Tantangan Implementasi Pencegahan Utama Pandemi COVID-19

0
corona

Masalah sosial dan kesehatan yang dihadapi masyarakaat saat ini semakin kompleks, terbaru adalah situasi pandemi Covid-19. Praktisi kesehatan menghadapi tantangan dalam merancang layanan baru dan program pencegahan dan penanganan Covid-19. Pencegahan utama (primary prevention) membutuhkan pergeseran dari fokus pada program ke fokus pada inisiatif pencegahan yang lebih luas dan dari fokus pada individu ke fokus pada lingkungan.

Buku second edition “Prevention Is Primary : Strategies For Community Well-Being”, karya Larry Cohen-Vivian Chávez-Sana Chehimi mengenalkan konsep The Spectrum of Prevention. Sebuah kerangka kerja sistematis untuk mengembangkan pencegahan primer yang efektif dan berkelanjutan, termasuk dalam program pencegahan dan penanganan Covid-19. Keenam level spektrum ini saling melengkapi. Ketika digunakan bersama-sama, setiap level memperkuat yang lain, mengarah ke efektifitas yang lebih besar.

Tingkat pertama Spectrum, “memperkuat pengetahuan dan keterampilan individu”, menekankan pada ukuran meningkatkan keterampilan individu yang penting dalam perilaku sehat dan mematuhi protokol kesehatan Covid-19 (beraktivitas di rumah saja, jaga jarak, penggunaan masker, rajin cuci tangan). Edukasi dan informasi tentang Covid-19 perlu secara masif disampaikan melalui berbagai jaringan media yang valid dan terpercaya. Puskesmas sebagai layanan fasilitas kesehatan masyarakat yang terdekat dengan masyarakat harusnya didorong menjadi garda terdepan dalam pemberian informasi dan pemantauan kesehatan masyarakat di masing-masing wilayah kerjanya. Namun nyatanya, peran Puskesmas belum optimal melakukan upaya tersebut.

Tingkat kedua Spectrum, “mempromosikan pendidikan masyarakat”, mencakup jangkauan orang dengan informasi dan sumber daya untuk mempromosikan kesehatan dan keselamatan mereka. Situasi saat ini, di tengah penyebaran virus corona, penyebaran hoaks soal corona di media sosial begitu masif menyebar. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pada tanggal 8 April 2020, telah mendeteksi ada 1.125 sebaran hoaks di semua platform digital.

Baca juga  Kritik Penanggulangan Virus Corona, Demokrat: Pemerintah Baru Sebatas Bikin Pengumuman dan Himbauan

Padahal, informasi dari mulut ke mulut, atau dalam hal ini pesan melalui media social percakapan (Whatsapp, Telegram, Facebook, Line dll) justru lebih kuat dan efektif. Oleh karena itu, pembuatan pesan teks informasi yang valid dan benar tentang covid-19 menjadi sangat penting, untuk disampaikan ke komunitas. Informasi yang benar dan terpercaya ini, dengan sendirinya akan menepis berita hoaks yang juga masif beredar, khususnya di media sosial. Dengan memberikan informasi yang benar, tentu saja meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Covid-19.

Tingkat ketiga Spectrum adalah “mendidik penyedia layanan”. Karena penyedia layanan kesehatan adalah sumber terpercaya dari informasi yang berhubungan dengan kesehatan, mereka adalah kelompok kunci dalam strategi pencegahan. Penyedia layanan tidak terbatas pada penyedia layanan kesehatan, namun termasuk guru, pemuka agama, tokoh masyarakat dan pejabat publik (baik di pemerintahan, swasta, pengusaha/pimpinan perusahaan). Mereka itulah kelompok kunci dalam menyampaikan informasi. Untuk itu, pendekatan kepada mereka dengan memberikan pendidikan dan informasi Covid-19 adalah sangat penting. Karena justru merekalah yang dapat berbagi informasi atau mempengaruhi orang lain.

