Mimpi ‘Bolong’ Pabrik Baterai Terbesar Di Dunia Ala Luhut Binsar Pandjaitan

    0
    luhut binsar pandjaitan
    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

    Hilirasasi hasil tambang nikel dengan memberikan perlakuan khusus bagi perusahaan dari China tidak berdampak bagi industrialisasi manufaktur di Indonesia. Apalagi Indonesia bukan bagian dari rantai supply global baterai berbasis industri nikel. Peningkatan nilai tambah nikel sebagai bahan baku utama bagi industri kendaraan listrik global dinikmati negara industri maju.

    Sementara, beberapa kalangan menilai mimpi Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan membuat industri baterai terbesar di Indonesia yang diwacanakan bertolak belakang dengan realitas industri dalam negeri. Kebijakan Luhut cendrung memberikan perlakuan khusus bagi perusahaan China membangun pabrik berikut dengan Tenaga Kerja.

    Hal ini menjadikan maraknya minat perusahaan China untuk mendirikan smelter di Indonesia, khususnya smelter nikel. Kebijakan hilirisasi saat ini lebih dominan menguntungkan para pengusaha smelter tersebut.

    Barang tambang yang diolah perusahaan tambang China digunakan sepenuhnya untuk pengembangan dan penguatan industrisasi China. Karena sumberdaya barang tambang yang murah meriah belum diolah mudah dan murah didapatkan di Indonesia.

    Akibatnya, hilirisasi tambang di Indonesia menopang industri di negara lain.

    Alasan ini menjadikan kebijakan hilirisasi tambang nikel malah bertolak belakang dengan kondisi industri manufaktur di Indonesia yang terus terperosok. Pasalnya, Indonesia tidak menjadi pemain industri baterai dan tidak tumbuh industri mobil listrik seperti China, AS dan beberapa negara Eropa.

    Menurut ekonom senior Faisal Basri kebijakan peningkatan nilai tambah pertambangan di Indonesia masih dilakukan setengah hati. Sebab konsep hilirisasi pertambangan di Indonesia belum terintegrasi dengan pengembangan industri di dalam negeri.

    Di sisi lain perusahaan tambang lokal harus membayar bea ekspor dan juga royalti, tapi smelter tidak dikenakan. Perusahaan smelter pun bisa semakin banyak menumpuk laba karena tidak terbebani oleh pajak badan karena mendapatkan tax holiday.

    Terlebih, smelter pun bisa mendapatkan bahan baku berupa bijih atau ore nikel dengan harga yang sangat murah. Dengan berbagai fasilitas tersebut, perusahaan asal China lebih banyak mengantongi keuntungan jika membangun smelter di Indonesia ketimbang di negaranya.

    Lebih lanjut, akibat pembelaan Luhut Binsar Pandjaitan terhadap pengusaha smelter dari China dengan memboyong tenaga kerja sendiri dengan dalih alih teknologi dan training. Sampai saat ini tetap bisa melenggang, membawa pekerja asing masuk ke Indonesia walaupun di tengah kondisi pandemi cobvid-19.

    Dan wacana mewujudkan pabrik baterei terbesar di dunia yang dimiliki oleh Indonesia menjadi mimpi bolong. Apalagi nilai tambah secara ekonomi yang diterima oleh warga Indonesia sebagai pekerja, dan pelaku penambang maupun pemerintah hanya 5%. Sedangkan 95% lari ke China.

    Dan Indonesia hanya mewarisi bencana dan kerusakan alam berupa banjir, kerusakan hutan dan hancurnya ekosistem laut di beberapa wilayah pertambangan nikel dan pabrik smelter di Sulawesi Selatan.

    Oleh: Ramlan Nursal, Penggiat Aktifis Lingkungan dan Advokasi Rakyat Pesisir

    Baca juga  Prabowo Akui Enak Bekerja Dengan Jokowi, Luhut: Wo, Kamu Terusin Saja

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here