Bak Cepot, Anton Charliyan Hadirkan Kelucuan Dipanggung Debat

0
Bak Cepot, Anton Charliyan Hadirkan Kelucuan Dipanggung Debat

PolitikToday – Debat kandidat merupakan ajang adu gagasan dan visi misi yang ditawarkan kandidat kepada konstituennya. Begitu juga dengan debat kandidat calon Gubernur Jawa Barat pada Senin lalu yang di pandu oleh Rosi. Selain sebagai wahana bagi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi terkait kandidat pasangan calon, acara ini juga menawarkan hiburan gratis.

Hiburan yang dimaksud adalah tingkah lucu salah seorang kandidat di atas podium. Acara yang sifatnya serius ini tiba menjadi seperti penampilan wayang Cepot yang terkenal dari tanah Pasundan. Dengan logat dan pembawaannya tersebut sukses mengocok para hadirin yang hadir dan penonton yang ada di rumah.

Pada saat sesi tanya jawab pada pasangan Tubagus Hasanuddin- Anton Charliyan, disana gelak tawa itu pecah. Anton Charliyan yang diberikan kesempatan oleh pasangannya Tubagus Hasanuddin memaparkan sejumlah hal yang ditanyakan kepada pasangan ini. Dari mulutnya keluar istilah-istilah yang mengocok perut seperti Molotot.com, ESJE (Eling Sebelum Jadi Edan/ sadar sebelum jadi gila), Jabar Edun (Jabar Ekonomi Dunia Network), Turkamling, dan sadarkum (kadang sadar kadang kumat).

Entah ini memang program yang memang telah dipersiapkan oleh tim pemenangannya atau sekedar banyolan pelepas jawab dari moderator tentu ini dipulangkan kepada yang bersangkutan. Tapi apa yang ditampilkannya itu tidak lazim dipanggung debat kandidat. Berharap menjadi berbeda, yang didapat hanya nilai negative.

Baca juga  Zulhas Sebut Kedatangan Prabowo ke Monas Bukan Kampanye

Penilaian ini terlihat dari hasil penilaian yang dilakukan Balitbang Kompas, dimana pasangan Tubagus Hasanuddin mendapatkan penilaian terendah dari semua kandidat. Pasangan yang diusung PDI Perjuangan ini hanya mendapatkan penilaian 6,6 persen dari semua elemen peforma yang ditampilkan paslon dalam acara debat. Jadi wajar anggapan masyarakat jika pasangan ini hanya menjadi bintang penghibur dibandingkan memaparkan visi misi mereka kepada public sebagai Cagub dan Cawagub.

Dari tiga elemen yang dianalisa (penguasaan masalah, program kerja, cara berkomunikasi), semua elemen ini gagal diraih maksimal oleh pasangan yang menamakan diri Hasanah ini. Untuk penguasaan masalah pasangan ini hanya mendapat nilai sebesar 6 persen. Sedangkan angka tertinggi didapatkan oleh pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dengan penilaian 7,3 persen.

Begitu juga dengan program kerja yang ditawarkan. Pasangan yang menawarkan program kerja dengan istilah-istilah lucu itu juga gagal meyakinkan publik. Pasangan ini menduduki posisi terakhir dengan penilaian hanya sebesar 6,2 persen.

Terakhir elemen yang diukur adalah cara berkomunikasi. Ternyata dialek Sunda yang dipakai Anton Charliyan tidak serta merta membuat audiens luluh dan menyukainya. Cara berkomunikasi pasangan ini dianggap paling buruk dari tiga pasangan calon lainnya. Dalam analisanya, Balitbang Kompas memberikan angka 6,6 persen saja.

Persaingan ketat terjadi antara pasangan calon no 1 dan 4, yaitu pasangan Rindu dan Deddy-Dedi. Dengan selisih nol koma sekian, pasangan ini membuktikan pengalaman dalam pemerintahan membawa mereka cakap dalam semua elemen yang dinilai tersebut. Walaupun pasangan Deddy-Dedi, contohnya, sempat diserang oleh Hasanah dengan pertanyaan seputar Meikarta, pasangan ini malah sukses menjawab dan menjelaskannya ke publik. Hal itu malah menguntungkan Deddy-Dedi, bukan menjatuhkannya.

Baca juga  Elektabilitas Prabowo-Sandi Tembus 40%, Sandi: Saya Harus All Out

Analisa Balitbang Kompas ini juga sejalan dengan hasil survey yang mereka lakukan. Dalam survey yang dilakukan Kompas pasangan Hasanah ini masih tertinggal jauh elektabilitasnya dari pasangan calon lainnya. Dalam survei Kompas tersebut pasangan Hasanah elektabilitas (tingkat keterpilihannya) hanya 3,1 persen saja.

Jadi perlu diingat, memimpin bukan hanya sekedar syahwat semata. Namun memimpin juga masalah kompetensi dan tanggung jawab. Sepertinya pasangan Hasanah harus lebih meningkatkan kompetensinya agar dapat meyakinkan masyarakat pada debat putaran selanjutnya. Selain itu, pasangan ini juga harus mempunyai tanggung jawab dengan amanah dukungan kepada mereka agar tidak memalukan pihak yang mengusung. Melucu boleh saja, pemimpin tidak harus tegang dan kaku, tapi tempatkanlah semua itu sesuai dengan tempatnya.

Dadang Ruhmana, warga Tasikmalaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here