Pemerintah Ambyar Tangani Covid-19, Percaya Influencer Ketimbang Ilmuan

0
Pertemuan Jokowi dan Artis di Istana Negara sebagai influencer protokol kesehatan.

Meningkatnya jumlah kasus rakyat dan tenaga kesehatan terpapar virus Corona di era New Normal telah mencapai 88,214 orang, dan meninggal dunia 4,239 orang. Angka ini akan terus bertambah. Seiring mis leading dan salah fokus pemerintahan Jokowi. Mengabaikan ilmuan dan praktisi epidemiolog guna menekan jumlah korban dan peta penyebaran Covid-19.

Pengabaian ini nyata dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dengan mengundang setidaknya 30 pekerja seni-kreatif ke Istana Merdeka Jakarta. Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama beragumentasi bahwa kemampuan influencer di media sosial lebih dapat didengar, disosialisasikan dan dilaksanakan oleh publik guna membantu sosialisasi protokol kesehatan kepada masyarakat.

Argumentasi yang coba dibangun bahwa influencer memiliki komunitas dan penggemar sendiri, sosialisasi mereka juga akan lebih efektif memperoleh atensi karena dilakukan dengan cara-cara unik dan kreatif.

Namun, alih-alih sosialisasi protokol kesehatan, beberapa dari mereka malah mengeluarkan pernyataan blunder atau unggahan kontroversial. Salah satunya Erdian Aji Prihartanto alias Anji, mantan vokalis band Drive, kini lebih dikenal publik sebagai Youtuber. Ia membuat opini di Instagram yang mendiskreditkan seorang jurnalis yang memotret jenazah pasien COVID-19 dibungkus plastik.

Sementara penyanyi lagu populer Yuni Shara, pelantun Mengapa Tiada Maaf malah mengatakan kalung eucalyptus atau kalung anti Corona yang dibuat oleh Kementerian Pertanian membuatnya lebih aman ketika beraktivitas.

Di sisi berbeda, ilmuan dari disiplin ilmu Farmasi, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Suwijiyo Pramono menjelaskan bahwa eucalyptus bukan untuk digunakan sebagai obat dalam dan bukan obat utama COVID-19.
Sedangkan Epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riyono mengatakan para influencer ini tak memberikan gambaran nyata tentang bahaya COVID-19. Mengakibatkan 4.239 orang meninggal dengan ratusan tenaga medis yang terus terinfeksi Covid-19 termasuk puluhan dokter yang meninggal dunia.

Baca juga  Batal Jadi Calon Wali Kota Solo, Purnomo Sakit Hati Dengan Gibran dan Rudy?

Selain lebih percaya kepada influencer. Pemerintah lebih mempercayai produk China dengan mengimpor vaksin Sinovac dari China yang belum memasuki uji klinis tahap III kepada manusia dan belum siap edar. Vaksin Sinovac masih harus melalui uji klinis yang akan dilakukan PT Bio Farma, Universitas Padjadjaran, dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes).

Mencermati apa yang telah dan sedang dilakukan pemerintahan Jokowi dalam menekan laju korban nyawa dan penyebaran pandemi Covid-19. Sangat kontraproduktif dengan menyingkirkan peran dan kemampuan ilmuan dan ahli kesehatan Indonesia, dengan terbukti korban terus bertambah melampaui China sebagai sumber wabah.

Terlebih lebih percaya menyelamatkan nyawa rakyat dan mengurangi korban Covid-19 dengan ala influencer, yang tidak mengerti bagaimana virus Corona merusak sistem pernafasan dan tubuh manusia. Termasuk Indonesia mesti terus kehilangan tenaga medis dan dokter.

Tentu ini langkah ambyar yang menyeret Indonesia lebih dalam kepada negara multi krisis dan gagal dalam bidang kesehatan dalam jangka panjang yang amat merugikan Indonesia secara keseluruhan.

Oleh: Nur Alifah, Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here