Ada “Istana” di Balik Fitnah Asia Sentinel Terhadap SBY?

0
4370
Ada “Istana” di Balik Fitnah Asia Sentinel Terhadap SBY?

Kehebohan laporan fitnah Asia Sentinel kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bergeser ke tahap dua. Publik Indonesia tidak lagi bicara kredibilitas Asia Sentinel. Sebab, jejak digital Asia Sentinel sudah mengkonfirmasi bahwa media yang berpusat di Hong Kong itu memang tidak kredibel.

Asia Sentinel diketahui secara diam-diam telah 3 kali merevisi laporannya. Bahkan laporan itu diganti dengan laporan baru. Keduanya dilakukan tanpa alasan yang jelas, dan dengan mengabaikan gugatan klarifikasi Partai Demokrat.

Babak kedua ini adalah perihal siapa di balik fitnah Asia Sentinel. Banyak dugaan. Salah satunya menitikberatkan pada lenyapnya nama salah satu pendiri Asia Sentinel, Lin Neumann pasca kehebohan itu. Belakangan terkuak pula bahwa Lin Neumann adalah orang asing yang dekat dengan Indonesia.

Neumann adalah pendiri dan editor dari Jakarta Globe yang dicukongi James Riady, salah satu pengusaha papan atas yang disebut-sebut dekat dengan Joko Widodo. Neuman juga tercatat sebagai direktur Amcham Indonesia.

Neumann bahkan bisa wara-wiri di Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Di medsos sudah beredar foto bersama Neumann dan Kepala KSP Moeldoko. Juga foto bersama Neumann dengan Jokowi. Tidak mungkin Neuman bisa seleluasa ini jika dia cuma orang asing “biasa”.

Baca juga  Bandingkan Era SBY dan Jokowi, Sujiwo Tejo Takut Digeruduk Cebong

Wajar bila publik curiga. Ada permainan kotor di balik laporan Asia Sentinel ini. Permainan kotor untuk membunuh karakter SBY lewat konspirasi orang asing dan pihak-pihak di dalam negeri.

Telisik saja baik-baik. Nyata-nyata laporan Asia Sentinel sudah melangkah kode etik jurnalistik karena hanya berbasiskan satu sumber yakni dokumen gugatan Weston Capital di Mahmakah Agung Mauritius. Tetapi isu ini tetap “digoreng-goreng media mainstrem”.

Kita sama-sama paham bahwa media mainstream sudah dikuasai kubu Jokowi.  Ada Surya Paloh (Metro Grup), Hary Tanoesudidjo (MNC Gorup), Riady bersaudara (Berita Satu Grup) dan akhirnya Erick Thohir (Mahaka Group). Rumornya, Dahlan Iskan yang membawahi Jawapos Grup sedang coba-coba ditarik ke sana. Dengan jaringan media sekuat ini amat gampang bagi penguasa untuk membangun atau tidak membangun opini publik untuk mendukung ambisi kekuasaannya.

Namun, yang paling bikin publik curiga adalah kicauan Teddy Gusnaidi di Twitter. Belum sampai 24 jam anggota Dewan Pakar DPP PKPI ini meminta SBY “diam saja”, tiba-tiba isu Asia Sentinel meledak. Publik curiga Teddy sudah tahu perihal operasi pembunuhan karakter SBY lewat tangan Asia Sentinel ini. Pertanyaannya, dari siapa Teddy tahu? Dari Neuman? Atau jangan-jangan dari KSP?

Baca juga  PAN: SBY Ingin Semua Dapat Dampak Positif dari Pilpres dan Pileg

Jika Asia Sentinel benar dijadikan alat untuk memukul SBY, rusaklah demokrasi di Indonesia. Ini jelas bukan politik yang beradab, bukan politik kaum penganut pancasila. Melainkan politik ala marchiavelli yang dikutuk oleh semua bangsa beradab di dunia. Demi melanggengkan kekuasaan, segala cara dihalalkan.

Apa tujuannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengembosi suara Partai Demokrat dalam Pilpres 2019. Ada kekhawatiran besar di kalangan ini. Jika gerakan “bantu rakyat“ Partai Demokrat sukses merebut hati rakyat, otomatis suara Partai Demokrat semakin besar di Pemilu 2014.

Ujung-ujungnya modal politik Agus Harimurti Yudhoyono untuk berkompetisi di Pilpres 2024 semakin besar pula. Ini bahaya buat para politisi yang sudah berinvestasi habis-habisan untuk merebut kursi Istana sepeninggalan Jokowi.

Oleh: Adi Pramana, pegiat demokrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here