Demokrat Minta Presiden Copot Menteri Biang Kerok, Dan Ambil Alih Penanganan Corona

0
Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat Syahrial Nasution
Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat Syahrial Nasution

PolitikToday- Presiden Joko Widodo harusnya jujur mengakui bahwa manajemen penanggulangan pandemik Covid-19 di Indonesia sangat buruk.

Menurut Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution, sudah selayaknya para pembantu presiden yang menjadi penghalang dalam menangani Covid-19 di tanah air segera direshuflle.

Mengingat, wabah corona yang semakin mengkhawatirkan dan ini mengancam keselamatan rakyat Indonesia.

“Akui saja, manajemen pemerintahan terhadap wabah Covid-19 buruk. Pak @jokowi kan jadi presiden lewat proses pemilu. Sedangkan menteri-menteri itu pembantu yang diangkat,” kata Syahrial Nasution melalui cuitan di akun Twitter pribadinya beberapa saat lalu, Kamis (10/9)..

Atas dasar itu, Syahral Nasution menyarankan para menteri penghambat penanganan Covid-19 di Indonesia harus dicopot alias direshuflle. Sehingga penanganan pandemik Covid-19 bisa langsung di bawah komando sang presiden.

“Supaya tidak jadi beban negara, segeralah copot para biang kerok pemecah belah rakyat. Fokus hadapi corona langsung di bawah komando Presiden,” tegas Syahrial Nasution.

Terbaru soal peneganan corona, Pemprov DKI Jakarta menarik rem darurat dengan menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara total di ibukota.

Kebijakan ini diambil lantaran angka kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan dan banyak bermunculan klaster-klaster baru hingga ada klaster perkantoran.

Kebijakan yang diteken Gubernur Anies Baswedan ini mendapatkan sambutan positif dari beberapa kalangan masyarakat.

Meskipun, ada juga yang mengkritik kebijakan tersebut. Rencana pemberlakuan kembali PSBB oleh Gubernur DKI Anies Baswedan tidak lepas dari peningkatan kasus dan angka kematian pasien di ibukota.

Berdasarkan data Pemprov DKI, jumlah kematian pasien Covid-19 di Jakarta mencapai 1.317 dari total 49.837 pasien per 9 September.

Namun, tingkat kematian atau case fatality rate di Jakarta (2,7 persen) masih di bawah angka nasional (4,1 persen) dan global (3,3 persen). Tapi secara absolut jumlahnya terus bertambah dengan cepat.

Baca juga  Benarkah Luhut "Perdana" Menteri Indonesia?

(hz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here