Keterlibatan kyai, ustaz, maupun pimpinan organisasi MUI sangatlah vital dalam menyampaikan pesan untuk beribadah di rumah dan menunda ritual budaya mudik dengan mengoptimalkan silaturahmi secara virtual.

Level empat Spectrum, “membina dan mengembangkan koalisi dan jaringan”, berfokus pada kolaborasi dan pengorganisasian masyarakat. Koalisi dan kemitraan yang diperluas sangat penting untuk keberhasilan gerakan kesehatan masyarakat. Kolaborasi bukan merupakan dampak intrinsic seperti level dari Spectrum yang ada, tetapi lebih merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Kolaborasi dapat terjadi di beberapa tingkat, di tingkat akar rumput masyarakat dapat bekerja bersama dalam pengorganisasian masyarakat. Di tingkat organisasi nirlaba dapat bekerja sama untuk mengkoordinasikan upaya bisnis, kepercayaan, atau kelompok kepentingan lainnya. Di tingkat pemerintah, berbagai sektor pemerintahan dapat saling terhubung satu sama lain, dengan meminimalkan ego sektoral.

Baca juga  Polri Akan Pidanakan Massa yang Tetap Bandel Berkerumun Di Luar Rumah

Tujuan penting dari pembangunan koalisi adalah untuk mengidentifikasi dan bekerja menuju tujuan itu dapat memiliki dampak yang lebih besar pada komunitas secara keseluruhan daripada yang mungkin dimiliki oleh peserta koalisi. Maka bagian kuncinya, adalah kepemimpinan menemukan minat yang sama untuk semua kelompok dan memfasilitasi gerakan mencapai tujuan bersama yang vital.

Pada konteks pencegahan dan penanganan Covid-19, pemerintah telah berinisiatif mengembangkan koalisi dan jaringan dengan mengkampanyekan tagar #BersatuLawanCovid-19.

Tingkat kelima Spectrum, “mengubah praktik organisasi” , berkaitan dengan perubahan organisasi dari perspektif sistem. Presentasi Yuswohady dan Amanda Rachmaniar berjudul Bulding Brand in the Covid-19 Crisis, menyampaikan bahwa Covid-19 mendorong terbentuknya Giving Society. Masyarakat yang peduli terhadap sesama.

Di tengah kesulitan massal tersebut, mereka bahu-membahu menyatukan langkah memerangi Covid-19. Dalam kondisi memprihatinkan seperti itu semua orang memiliki misi bersama untuk berkontribusi memerangi Covid-19. Setiap organisasi mengedepankan “apa yang bisa saya kontribusikan kepada orang lain”, ketimbang sebaliknya.

Level keenam Spectrum, “mempengaruhi kebijakan dan perundang-undangan”, memiliki potensi untuk mencapai dampak luas di suatu komunitas. Kebijakan adalah seperangkat aturan yang memandu kegiatan organisasi pemerintah, individu dan masyarakat. Kelima level dalam spectrum pencegahan, tidak akan begitu efektif tanpa didukung kebijakan dalam bentuk regulasi.

Meskipun kebijakan sering dianggap sebagai produk negara, bukti menunjukkan bahwa kebijakan pencegahan yang sangat efektif dapat dikembangkan di tingkat masyarakat sebagai pengembangan kebijakan lokal yang merupakan bagian integral dari keberhasilan program pencegahan (Holder et al., 1997).

Pada konteks pencegahan dan penanganan Covid-19, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan terkait Covid-19. Salah satunya adalah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini memuat aturan yang detail apa dan bagaimana yang seharusnya dilaksanakan selama masa PSBB.

Baca juga  Ini Total War! AHY: Serukan Lawan Covid-19

Meski sudah memuat aturan detail, perlu didukung mulai dari tingkat individu dan masyarakat terendah (RT/RW dan Kelurahan) dengan memperhatikan kearifan lokal masing-masing di daerah.

Tanpa dukungan dari lingkup organisasi terendah di masyarakat, kebijakan PSBB tidak akan efektif dan berdaya guna dalam menghambat penyebaran Covid-19.

 

Rachmad Pua Geno: Sekretaris Jenderal Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here