Demi Ekonomi Rezim Abaikan Kesehatan & Nyawa Rakyat Sendiri?

0
virus corona mematikan

Wabah Corona belum tahu kapan dapat terkendali, tanpa bertambahnya korban meninggal dari rakyat dan tenaga kesehatan.

Sampai sekarang kampanye protokol kesehatan belum efektif guna menekan sebaran virus corona. Pemerintah masih mengandalkan dan melibatkan influencer sebagai ‘gimmick’. Guna mencoba menutup kegagalan menekan jumlah korban meninggal dan mengisolasi peta sebaran Covid-19 semakin kecil dan terkendali.

Semenjak awal, publik menilai rezim telah mengabaikan hasil kajian dan penelitian dari basis ilmu dan sains tentang kesehatan publik dan epidemiologi yang lebih jujur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sehingga dua kebijakan penanganan pandemic berupa PSBB dan New Normal belum efektif menurunkan korban nyawa rakyat dan wilayah sebaran virus di Indonesia.

Lebih ngawur, di era new normal Presiden Joko Widodo malah membentuk lembaga ad hoc baru untuk menangani resesi ekonomi dari dampak pandemi virus corona (Covid-19) bernama Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Komite ini terdiri dari tiga unsur, yakni Komite Kebijakan, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional. Jokowi menunjuk Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai Ketua Komite Kebijakan di mana Menteri BUMN Erick Thohir sebagai ketua pelaksana.

Sementara Satgas Penanganan Covid-19 dipimpin oleh Doni Monardo yang sebelumnya memimpin Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Sementara Satgas Pemulihan Ekonomi diisi oleh Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin.

Merujuk pada Pasal 4 Perpres 82 tahun 2020, Erick Thohir sebagai Ketua Pelaksana Komite Kebijakan kewenangan untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan Satgas Penanganan Covid-19 dan Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional. Dimana pemerintah mencoba menyatukan penanganan ekonomi dan covid-19 yang dipimpin oleh ekonom dan bukan ahli kesehatan bidang epidemiologi atau kesehatan publik.

Baca juga  Jubir Fajroel Rahman Penyampai Pesan Suka Keliru, kok Nyinyir?

Menelaah keberadaan Erick Thohir sebagai Ketua Pelaksana, dan Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin dan Airlangga Hartarto selaku Komite kebijakan mencerminkan komposisi tim dalam komite ini lebih kental nuansa penanganan ekonomi ketimbang penanganan pandemi Covid-19, kesehatan dan nyawa rakyat.

Ditenggarai pembentukan tim tersebut berpotensi meminggirkan sektor utama kesehatan, keselamatan nyawa rakyat. Sementara penyebaran virus corona yang belum sampai puncaknya.

Ditambah lagi, vaksin yang telah diimpor dari China yang belum lulus uji klinis tingkat III dan dinyatakan aman bagi manusia. Para ahli dan praktisi di Universitas Padjajaran tidak bisa menjamin dalam tiga bulan kedepan, vaksin dari China aman dipakai bagi manusia sebagai anti virus corona.

Pembentukan Komite baru menjadi fakta yang memperkuat potensi meminggirkan sektor kesehatan pemerintahan Jokowi. Dikarenakan Satgas Penanganan Covid-19 tak berdiri sendiri untuk menangani pandemi virus corona. Satgas itu justru dilebur dalam satu kesatuan dalam komite baru yang dipimpin oleh Menko Perekonomian.

Apalagi, tim baru ini dibentuk karena pemerintah khawatir ancaman resesi ekonomi akibat pandemi. Seperti rilis Bank Indonesia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran minus 4 persen sampai minus 4,8 persen pada kuartal II 2020.

Dan jika terbukti benar, rezim lebih memprioritaskan menyelamatkan ekonomi semata. Maka nyawa rakyat dan tenaga kesehatan menjadi deret hitung sebagai korban terpapar yang telah mencapai 89.8869 orang dan 4.320 meninggal. Akan terus bertambah jika berkaca kasus positif 1-20 juli mencapai 31.829 orang dengan rata-rata bertambah hampir 1.600 dalam waktu 24 jam.

Maka semakin jelas, penilaian publik atas pembentukan tim baru ini semakin membuktikan bahwa lembaga sebelumnya tak berjalan secara efektif, tepat sasaran dan tepat program dalam menangani pandemi virus corona dengan terus bertambahnya korban nyawa. Tanpa melakukan evaluasi menyuluruh atas program-program dan kebijakan sebelumnya yang salah strategi dalam penanganan pandemi virus corona.

Baca juga  Benarkah Jokowi Mengkhianati Ahok?

Kok malah tekan pedal gas ekonomi dan ganti supir yang ekonom lagi dengan navigator juga pelaku bisnis?.

Oleh: Alex Wibowo, Penggiat Kajian Kesehatan Publik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here