Ahmad Syaikhu Gigit Jari di Pilgub Jabar, “Asyik” Nggak Asik

0
Ahmad Syaikhu Gigit Jari di Pilgub Jabar, “Asyik” Nggak Asik

Dalam beberapa kali gelaran survei Pilgub Jawa Barat 2018, pasangan Deddy Mizwar- Dedi Mulyadi selalu ditempatkan sebagai kampiun. Dalam simulasi survei tersebut pasangan ini selalu medapatkan elektabilitas di atas 40 persen. Sebuah angka yang cukup menjanjikan untuk mengantarkan pasangan ini agar benar-benar menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur pilihan masyarakat Jabar.

Dalam perjalanan awal, tidak ada yang menyangka kedua nama ini akan bersanding dan bergandeng tangan maju di Pilgub Jawa Barat. Sebelumnya kedekatan Deddy Mizwar yang akrab disapa Demiz ini dengan PKS, digadang-gadang akan berpasangan Ahmad Syaikhu. Namun semua berakhir ketika PKS menyatakan diri akan berkoalisi dengan Gerindra dan mengusung Sudrajat-Ahmad Syaikhu.

Ibarat titik dari atas, hal ini tidak bisa dihandari oleh Syaikhu. Rela atau tidak, Syaikhu harus menerima tawaran tersebut. Perpisahan dengan komunikasi yang baik pun dilakukan oleh Demiz dan Syaikhu.

Namun, perjalanan selanjutnya Demiz dituding oleh PKS berselingkuh dengan Demokrat. Hal itu terkait dukungan yang diberikan partai berlambang mercy tersebut kepada Demiz untuk maju di gelaran lima tahunan pilgub Jabar. Demiz dianggap tidak konsisten dengan sikap politiknya PKS.

Baca juga  Demi Demokrasi Pancasila, Prabowo Harus Lawan “Media Massa Genderuwo”

Padahal adalah hal yang wajar jika seseorang yang ingin berlaga dipanggung politik mencari dukungan politik seluas-luasnya, termasuk apa yang dilakukan Demiz. Mungkin PKS juga lupa, Demiz termasuk salah satu pendiri partai Demokrat. Jadi hubungan historis dan emosional tersebutlah yang tidak dibaca oleh partai dakwah tersebut.

Atau jangan-jangan, menurut saya tudingan PKS tersebut hanya alibi untuk mensahkan pasangan Sudrajat dan Syaikhu. Agar terkesan dramatis, dibuatlah cerita bahwa alasan perpisahan tersebut karena Demiz yang berpindah hati. Namun “gimmick” yang dibuat tersebut malah membuat hilang simpati publik.

Terlihat dalam beberapa gelaran survei pasangan yang diusung Gerindra-PKS tersebut berada di posisi dua terbawah. Angkanya pun tidak sampai menyentuh sepuluh persen. Sebuah angka yang sulit untuk didongrak menimbang pemilihan yang hanya tinggal menghitung bulan.

Partai politik mungkin saja bermanuver sedemikian rupa. Tapi yang pasti, ujung-ujungnya rakyatlah yang akan menilai semuanya. Seperti penggalan lagu Iwan Fals “dunia politik penuh dengan intrik, kilik sana kilik sini itu sudah wajar, seperti orang adu jangkrik, kalau nggak ngilik ngak asik.”

Baca juga  BIN tidak Bekerja di Papua?

Dalam beberapa kali debat di layar kaca nasional, terlihat Syaikhu juga terlihat tidak terlalu bersemangat. Syaikhu lebih banyak senyum dan berbicara dengan bahasa yang normatif. Berbeda dengan pasangannya, Sudrajat terlihat bersemangat untuk menaklukkan panggung.

Mungkin Syaikhu terbebani dan tidak enak hati bertemu dengan Demiz dalam satu frame. Mungkin ia juga menilai keputusan partainya tersebut telah mengkhianati pilihan hatinya. Entah, hanya Syaikhu yang lebih tahu akan hal itu.

Slogan Sudrajat- Ahamad Syaikhu (Asyik) tekesan tidak asik. Terlihat terlalu dipaksakan dalam menyingkat sebuah nama. Ya, seperti halnya hal ihwal paksaan partai pengusung yang mencalonkan mereka.

Tapi yang pastinya, dengan melihat elektabilitas pasangan Deddy-Dedi yang terus meroket dan bertahta di puncak utama, agaknya Syaikhu gigit jari dengan pilihan partainya.

Ahmad Dermawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here