Apa Kata Dunia, Jika di Indonesia Capresnya Tunggal

0
1007
Apa Kata Dunia, Jika di Indonesia Capresnya Tunggal, pada tahun 2019, pelaksanaan Pileg akan dilakukan serentak dengan Pilpres.

Pemilihan Presiden baru akan digelar pada tahun depan. Namun, partai politik sudah bergerak cepat. Maklum, berbeda dengan Pilpres sebelumnya yang dilakukan setelah Pemilihan Legislatif, tahun 2019, pelaksanaan Pileg akan dilakukan serentak dengan Pilpres.

Pendaftaran Calon Presiden dan Wakil Presiden akan dilakukan pada bulan Agustus mendatang, jika dihitung mundur dari saat ini, maka waktu yang tersisa untuk mendaftarkan pasangan Capres/Cawapres praktis tersisa lima bulan saja.

Yang menarik, semakin dekatnya pelaksanaan Pilpres dan Pileg tersebut, kiat semakin menyaksikan banyaknya persoalan yang tidak siap diantisipasi. Salah satu masalah yang muncul serta berpotensi akan menggerus bobot demokrasi itu sendiri adalah berkembang dan berpotensinya pelaksanaan Pilpres dengan hanya menyertakan satu pasangan kandidat. Nah.

Tidak ada aturan yang dilanggar dalam UU No 17 tahun 2017 terkait Pilpres, namun tentu dalam kehidupan baik itu kehidupan sosial bermasyarakat apalagi berdemokrasi, ada aturan yang tak terihat juga. Calon tunggal bisa saja dilakukan, dan dibolehkan karena tidak ada aturan yang dilanggar, apakah pantas hal itu direalisasikan.

Sebanyak 250 juta warga negara ini, kenapa sangat susah sekali mencari dua atau tiga orang untuk dicalonkan sebagai Presiden dan Wakilnya. terlalu sulitkah bagi partai politik untuk menerima aspirasi masyarakat daripada mempetahankan ego mereka.

Baca juga  Pramono Anung: Jokowi Sudah Kantongi Nama Nama Cawapres

Pernahkah partai politik membayangkan jika calon tunggal itu akan merusak esensi dari demokrasi itu sendiri. Terbayangkah oleh mereka jika pada saat Pilpres yang dipilih rakyat bukan pasangan Capres/Cawapres yang diusung partai tapi kotak kosong. Apa kata dunia, jika di Pilpres langsung yang berlangsung di negara yang mengaku paling beragam dan dijuluki tempatnya demokrasi tumbuh tapi yang menang pilpres kotak kosong. Ini gila yang sebenarnya

Ada usulan memang dari beberapa penulis yang disampaikan dalam artikel mereka, kembalikan saja pemilihan presiden ke Sidang Istimewa MPR seperti masa Orde Baru. Tentu semua kita masih ingat saat bagaimana Presiden Soeharto menjadi satu satunya Presiden dalam setiap gelaran Pilpres. Tinggal ketok palu saja. Selesai, tapi apakah mau kembali ke masa itu.

Rabalah jidat kita, saat ini. Sebanyak 250 juta warga negara ini pastilah ada dua atau tiga orang lagi anak bangsa yang bisa diajukan sebagai Presiden selain yang hari ini disebut sebagai kandidat calon tunggal.

Baca juga  Demokrasi dan Politik Kolonial Belanda ala Jokowi

Menurut saya, munculnya calon tunggal akan memicu keresahan publik. Resah karena sepertinya partai politik gagal melakukan kaderisasi dan atau bahkan mungkin juga partai politik akan dianggap tidak mau mendengarkan aspirasi rakyat. Pilpres seharusnya menjadi ajang pertaruhan demokrasi guna mencari pemimpin nasional yang sesuai dengan kehendak rakyat.

Keresahan lain, Demokrasi telah rusak dan makin kehilangan esensinya. Demokrasi telah menyediakan ruang kontestasi, opsi dan dialektika untuk memproduksi produk terbaik bagi rakyat. Jangan sampai, kontestasi dan dialektika kritis itu rakyat “dipaksa” untuk memilih yang tidak mereka inginkan.

Karena itu, jika fenomena ini terlanjut dan kemungkinan calon tunggal akan terealisasi, sebaiknya masyarakat melalui organisasi sosial meminta Mahkamah Konstitusi mengeluarkan fatwa. Ini dilakukan untuk mengantisipasi hal yang tidak kita inginkan tersebut. Ibarat kata pepatah, kita harus “Meminta Sebelum Hanyut”.

Oleh Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here