Pantas Mundur, 4 Kesalahan Nadiem Makarim Bagi Dunia Pendidikan Indonesia

0
nadiem makarim
Mendikbud Nadiem Makarim

Menyikapi persoalan dunia pendidikan Indonesia, nyatanya Mendikbud Nadiem Makarim gagal memahami persoalan mendasar pendidikan dan melahirkan solusi yang tepat. Banyak persoalan pendidikan di arus bawah yang tak dapat diselesaikan dengan baik, apalagi menyikapi pendidikan di masa pandemi covid 19 ini.

Setidaknya ada 4 kesalahan Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Budaya yang merusak ekosistem pendidikan Indonesia.

Pertama, PPDB Online yang carut marut dan tidak koheren. Kebijakan ini telah membuat polemik dan kekhawatiran orang tua di berbagai pelosok daerah yang tidak dapat mengakses sistem PPDB Online. Terutama daerah yang belum terjangkau infrastruktur internet yang memadai untuk mendaftarkan anaknya bisa masuk dalam sistem pendidikan nasional.

Dampaknya, banyak anak-anak yang tidak terdaftar dan tertunda masa pendidikan satu tahun kedepan.

Kebijakan ini tidak senada dengan arah kebijakan Presiden Jokowi menyangkut memajukan pembangunan yang dimulai dari daerah terluar dan terdepan. Mendikbud malah tidak mengeluarkan kebijakan menyelesaikan PPDB Online bagi daerah terluar dan tedepan yang senada dengan kebijakan Presiden Jokowi.

Kedua, Kisruh Program Organisasi Penggerak (POP) yang membuka sebuah fakta baru. Ternyata Nadiem Makarim telah gagal merangkul stake holder utama dari organisasi pendidikan akibat tak mengetahui sejarah dan urusan masa lalu di bidang pendidikan.

Hal ini terbuka ketika 3 lembaga mengundurkan diri dari POP, yakni Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Keluarnya PGRI sebagai organisasi resmi guru selaku tenaga pendidikan di Indonesia dari POP ini menunjukkan kalau Mendikbud Nadiem Makarim gagal merangkul pilar utama pendidikan yakni guru.

Ketiga, konsep Merdeka Belajar yang sesungguhnya tak merdeka. Bahkan bentuk aplikasi dan penerapan memunculkan simpang siur dan membuat akademisi dan praktisi pendidikan gusar terkait arah kebijakan pendidikan ke depan. Konsep Merdeka Belajar hanya wacana bombastis tanpa kajian dan penelitian lengkap yang berakar dari budaya Indonesia. Satu lagi konsep merdeka belajar telah dipatenkan oleh pihak lain diluar Kemendikbud.

Baca juga  Nadiem Hanya “Hangat-Hangat” Tahi Ayam

Keempat, tidak ada keseriusan mengawal nasib Guru Swasta mapun Honorer, apalagi di masa pandemi seperti ini, keadaan ekonomi yang lesu, gaji yang tidak pasti namun tidak ada kebijakan afirmatif yang menolong nasib guru-guru.
Dan sampai saat ini, selain guru swasta, honorer, guru guru P3K yang telah lulus seleksi belum mendapat kejelasan bagaimana pegangkatan, penempatan beserta hak dan kewajiban.

Dari empat alasan diatas, sangat wajar publik memberikan rapor merah bagi Nadiem Makarim dan pantas untuk mundur dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Di tambah lagi, Nadiem Makarim selaku Mendikbud tidak berasal dari latar belakang pendidikan tetapi dengan latar belakang pengusaha digital. Ada distorsi kebijakan akibat tidak melihat langsung kondisi proses pendidikan di bawah tanggungjawabnya.

Maka tidak ada yang istimewa dari kebijakan-kebijakan yang diambil Nadiem Makarim, justru sebaliknya lebih banyak terjadi distorsi dan kontroversi yang berakibat gagal mengurus substansi pendidikan di Indonesia.

Oleh: Munawarman, Guru Swasta dan Pemerhati Dunia Pendidikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here