Ancaman Sesungguhnya terhadap NKRI

0
16611
Sebanyak 78 pekerja asing asal Tiongkok berbaris saat hendak didata oleh Direktorat Reskrim Umum (Ditreskrimum) Polda Kalbar. Kini Kemenkumham akan meningkatkan pengawasan sampai ke desa desa

Mengawali artikel ini saya ingin mengutip dua tokoh besar pendiri bangsa yaitu Dwi Tunggal Proklamator Kemerdekaan Indonesia Soekarno – Hatta. Bung Karno pernah menyatakan: “Kita bangsa besar, kita bukan bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan meminta-minta, apalagi jika bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bistik tapi budak”. Kutipan kedua adalah pernyataan Bung Hatta: “Jatuh bangunnya negara ini sangat bergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan keperdulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta.”

Ada hal yang menarik dari pernyataan di atas dan sangat relevan denga situasi kondisi berbangsa dan bernegara kita saat ini meski, meski penggalan kalimat tersebut diucapkan puluhan tahun silam semasa hidup kedua tokoh tersebut. Hanya kecintaan luar biasa kepada bangsalah yang membuat Bung Karno dan Bung Hatta mampu menelurkan kalimat itu karena kemampuan itu adalah kemampuan melihat ancaman serius yang terus bergulir, menggelinding mengancam kedaulatan bangsa yang dengan susah payah dimerdekakan.

Situasi dan Kondisi serta Realitas Berbangsa dan Bernegara

Realitas politik saat ini yang terjadi saat ini memang sangat menguras energi bangsa , yang seharusnya energi tersebut bisa dimanfaatkan untuk membangun bagsa ini menjadi bangsa yang kuat. Sayangnya kelemahan kepemimpinan telah membuat energi publik terkuras percuma dan cenderung mengakibatkan situasi yang tidak kondusif di tengah masyarakat. APBN yang terseok-seok, hutang yang semakin menggunung, ekonomi yang tidak kunjung bertumbuh, penegakan hukum yang belum berkeadilan serta kondisi politik yang terus menunjukkan tanda-tanda semakin memanas adalah indikator-indikator betapa bangsa ini sedang tidak berada dalam situasi dan kondisi yang baik. Tidak terbantahkan bahwa agenda politik pilkada serentak dan serbuan tenaga kerja asing Tiongkok serta geliat-geliat tumbuhnya komunisme gaya baru menambah kekhawatiran publik atas kondisi bangsa. Mengapa semua itu tumbuh subur dan seolah terbiarkan?

Kondisi politik Jakarta sebagai miniatur Indonesia adalah tolok ukur kondisi bangsa ini secara keseluruhan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tidak bisa dinafikan bahwa memanasnya suhu poltik tidak lepas dari Pilkada DKI Jakarta yang memang sangat mendidihkan suhu politik. Posisi cagub Basuki Tjahaja Purnama yang saat ini menjadi terdakwa penistaan agama adalah salah satu faktor yang berkontribusi besar dalam menaikkan suhu politik Jakarta dan berpengaruh secara nasional. Permasalahan hukum tersebut akhirnya terseret ke mana-mana ketika jutaan Umat Islam turun ke jalan menuntut penegakan hukum kepada Ahok. Sayangnya niat tulus penegakan hukum itu justru dipelintir sebagian pihak yang mengaitkan gerakan Umat Islam tersebut dengan intoleransi dan menjadi ancaman kebinekaan. Dan diseretnya permasalahan hukum ini menjadi ancaman intolerasi dan ancaman kebinekaan oleh kelompok tertentu justru menjadikan masalah hukum bergeser menjadi masalah politik. Ujung-ujungnya, banyak pihak terseret atau diseret paksa bahkan dituduh dengan fitnah yang keji.

BACA JUGA

Baca juga  Bandung Kota “Terkorup”; Kegagalan Kepemimpinan Ridwan Kamil?

Politisi Non Muslim Berdagang Islam

Kebebasan Berbicara dan Stabilitas Pembangunan

 

Ancaman Kepada NKRI

Dari uraian singkat di atas, tentu saat ini ada dua hal yang patut kita tempatkan di dalam ruang kotak pertanyaan tentang benarkah NKRI terancam dan apa ancaman sesungguhnya kepada NKRI. Ancaman kepada negara pada umumnya bersumber dari ancaman yang berasal dari luar dan dari dalam. Dari segala bentuk rupa dan bermacam ancaman yang mendera bangsa, yang paling besar saat ini adalah ancaman terhadap kedaulatan ekonomi politik. Bangsa sedang berjalan secara sadar menuju sebuah situasi yang seakan dengan sukarela kita mengiklaskan diri untuk dijajah secara ekonomi politik oleh kekuatan ekonomi politik asing.

