Luhut Lawan Said Didu, Antara Kemelut dan Rindu

0
Luhut Binsar Panjdaitan
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjdaitan

“Kok cepat sekali. Apakah karena Pak Luhut pelapornya?” Tegas Nasrullah, selaku kuasa hukum Said Didu, pada Jumat (8/5).

Keluhan itu tampaknya memantik simpati para praktisi hukum. Buktinya, hanya berselang beberapa hari setelah pernyataan itu beredar di ruang publik, 250 pengacara siap urun rembuk untuk mendukung Said Didu, dan di antara mereka berdiri para kesohor; dari Bambang Widjojanto, Denny Indrayana, Amir Sjamsudin, Ahmad Yani, hingga Munarman.

Kenyataan di atas setidaknya menunjukkan kepada kita bahwa Luhut Binsar Panjaitan, di kesempatan kali ini, dipertemukan dengan formasi lawan yang tidak saja setimpal, tetapi juga mengerikan. Amunisi itu belum termasuk dukungan Netizen yang, Anda tahu sendiri, punya cocot lebih gesit dari kerumunan Filsuf mana pun di seluruh dunia.

Luhut Binsar Panjaitan mungkin punya banyak waktu luang, sehingga alih-alih menyikapi dengan cara elegan kritikan yang digencarkan oleh Said Didu—bahwa ia lebih mementingkan uang dan proyek pemindahan Ibu Kota Negara, atau merancang kinerja yang ampuh untuk menghadapi pandemi, Ia justru melaporkan ‘kawannya’ tersebut ke pengadilan, dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Seperti arus sungai yang alpa dijaga dan dikawal oleh manusia, belakangan ini nama baik para pejabat memang punya potensi lebih besar untuk tercemar. Beberapa di antara mereka, sependek ingatan saya, sering kali memilih jalan terjal ke pengadilan daripada menjaga nama baik dengan cara yang paling sederhana dan memungkinkan; berlaku baik.

Tetapi, khusus tegangan yang terjadi antara Said Didu kontra Luhut Binsar Pandjaitan, tak bisa kita anggap semata karakter anti kritik yang tercermin dalam segala tindak-tanduknya. Sebab, sejatinya ada nilai yang hendak disasar dan diajar kepada kita sebagai Rakyat yang patuh—baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Baca juga  Panglima Serdadu Eks Trimatra Dukung Said Didu Lawan Kezaliman

Pada salah satu hari paling menyenangkan dalam hidup, Nenek saya pernah menyampaikan petuah bijak dan kelak menjadi pedoman yang saya genggam erat-erat. Bahwa; “Hidup selalu butuh kemelut. Sebab, pelbagai masalah yang menempa kerap membimbing hidup kita benar-benar menjadi hidup.” Seperti petuah bijak pada umumnya, kalimat itu memang terdengar njilemet sekaligus memukau.

Namun ternyata, pada gilirannya, ungkapan yang penuh dengan stamina itu bisa sampai pada telinga Luhut Binsar Panjaitan—mungkin dengan versi yang berbeda. Dan ia menerapkannya dengan cara yang juga berbeda; membuat masalah menjadi sedikit runyam. Luhut mengolah masalah itu menjadi sejenis tantangan, buktinya Ia memilih menguras waktu, tenaga, dan dana untuk melaporkan Said Didu.

Tantangan selalu baik dan perlu untuk siapa pun. Pada porsinya yang seimbang, ia memacu lalu memicu syaraf-syaraf adrenalin yang konon bisa meredakan sedikit stres—satu ancaman yang selama terjadinya wabah sering diidap oleh banyak manusia.

Itu adalah ajaran yang berkenaan dengan kesehatan, yang bisa dipetik secara langsung dari kemelut yang diperagakan oleh dua orang yang selalu memiliki kharisma dan pesona. Lalu ajaran moralnya—harus ada ajaran moral karena keduanya politisi—adalah; selalu bikin ulah agar eksistensi Anda benar-benar terjaga dengan baik.

Luhut Binsar Panjaitan barangkali, di balik kurangnya rasa sabar dalam menyikapi masukan (maklum Libra), juga hendak menunjukkan satu gejolak purba yang ia rasakan pada Said Didu; rindu.

Rindu sebagai kawan, rindu sebagai lawan.

Ia mungkin ingin bertatap muka dengan Said Didu, atau bercakap-cakap dan bercengkerama dengan saling melemparkan kesaksian di muka hakim. Rindu, kita tahu selalu menyita satu ruang yang intim di hati manusia, salah satu hasrat yang sulit terbendung. Dan, kebijakan untuk menjaga jarak dan interaksi, turut menyulut romansa itu hingga titik paling nyala, yang kobarnya begitu besar.

Baca juga  Batal Hadiri Debat Trending, Netizen: Jangan Pengecut

Mungkin, dalam versi yang lebih keren, Luhut Binsar Pandjaitan bisa memodifikasi sajak Rendra untuk kepentingannya; Engkau telah menjadi racun bagi proyekku/ Apabila aku dalam kangen tapi lagi pandemi/ Itulah berarti/ aku tungku tanpa api. Lalu, Said Didu bisa membalas dengan menyitir puisi Joko Pinurbo; Jarak itu sebenarnya tak pernah ada/ pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh putusan hakim.

Bravo, Pak Luhut! Bravo, Pak Said Didu! Tetaplah menjadi dua contoh yang baik bagi Indonesia.

Muhammad Nanda Fauzan: Penulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here