Nelangsa Guru Dan Murid Ditengah Blunder Hibah Mendikbud

0
Mendikbud Nadiem Makarim

Kebijakan tergesa atas pemberlakuan atas peniadaan Ujian Nasional dan model Pelajaran Jarak Jauh (PJJ) berdampak buruk terhadap sistem pendidikan nasional. Kemendikbud lengah dan abai dengan tidak mempersiapkan persiapan yang relevan bagi infrastruktur pendukung utama. Terutama mempersiapkan infrastruktur sistem pengganti UN dan dasar kebijakan PJJ berupa rule model, kurikulum dan penguatan peran dan skill guru.

Akibatnya 10 juta anak Indonesia terancam tidak bisa mendapatkan akses dan melanjutkan pendidikan. Disebabkan keterbatasan mengakses bahan pelajaran dari media pembelajaran daring, ketiadaan peralatan pendukung, sistem pembelajaran online apa adanya dan ketiadaan guru mumpuni dan sekolah yang siap.

Sementara disisi lain, Kemendikbud malah meloloskan Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation dalam daftar penerima hibah dari Kemendikbud sebagai Organisasi Penggerak. Sedangkan dua lembaga nonprofit tersebut adalah bagian dari lembaga pengelola CSR dari perusahaan jaringan bisnis Sampoerna dan Tanoto.

Diketahui, Program Organisasi Penggerak Kemendikbud yang digagas Nadiem punya misi membantu meningkatkan kualitas pengajar saat Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Bertujuan, mengajak organisasi masyarakat di bidang pendidikan berlomba membuat pelatihan yang ditargetkan untuk guru dan kepala sekolah sebagai ujung tombak gagasan merdeka belajar ala Nadiem Makarim.

Maka menjadi wajar bila dua ormas menyatakan langkah mundur. Yakni Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pengurus Pusat Muhammadiyah serta Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama.

Masalahnya, ada persoalan mendasar yang luput menjadi perhatian dengan hilangnya UN dan berlakunya PJJ.

Semestinya, Kemendikbud lebih peka tentang persoalan mendasar yang dihadapi guru, murid dan orang tua terkait efektifitas peniadaan UN dan PJJ. Terutama mempersiapkan kualitas guru sebagai penggerak utama pendidikan yang berhadapan dengan murid, persoalan orang tua murid, keterbatasan media daring dengan menggandeng sebanyak mungkin organisasi berbagai profesi guru seperti PGRI, asosiasi praktisi pendidikan.

Baca juga  Polemik UN Dihapus, Beberapa Daerah Tak Persoalkan Program Mas Menteri Nadiem

Sedangkan disisi penyediaan infrastruktur internet dan media menggandeng BUMN bidang telekomunikasi.

Langkah ini mesti menjadi perhatian penuh Nadiem Makarim yang mengelola 20% anggaran dari APBN. Sedangkan memoloskan dana hibah bagi Sampoena Foundation dan Tanoto Foundation menjadi preseden buruk dan tidak pantas ditengah kebigungan guru dan kekhawatiran orang tua terhadap hilangnya generasi terdidik.

Apalagi di saat kesusahan ekonomi yang membelit orang tua murid akibat resesi ekonomi dan penyebaran virus corona. Hal tersebut mempercepat hilangnya generasi terdidik dari pewaris masa depan bangsa dan ini adalah kerugian terbesar.

Oleh: Ishak Mursal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here