Agar Tidak Buntu, Golkar, Demokrat dan PKS Buat Poros Baru Saja

0
2616
Agar Tidak Buntu, Golkar, Demokrat dan PKS Buat Poros Baru Saja

Pernah pembaca berpikir bahwa ajang Pilpres tahun depan akan ditunda pelaksanaanya atau hanya akan dikuti oleh satu pasang calon saja?, kalau pernah berarti kita sama. Kenapa?, karena arah arah permbicaraan Pilpres yang saat ini tengah berlangsung seperti tengah kesana.

Kedua kandidat kuat saat ini yaitu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Presiden petahana Joko Widodo masih belum memutuskan siapa yang akan mereka ajak berdampingan di Pileg tahun depan. Baik Jokowi sebagai incumbent maupun Prabowo masih disibukkan dengan negosiasi dengan anggota koalisinya dan itu menurut kabar yang beredar akan berlangsung sampai menit akhir.

Kita tahu, bahwa batas akhri pendaftaran calon presiden dan wakil presiden akan ditutup pada tanggal 10 Agustus mendatang. Namun seperti yang sama sama kita ikuti dari media, sampai saat ini negosiasi penentuan nama cawapres masih berlangsung alot dan berliku.

Di koalisi pendukung Prabowo misalnya, bahkan sudah mengeluarkan ancaman keras kepada sang kandidat jika tidak diajak sebagai cawapres, maka partai kader itu akan beralih ke “Toko Sebelah”.

Hal yang hampir sama juga terjadi di kubu koalisi Jokowi. Baru baru ini, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sowan ke kediaman Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono. Airlangga disebut sebut menjadi salah satu kandidat cawapres yag akan mendampingi Jokowi.

Namun, hal itu jelas tidak mudah. Baik di kubu Prabowo maupun di kubu Jokowi, kedua tokoh masih harus menghitung langkah dengan cermat. Akibatnya meski terasa lamban dan menjemukan, teka teki kandidat wapres ini baru akan terjawab pada detik terakhir hari pendaftaran.

Baca juga  “Brankas Suap” di Markas PDIP

Saya memperkirakan semua partai politik saat ini tengah menahan nahan kartunya. Entah itu PDI-P sebagai pemimpin koalisi Jokowi maupun Gerindra sebagai lokomotif pendukung Prabowo.

Rumitnya menentukan cawapres ini bisa dipahami bahwa Pilpres 2019 adalah edisi terakhir dari kedua kandidat. Jokowi di periode ke dua dan Prabowo di ujung senja pencalonannya. Bagi keduanya, salah pilih pendamping akan beresiko pada hasil akhir pilpres.

Karena itu, saling intip dan saling tunggu ini akan berpotensi membuat KPU mengalami kesulitan mengantisipasi apa yang akan terjadi.

UU No 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Presiden juga tidak mengantisipasi adanya calon tunggal atau terjadinya hal dimana tidak ada pasangan capres/cawapres yang akan mendaftar. Bayangkan jika itu terjadi.

Dan malunya lagi, akibat saling tunggu dan saling intip antar kedua kubu koalisi ini berpotensi membuat tahapan Pilpres terganggu.

Saya mencoba menghitung dari sekian banyak nama yang ada sebagai cawapres, hampir semua nama itu berpotensi untuk membentuk koalisi baru. Sekjend Demokrat Hinca Pandjaitan sudah memberi sinyal bahwa poros ketiga bisa saja terbentuk. PKS juga sudah menebar ancaman kepada Prabowo.

Baca juga  Dikunjungi Ma'ruf, Arifin Ilham Ajak Bahas Poligami

Kenapa tidak ketiganya membentuk poros ketiga dan memberi alternatif bagi rakyat selain Prabowo dan Jokowi. Agar apa yang kita takutkan tidak terjadi. Tokh, Golkar dan Demokrat serta PKS adalah tiga kekuatan politik yang solid sampai ke level ranting.

Partai Golkar hingga saat ini terus mempromosikan Airlangga Hartarto menjadi cawapres Joko Widodo. Alasannya Airlangga dinilai berpengalaman bekerja di tingkat legislatif maupun eksekutif.

Selain itu, Golkar juga adalah pemenang pemilu kedua setelah PDI-P. Wajar saja jika mereka meminta jatah Wakil Presiden. Golkar memang memiliki banyak kursi di DPR sehingga Golkar percaya diri bisa menjadi cawapres Jokowi.

Disisi lain, ada tradisi dalam Pilpres, kader Golkar selalu menjadi kandidat. Mulai dari 2004, 2009, 2014 dan kini tentunya momentum yang sama harus dimanfaatkan.

Namun, menjadi cawapres Jokowi juga bukan hal mudah bagi kader partai beringin. Buktinya, sampai saat ini Jokowi belum mengumumkan nama cawapresnya.

Maka jalan keluarnya menurut sebagian kalangan adalah Golkar membuat poros baru bersama partai lain. Itu juga kalau Golkar mau.

Oleh Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here