Mengais Rezeki Saat Pandemi

0
pedagang

Bikin kita yang hidup nyaman, malu untuk mengeluh.

Tak ada yang menyangka, kondisi sulit Kota Wuhan, China saat pertama kali virus Corona mewabah kini dialami oleh Indonesia. Sejak Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama pada bulan Maret 2020 lalu, hingga saat ini jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sudah mencapai lebih dari 7 ribu. Jumlah ini pun diprediksi akan terus bertambah hingga waktu yang belum jelas.

Kondisi ini memukul telak masyarakat Indonesia yang bisa dibilang tak sigap dalam menghadapi situasi pandemi ini. Perekonomian luluh lantak seiring dengan dikeluarkannya aturan karantina mandiri #dirumahaja.

Mayoritas masyarakat Indonesia yang masih mengandalkan pendapatan harian harus menelan pil pahit. Salah satunya adalah pedagang kaki lima. Ketika dalam kondisi normal, para PKL biasa mendapatkan penghasilan dari jualan mereka setiap harinya. Namun sejak ada aturan karantina mandiri, mereka mendadak kehilangan mata pencaharian.

Beragam kisah haru dan menyayat hati pun harus kita dengarkan dari hari ke hari. Kisah tentang PKL yang kesulitan mengumpulkan pundi-pundi rupiah seakan mulai akrab di telinga. Salah satunya diwakili dari ketiga kisah ini.

1.Tak punya kulkas, pedagang telur gulung ini terpaksa menggoreng telurnya setiap hari meski tak ada yang beli

Bulan Maret lalu akun Twitter @fullmoonfolks membagikan kisah sedih tentang seorang pedagang telur gulung yang dagangannya sama sekali tak laku seminggu penuh. Namun sedihnya, ia tak bisa menyimpan telur-telur miliknya tersebut terlalu lama karena ta memiliki kulkas.

Meski tak ada yang membeli, setiap hari ia tetap harus menggoreng telur-telur tersebut. Sudah rugi bahan baku, namun pemasukan tak ada yang masuk.

2.Warung makan juga mendadak sepi, orang-orang lebih memilih selalu di rumah demi karantina mandiri

Sebuah foto yang menggambarkan kondisi tersebut sempat diunggah oleh Kantor Berita Antara. Deretan warung makan di sebuah daerah di Jakarta mendadak sepi pengunjung menyusul kebijakan work from home yang diberlakukan mayoritas perkantoran di Jakarta.

Baca juga  Virus Corona Darurat Global, Pemerintah Diminta Jangan "Santuy".

Biasanya deretan warung makan ini ramai dengan karyawan-karyawan yang berasal dari komplek perkantoran sekitar. Namun sejak banyak yang melakukan work from home, sejumlah warung makan ini harus kehilangan pelanggan.

Atau mereka yang biasanya berlangganan makan di sana, kini memilih untuk tetap di rumah. Di kondisi seperti sekarang, apalagi Jakarta menjadi pusat persebaran virus Corona, makan di luar bisa disamakan dengan tindakan bunuh diri. Jadi, apa lagi yang bisa diharapkan oleh para pedagang makanan kaki lima ini?

Tak punya pemasukan dan biaya hidup yang tinggi di Ibu Kota, para pedagang makanan ini terpaksa menutup warung mereka dan memilih pulang kampung. Meski di kampung halaman belum tentu juga mendapatkan penghasilan.

Kini kondisi komplek warung makan tersebut hanya diisi oleh gerobak-gerobak kosong yang menjadi saksi bisu betapa wabah virus ini meluluhlantakan kesejahteraan orang banyak.

3.Ada pula yang banting stir jadi petani, meski sadar itu bukan kemampuan yang dimiliki

Cerita berbeda datang dari sejumlah pedagang makanan dan minuman di sejumlah pantai yang ada di Gunung Kidul, Yogyakarta. Mereka biasanya memiliki penghasilan cukup dengan menjajakan dagangan mereka di pantai-pantai Gunung Kidul.

Pendapatan harian bukan masalah besar, sebab sebagai tempat wisata, sejumlah pantai di Gunung Kidul hampir tak pernah sepi pengunjung. Sementara kalau libur panjang tiba, jangan tanya lagi seperti apa ramainya sejumlah pantai ini.

Namun situasi kini tak lagi mengenal hari libur panjang. Baik di hari biasa, maupun libur panjang, wisata pantai di Gunung Kidul mendadak sepi. Otomatis para pedagang makanan dan minuman ini kehilangan mata pencaharian mereka.

Tapi mereka tak putus asa. Tak bisa lagi berjualan makanan dan minuman di pantai dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan, mereka banting stir menjadi petani. Seperti kisah yang diungkapkan oleh akun Twitter @R_WarungKopi, para pedagang ini kini menjadi petani dadakan di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta.

Baca juga  Beradaptasi dengan Corona, Solusi Terakhir Pemerintah?

Lalu apakah masalah akan selesai ketika para pedagang ini memilih menjadi petani dadakan? Tentu tidak semudah itu. Hasil bumi yang mereka tanam tak serta merta bisa langsung mendatangkan keuntungan. Mereka akan butuh waktu untuk panen dan butuh waktu juga untuk menjualnya. Kondisi ini jelas tak begitu membantu, tapi mungkin hal itulah yang menjadi satu-satunya pilihan mereka.

4.Ketiga kisah tentang pedagang kaki lima yang terdampak mewabahnya virus Corona seakan menampar kita semua yang sampai detik ini masih bisa hidup enak

Paling hanya rasa bosan saja yang menyerang selama di rumah saja. Di saat kita masih bisa makan enak dan penghasilan bulanan yang tetap ada meski tetap di rumah saja, ada banyak orang di luar sana yang kesulitan menyambung hidup mereka dari hari ke hari.

Para pedagang kaki lima ini mungkin tak pernah punya pilihan di hidup mereka. Pekerjaan yang mereka jalani memang hanya bisa menghidupi mereka secara harian. Di kondisi seperti ini, bantuan bagi mereka tentu sangat berarti.

Beberapa bulan belakangan cukup banyak orang mengkampanyekan untuk membantu beberapa profesi yang terdampak kondisi krisis ini. Namun bantuan bagi para pedagang kaki lima jarang digaungkan. Walaupun ada, tapi bantuan untuk para PKL bisa dibilang masih minim. Mereka mungkin masih memiliki dagangan untuk dijual, namun belum tentu ada yang membeli dan mendapat pemasukan di hari tersebut.

Di kondisi seperti ini, kita hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Bagi yang mampu, diharapkan sedikit bermurah hati menolong mereka yang nafasnya sudah kembang kempis.

Satu hal yang pasti untuk menghadapi kondisi seperti ini adalah cukup dengan bertahan. Tak perlu kata-kata motivasi untuk semangat menyongsong hari yang lebih baik ke depan. Sebab kita tak pernah tahu kapan hari yang baik itu akan datang. Cukup bertahan saja dan sesekali saling menguatkan. Karena sekarang, bertahan saja sudah cukup sulit dilakukan.

Baca juga  Kabar dan Nasib Jutaan TKI di Negeri Jiran

Dan semoga mereka yang kini sedang kesulitan, diberikan cukup kekuatan.

 

 

Prisqa Wirastami: Penulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here