Pemimpin yang semestinya mengarahkan kemudi bangsa ini kepada jalan cita-cita luhur kemerdekaan, justru mengarahkan jalur kemudi bahtera Indonesia menuju satu arah yang akan menempatkan bangsa menjadi tidak berdaulat. Atas nama pembangunan infrastruktur, kita kemudian secara sadar menjadikan diri bangsa lemah, menjadi bangsa tempe yang mana hal tersebut sangat ditentang oleh Bung Karno sebagaimana kutipan pernyataannya di atas. Serbuan tenaga kerja asing saat ini yang berbungkus investasi adalah fakta nyata atas nama infrastruktur kita menjadi bangsa yang mudah di atur dan didikte bangsa asing.

Tanpa sikap keberpihakan dan tidak berniat melindungi tenaga kerja kita, pemerintah malah menciptakan lapangan kerja bagi orang asing. Ironisnya bahwa semua sumber dana untuk infrastruktur itu adalah hutang yang akan menjadi beban setiap individu atau setiap orang warga negara Indonesia. Ketika hutang menjadi beban rakyat, namun yang menikmatinya justru adalah orang asing, maka di situlah ancaman sesungguhnya kepada rakyat dan ancaman nyata bagi ekonomi politik bangsa ini. Kedaulatan ekonomi yang hancur maka kemudian tentu akan diikuti kehancuran kedaulatan politik, karena kita akan mudah ditekan dan didikte bangsa asing.

Propaganda Penguasa

Menjadi pemimpin itu memang tidak mudah dan menjadi penguasa itu bukan hal yang ringan. Namun dengan keiklasan dan keberpihakan kepada bangsa tentu semua yang dilakukan tidak akan mendapat resistensi atau penolakan dari masyarakat. Dan tidak perlu harus menggunakan propaganda bahkan menggerakkan kekuatan intelijen untuk melakukan propaganda mencipatakan sesuatu dan membuat sesuatu seolah – olah ada padahal tidak ada demi kepentingan mempertahankan kekuasaan. Siapapun yang memerintah jika bekerja menjadi pelayan rakyat dan menempatkan kepentingan bangsa di atas segala kepentingan, tidak perlu harus bersusah payah mempertahankan kekuasaan karena kekuasaan itu akan bertahan dengan sendirinya.

Kita melihat belakangan terutama terkait polemik penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur non aktif yang juga Calon Gubernur DKI Jakarta saat ini yaitu Basuki Tjahaja Purnama, ada upaya yang sangat keras membentuk opini melalui propaganda-propaganda yang dilakukan secara terbuka maupun tertutup bahwa gerakan umat Islam yang menuntut penegakan hukum yang berkeadilan adalah ancaman bagi kebinekaan dan sekaligus ancaman bagi negara. Tidka cukup sampai di situ kemudian baru-baru ini diikuti penangkapan terhadap terduga pelaku teror yang bermaksud melakukan peledakan bom. Semua seolah menyudutkan dan menyerang gerakan umat Islam disusupi kekuatan radikal teroris.

Kepentingan politik sangat kental terlihat dalam semua rentetan kejadian tersebut manakala Presiden RI Ke 6 Soesilo bambang Yudhoyono dikait-kaitkan secara keji dengan semua peristiwa tersebut. Mengapa SBY harus dikait-kaitkan meski tanpa bukti? Jawabannya adalah satu, semua ini demi kepentingan politik karena Putra pertama SBY, Agus Harimurti Yudhoyono ikut serta sebagai calon Gubernur DKI dan dianggab sebagai lawan kuat yang sulit dilawan, maka fitnah menjadi halal.

Kebijakan yang Tidak Nasionalis

Dengan demikian, benarkah NKRI terancam? Bagi saya sendiri jawabannya adalah benar dan ancaman itu bersumber dari pemerintah sendiri dengan segala kebijakannya yang tidak memiliki cita rasa nasionalisme dan tidak melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Ancaman itu bukan seperti opini yang dibangun demi kepentingan politik yaitu adanya ancaman radikalisme dan ancaman intoleran terhadap kebinekaan. Ancaman sesungguhnya adalah kebijakan yang tidak nasionalis.

Oleh: Ferdinand Hutahaean (Rumah Amanah Rakyat)

OPINI TERKAIT

Baca juga  Politik Survei, Seolah Jokowi Pasti Dua Periode dan Pilpres Hanya Jadi Pertarungan bagi Wapres

SARA dan Masa Depan Politik Bhinneka

Benar Secara Hukum, Salah di Aras Etika Politik

Panglima Sudirman dan Optimisme Tahun Baru

Budaya Politik Lama di Era Baru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here