New Normal, Jangan Menjadi Sebab Gelombang Kedua Pandemi

0

Dalam seminggu terakhir, wacana untuk mulai menerapkan new normal dalam kegiatan masyarakat dalam masa pandemi COVID-19 ini mengemuka di publik setelah disampaikan oleh berbagai unsur di pemerintahan.

Mulai presiden sampai jajaran menteri maupun kepala daerah berbicara tentang new normal, yaitu upaya untuk mengembalikan berbagai kegiatan yang selama ini terhenti atau dibatasi, namun dengan menerapkan protokol kesehatan pada kegiatan tersebut.

Wacana new normal ini seakan menjadi bersambung dengan apa yang sebelumnya disampaikan oleh presiden bahwa “kita harus berdamai dengan COVID-19”. Namun wacana new normal ini juga menjadi pertanyaan mengingat perkembangan penularan COVID-19 di Indonesia belum bisa dikatakan mereda.
Data pada 31 Mei 2020 menunjukkan adanya 700 kasus baru positif COVID-19 dan total 17.552 kasus terkonfirmasi (data terbaru). Sehingga terkesan penerapan new normal ini menunjukkan sudah mentoknya upaya pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19 ini di Indonesia. Nuansa tuntutan ekonomi justru lebih kuat dalam penerapan new normal ini.
Harus ada Pemahaman yang Benar dan Sama tentang New Normal
Hal yang sangat perlu diperhatikan dalam penerapan new normal ini adalah adanya pemahaman yang sama dan benar di antara berbagai pihak, khususnya masyarakat tentang apa yang dimaksud dengan new normal. New normal harus dipahami bahwa usaha untuk mengembalikan kegiatan di berbagai bidang mendekati situasi semula namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat sesuai dengan bidang kegiatannya.
Harus diakui, saat ini karena kurangnya sosialisasi dan pemahaman yang benar, banyak masyarakat khususnya di kalangan bawah yang memahami new normal sebagai kembali ke situasi normal seperti sebelum pandemi COVID-19. Apalagi sebelumnya presiden juga mewacanakan melakukan relaksasi atau pelonggaran Pembatasan Sosialisasi Berskala Besar (PSBB).
Pada saat menyampaikan rencana new normal juga presiden mengunjungi mal yang dilakukan menjelang Lebaran dan memberi sinyal pusat perbelanjaan sudah bisa kembali dibuka dan kegiatan akan kembali normal. Wajar jika kemudian masyarakat menganggap new normal ini berarti kembali ke situasi normal dan bisa melakukan kegiatan seperti semula termasuk berbelanja dan makan di mal dan kegiatan lainnya tanpa pembatasan. Apalagi masyarakat sudah cukup jenuh dengan penerapan pembatasan selama hampir 2,5 bulan dan sebagian tidak mematuhi aturan tersebut.
Harus diberikan pemahaman bahwa penerapan new normal berarti tetap menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19. Termasuk di dalamya adalah aturan-aturan social-physical distancing yang selama ini sudah ada, agar tetap dilaksanakan, meskipun beberapa kegiatan yang sebelumnya dihentikan kita sudah bisa dibuka lagi, namun dengan pembatasan-pembatasan.
Pemahaman yang benar tentang new normal juga harus sama di antara pihak yang terkait, termasuk petugas di lapangan. Jangan sampai terdapat perbedaan persepsi dan penafsiran di antara petugas di lapangan dalam melakukan pengawasan penerapan protokol kesehatan dalam new normal.
Apalagi jika petugas di lapangan memiliki persepsi yang sama dengan sebagian masyarakat yang menganggap sudah bisa beraktivitas secara normal, maka akibatnya bisa sangat fatal. Belum lagi, sampai saat ini masih belum ada rujukan peraturan tingkat pusat yang menjadi landasan pengaturan new normal.
Pemahaman yang tidak sama, dikhawatirkan masing-masing sektor membuat peraturan sendiri tentang bagaimana implementasi new normal yang bisa berakibat tidak sinkron antar aturan dan kekacauan dalam penerapan di lapangan. Padahal, dengan PSBB saja yang memiliki aturan yang jelas, masih banyak yang belum dipatuhi oleh masyarakat maupun pelaku usaha.
Hal yang paling dikhawatirkan jika new normal ditafsirkan sebagai kembali kepada kehidupan normal seperti sebelum pandemi, sementara penambahan kasus baru COVID-19 masih tinggi, adalah potensi munculnya gelombang kedua penyebaran COVID-19.
Belajar dari pengalaman pandemi Spanish flu di mana korban meninggal dunia justru banyak terjadi saat gelombang kedua karena fasilitas kesehatan yang sudah tidak lagi mampu melayani dan menangani pasien yang terpapar virus. Apalagi di saat akan diberlakukan new normal ini, semakin banyak petugas medis yang terpapar virus dan beberapa rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang harus ditutup karena petugas medis yang terpapar COVID-19.
Kesiapan Penerapan : Jangan Asal New Normal
Selain masalah pemahaman yang benar tentang new normal, timing untuk mulai menerapkan new normal juga perlu mendapat perhatian sangat penting. Pertanyaan besarnya adalah apakah daerah-daerah atau Indonesia secara keseluruhan sudah bisa diterapkan new normal? Perlu ada kriteria yang jelas untuk pemberlakukan new normal di suatu wilayah dan sejauh mana kriteria tersebut sudah dipenuhi.
Penerapan PSBB juga belum sepenuhnya berjalan baik. Bahkan di akhir-akhir terutama menjelang hari raya Idul Fitri justru masyarakat banyak yang tidak lagi menerapkan ketentuan dalam PSBB. WHO bahkan mengkategorikan penularan di Indonesia sebagai community transmission, bukan lagi clusters of cases. Sementara kapasitas tes PCR kita masih di kisaran 0,1% di mana per 29 Mei 2019 baru sebesar 1061 tes per 1 juta penduduk. Angka ini masih dibawah Vietnam, Philipina yang sudah lebih dari 2800 per 1 juta penduduik, dan tertinggal jauh dari Malaysia dan Singapura.
Penerapan new normal juga harus dilakukan secara bertahap dengan uji coba pada daerah-daerah yang memang zona hijau dan daerah-daerah yang penyebaran COVID-19 sudah bisa dikendalikan dengan baik. Penurunan jumlah kasus yang siginifkan pada daerah tersebut dan fasilitas kesehatan yang sudah siap dan cukup lengkap dapat menjadi indikator daerah yang bisa menjadi lokasi uji coba new normal.
Namun uji coba ini juga harus diiikuti dengan mitigasi dan evaluasi cepat (rapid appraisal) atas penerapan new normal untuk jadi bahan perluasan penerapan new normal di wilayah berikutnya.
Oleh: Kurniasih Mufidayati
Baca juga  Lonjakan Kasus Covid-19 di Era New Normal, Jansen Sitindion Harap Jangan Jadi ‘Gol Bunuh Diri’ Tanpa Antisipasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here