juga  Pendidikan Menanamkan Konstitusi yang Baik

Untuk itu, Satriwan menyarankan agar Kemdikbud mulai menyusun kurikulum darurat untuk menghadapi kejadian yang tak bisa diprediksi seperti pandemi covid-19. Kurikulum darurat ini diyakini akan memudahkan proses pembelajaran bagi siswa maupun guru.

Materi yang diajarkan dapat dilonggarkan dan aspek penilaian tambahan dapat menggunakan indikator lain seperti kegiatan siswa selama berada di rumah.

“Misalnya melonggarkan bobot materi yang diajarkan, kemudian penilaian dimodifikasi lebih ke life skill bagaimana siswa bantu orang tua, partisipasi di rumah, dan sebagainya,” ucap Satriwan.

Serupa, pengamat pendidikan Indra Charismiadji menilai kualitas pengetahuan siswa memburuk akibat pandemi covid-19. Keterbatasan akses teknologi menjadi faktor yang paling memengaruhi.

“Selama ini sudah buruk dan jadi lebih buruk karena mereka tidak paham soal teknologi,” katanya.

Indra menuturkan, pemerintah mestinya segera menyusun kebijakan untuk mengatasi ‘kegagapan’ guru maupun siswa dalam menerapkan PJJ. Namun harus ada data yang jelas dan akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan yang akan diterapkan. Jika tidak, dampaknya akan terjadi seperti penerapan PJJ selama ini yang berujung tak maksimal.

“Pemerintah harusnya sekarang sudah mulai kumpulkan data tentang kondisi. Berapa banyak yang belajar gunakan teknologi, guru gimana, siswa gimana, dengan data itu jadi dasar untuk membuat kebijakan ke depan,” tutur Indra.

 

(YR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here