Akrobat Politik Duo Oposisi, Segerbong Lagi dengan Parpol Megawati

0

Belum hilang dari ingatan tatkala Hidayat Nurwahid (HNW) dengan gagahnya mengungkap alasan kenapa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memilih mundur dari koalisi pendukung Deddy Mizwar (Demiz) di Pilkada Jawa Barat. Wakil ketua Majelis Syuro PKS itu mengisyaratkan, mengusung Demiz sama artinya dengan mendukung kepentingan Partai Demokrat di Pemilu 2019.

Bagi Gerindra demikian pula. Karena enggan seperahu dengan Demokrat, mereka memilih untuk mengorbitkan kader sendiri. Tujuan mereka satu, demi kemenangan Prabowo Subianto di 2019. Lucunya, di Pilkada Jawa Timur, kedua parpol oposisi pemerintah itu malah ikut mendukung calon dari partai penguasa, PDI Perjuangan. Parpolnya Joko Widodo, lawan politik Prabowo sebenarnya.

Satu-satunya alasan Gerindra dan PKS begitu khawatir dengan sepak terjang Demokrat adalah karena partai berlambang bintang mercy ini tengah menggeliat bersama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Tokoh muda potensial yang mulai menasional. Sejak AHY terjun ke pentas politik, Prabowo seperti terusik. Apalagi setelah tawaran koalisi yang diajukannya kala berkunjung ke Cikeas belum mendapat tanggapan yang memuaskan. AHY mulai dianggap sebagai ganjal yang bisa merintangi ambisi Prabowo merengkuh tahta orang nomor satu di negeri ini.

Memang, baik Prabowo maupun AHY dianggap memiliki ceruk pemilih yang relatif sama. Kelompok muslim yang tidak suka dengan rezim penguasa. Bisa jadi, Prabowo menganggap popularitas AHY hanya akan menggerus elektabilitasnya di Pemilu 2019. Karenanya, Gerindra selalu berupaya menjaga jarak di pilkada, bahkan sengaja berhadap-hadapan, agar Demokrat tidak bertambah kuat. Dua rekan koalisi yang kerap mengekor Gerinda, yakni PKS dan PAN, juga selalu diupayakan untuk tetap “patuh” kepada kepentingan politik Prabowo.

Contohnya seperti di Pilkada Jabar. PKS yang telah berkomitmen dengan Demokrat untuk mengusung Demiz-Ahmad Syaikhu, malah berpaling ke Gerindra. Keputusan itu pun diambil hanya berselang tiga hari setelah Presiden PKS Sohibul Iman berkunjung ke kediaman Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hal yang sama juga dilakukan PAN, meski parpol besutan Zulkifli Hasan itu lebih mengedepankan etika dalam berpolitik. Mereka tak serta-merta memindahkan dukungan, namun menunggu hingga detik-detik akhir. Mungkin saja untuk menghargai rekan yang mereka tinggalkan.

Baca juga  Ahed Tamimi, Simbol Perlawanan Generasi Baru Palestina

Yang menarik di sini adalah alasan PKS yang kurang masuk akal. Menurut HNW, PKS berpaling ke Sudrajat-nya Gerindra karena Demiz menekan pakta integritas untuk mendukung calon Demokrat di pilpres mendatang. Apa yang salah dari itu? Bukankah Demiz kader Demokrat? Jadi wajar jika nantinya ia mematuhi keputusan yang ditelorkan parpol yang manaunginya. Apabila Demokrat mengusung AHY, Demiz wajib ikut serta memenangkannya. Bukankah begitu aturan mainnya dalam roda perpolitikan kita?

Tetapi PKS terlanjur mencap hal itu sebagai pelanggaran etika dalam berkoalisi. Maka dibangunlah narasi bahwa Demiz telah melakukan hal yang teramat tabu, sehingga langkah ‘pengkhianatan’ mereka sudah merupakan keputusan yang tepat. Sayangnya, di daerah lain, mereka melanggar ucapannya sendiri. Baik PKS maupun Gerindra sama-sama berkoalisi dengan PDIP. Parpol yang di Pilkada Jakarta lalu dicap oleh pendukung mereka sebagai ‘partai pendukung penista agama’.

Parpol besutan Megawati Soekarnoputri ini tentu saja tidak akan mau mendukung Prabowo di pemilu mendatang. Janji dukungan di 2014 saja berani mereka langgar, apalagi di 2019 nanti, kala posisi mereka begitu kuat sebagai petahana. Jadi kenapa mereka tetap saja mau mendukung kandidat PDIP dan PKB ini? Jika di Jabar mereka dengan bangga membusungkan dada, kenapa di Jatim bisa bersimpuh malu di hadapan partai penguasa?Katanya Pilkada 2018 adalah batu loncatan untuk Pilpres 2019, tapi alih-alih bertempur dengan parpol pesaing, kedua parpol oposisi ini malah takluk duluan di provinsi dengan jumlah pemilih terbanyak di Indonesia.

Politik itu memang ilmu tentang kemungkinan. Apa pun bisa terjadi. Lawan hari ini bisa menjadi rekan di esok hari. Tetapi garis ideologi tetap harus dipertahankan. Konsistensi harus diperlihatkan. Jangan bermain akrobat politik. Kemarin umbar pernyataan begini, namun besoknya beri komentar yang bertentangan lagi. Itu namanya plin-plan. Pemilih bisa bingung, ini parpol serius atau tidak memperjuangkan aspirasi mereka, atau jangan-jangan hanya bernafsu mengejar kekuasaan belaka, dengan jualan emosional dan sentimen keyakinan rakyatnya.

Baca juga  Kasus Kekerasan terhadap Perempuan, Jakarta Peringkat Terburuk

Oleh: Muhammad Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here