Kontroversi Sertifikasi Dai Kemenag Buat Gaduh dan Meresahkan Masyarakat?

    0
    Menteri Agama Fachrul Razi
    Menteri Agama Fachrul Razi

    Program dai/penceramah bersertifikat yang digulirkan Kementerian Agama (Kemenag) mendapat tanggapan kurang elok oleh publik. Sebab program dai/penceramah bersertifikat akan melahirkan kesenjangan dan tebang piling dai di tengah masyarakat, terkhusus ummat Islam.

    Padahal, dai bertugas sebagai penyampai nasehat moralitas ke semua lapisan masyarakat. Tidak seharusnya terpolarisasi dengan program dai bersertifikat. Karena dalam Islam dan pemahaman masyarakat telah memiliki standar untuk memberikan kepercayaan kepada penceramah untuk menuntun dan memberikan nasehat keagamaan.

    Apalagi sertifikasi dai hanya ditujukan bagi penceramah dari Islam. Sedangkan penceramah agama lain tidak masuk dalam program sertifikasi dai. Hal tersebut menjadikan Kemenag terkesan hanya mengurusi agama Islam semata. Karena selain Islam, ada agama lain yang diurusi Kemenag seperti Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Hal

    Di sisi lain, penilain publik dan beberapa tokoh agama menilai bahwa sertifikasi dai sebagai alat untuk membungkam nasehat dan kritik dari kalangan ulama. Terutama kritik yang menasehati dengan kritis kepada para pemimpin dan penguasa yang maka telah melenceng dan terindikasi melakukan kedzoliman yang masif dan sistematis.

    Ditenggarai program sertifikasi dai oleh Kemenag, belum dirumuskan standar penilaian. Ketiadaan standar yang jelas, terukur dan terperinci dalam sejumlah indikator. Menyebabkan muncul penilaian bahwa program tersebut bagian dari kontrol penguasa terhadap dai.

    Akibatnya adalah jika seseorang tidak memenuhi kualifikasi sebagai dai atau daiyah yang tidak pantas menjadi dai dan mesti ditinggalkan oleh ummat.

    Tentu program sertifikat dai akan membuat gaduh dan meresahkan umat Islam. Berdampak pada da’i atau pencemarah yang terkotak-kotak, bahkan bisa saling berhadap-hadapan. Hal ini akan mengadu-domba anak bangsa yang terkenal dengan toleransi atas perbedaan.

    Da’i atau mubaligh semestinya tidak terkekang dalam menyampaikan yang benar dengan program sertifikasi dai. Sebab prinsip karakter dai’ tidak bisa dilepaskan dari “sampaikanlah yg benar walaupun pahit,” sebagaimana pewaris risalah kenabian.

    Baca juga  KPK: Tata Kelola Sekolah-Sekolah Kemenag Lebih Buruk dari Kemendikbud

    Oleh: Nasruddin Jambra

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here