“Anunya” Jokowi Kabur Viral, Pemimpin Jangan Nganu

0
2979
“Anunya” Jokowi Kabur Viral, Pemimpin Jangan Nganu

Akhir-akhir ini ada-ada saja tingkah Jokowi yang bikin masyarakat gerah. Beberapa waktu lalu warganet dibuat geram dengan ide Jokowi tentang beternak kalajengking. Pidato Jokowi tersebut dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian pemerintah terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang kian terjepit.

Baru-baru ini juga viral cuplikan video Jokowi saat diwawancara tiba-tiba “anunya” kabur. Terlihat dalam video tersebut Jokowi sedang ditanyai oleh wartawan yang ingin meminta informasi dan keterangan darinya. Entah tidak bisa menjawab atau takut salah menjawab, Jokowi tiba-tiba menunjuk ke arah belakang wartawan sambal berkata “eh..itu anunya”. Saat wartawan menoleh kebelakang, Jokowi segera memakai jurus seribu bayangan kabur meninggalkan wartawan.

Ada yang menganggap tingkah Jokowi tersebut lucu. Mereka menganggap Jokowi sukses mengerjai para awak media. Apa yang ditunjukkan Jokowi tersebut menurutnya kocak dan membuat gelak tawa.

Namun, menurut saya apa yang ditunjukkan Jokowi tersebut adalah bentuk kegagalan Jokowi sebagai leader (pemimpin). Hal yang perlu menjadi perhatian adalah negara ini bukan republik dagelan yang diisi dengan gelak tawa dan hiburan nyeleneh seperti itu. Nasib 261 juta jiwa penduduk Indonesia terletak pada kekuasaan yang ada ditangan pemimpinnya. Bukan main-main.

Dilansir dari Inc Asean, ada empat kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin. Empat kemampuan ini diyakini sesuatu yang harus dikuasi pemimpin besar dimasa mendatang.

Pertama adalah kemampuan berkomunikasi. Kemampuan komunikasi adalah kemampuan untuk menyampaikan  atau mengekspresikan pemikiran, perasaan, keinginan, melalui komunikasi verbal maupun non-verbal. Hal ini dilakukan guna mendapatkan pengertian dari orang lain.

Baca juga  Istana Bantah KH Ma’ruf Amin Lakukan Politisasi Agama

Pemimpin yang mampu mengkomunikasikan ide, gagasan, perasaan, perhatian, dan keinginannya dengan baik, dianggap akan lebih mampu menghindari konflik. Selain itu, pemimpin yang mempunyai kecakapan berkomunikasi diyakini dapat bernegoisasi dan berkolaborasi di level yang lebih tinggi. Menurut Marcel Schwantes, kemampuan ini akan dibutuhkan untuk masa yang akan datang, terutama saat era digital dan komunikasi makin sering dilakukan tanpa tatap muka.

Kemampuan kedua yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah membina dan mengarahkan. Dalam menjalankan sebuah visi dan misi, kebijakan, maupun program dibutuhkan kerjasama yang tertata dengan baik dari seluruh elemen. Hal tersebut dapat berjalan baik apabila ada pembinaan dan pengarahan dari pemimpin puncak.

Kemampuan ketiga adalah peka terhadap lingkungan sekitar. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bekerja tanpa mengorbankan orang-orang yang berada disekitarnya. Pemimpin dalam kemampuan ini sukses membangun keseimbangan hasil dan produktivitasnya dengan memahami kebutuhan lingkungannya.

Terakhir, positive mindset. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menularkan pemikiran-pemikiran positif kepada yang dipimpinnya. Hal ini akan mendorong performa semua lini untuk dapat bekerja dengan rasa antusias dan bahagaia.

Dari keempat kemampuan di atas, dapat dilihat Jokowi gagal dalam memimpin sebuah pemerintahan. Jokowi sering terlihat ling-lung saat ditanyai awak media. Jokowi juga terkesan tidak bisa apa-apa tanpa teks pidato yang dibacanya. Jokowi gagal dalam mengkomunikasikan gagasan dan programnya secara verbal.

Baca juga  Remaja 14 Tahun Jadi Calon Gubernur di AS

Jokowi sebagai Presiden juga dianggap gagal dalam membina dan mengarahkan bawahannya. Lihat saja pernyataan para menteri Jokowi yang sering offside dalam menyikapi kritik masyarakat atas kebijakan pemerintah. Ada menteri yang menyuruh diet dikala harga pangan naik. Ada juga menteri yang menyuruh masyarakat untuk menanam cabe dipekarangan rumah sendiri agar tidak panik disaat harga cabe naik.

Kepekaan Jokowi terhadap sejumlah persoalan rakyat juga dinilai minus. Reaksi Jokowi lempar-lempar souvenir di tengah jalan memperlihatkan jarak antara pemimpin dan rakyat. Ketimbang menghampiri, Jokowi memilih melempar layaknya seperti memberi makan sekumpulan kera.

Pemerintahan Jokowi tersisa satu tahun lagi, sementara itu saat ini sudah bermunculan gerakan #2019GantiPresiden. Namun secara hasil survei Jokowi masih unggul dari pesaingnya. Tapi tidak tertutup kemungkinan Jokowi akan terjungkal di 2019 jika dirinya tetap “nganu”, tidak menata dan memperbaiki kemampuan kepemimpinanya.

Rafatar Abdul Gani, Analis Politik Indonesia Bermartabat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here