Balada Ma’ruf Amin, Ditolak Ahokers, Dijauhi GNPF

0
65163
Balada Ma’ruf Amin, Ditolak Ahokers, Dijauhi GNPF
Ma'ruf Amin (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Kubu petahana tengah dirundung dilema. Pasalnya, dalam penunjukan pendamping Jokowi, mereka salah strategi. Maksud hati ingin merebut suara oposisi, namun yang terjadi justru menggembosi suara pendukung sendiri.

Penunjukan Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memang menyisakan banyak persoalan. Hal itu disebabkan karena dirinya memiliki ‘masa lalu kelam’ dengan pendukung penguasa. Ia dianggap sebagai tokoh utama yang membuat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), harus merasakan dinginnya lantai penjara.

Jelang Pilkada DKI Jakarta pada setahun yang lalu, Ma’ruf selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan pendapat dan sikap keagamaan terkait penistaan agama yang dilakukan Ahok. Lembaga ini menyatakan mantan gubernur itu bersalah dan harus menjalani konsekuensi hukum.

Berdasarkan pendapat MUI itulah, gelombang desakan agar Ahok dihukum kian menguat. Bahkan, sejumlah ulama sampai membentuk sebuah wadah yang mereka namakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI. Gerakan ini mendapat dukungan yang sangat besar dari umat Islam di Indonesia.

Hal inilah yang memicu kebencian para pendukung Ahok, atau yang dikenal sebagai Ahokers, terhadap Ma’ruf. Kebencian yang tak kunjung pudar hingga saat ini. Itu karena mereka masih meyakini Ahok tidak bersalah.

Bagi mereka, tuduhan penistaan agama tak lebih dari siasat politik dalam perebutan kekuasaan di Ibu Kota. Jadi, sikap dan pendapat MUI adalah penyebab Ahok kalah dalam kontestasi dan kemudian menjalani hari-hari di dalam bui.

Maka, wajar, saat koalisi partai politik pengusung Jokowi mengumumkan Ma’ruf sebagai cawapres, banyak Ahokers yang tidak terima. Bahkan, tak sedikit pula yang merasa dikhianati, lantaran penguasa dianggap melupakan begitu saja ‘dosa’ Ma’ruf terhadap junjungan mereka.

Ini terbukti dari reaksi sejumlah dedengkot Ahokers yang mengaku enggan dipertemukan dengan dengan Ma’ruf. Termasuk adik kandung Ahok, Fifi Lety Indra, yang menertawakan rencana pertemuan Ma’ruf-Ahokers tersebut. Menurut sebagian mereka, tak perlu ada pertemuan sebelum Ma’ruf sowan dulu ke Ahok.

Seiring penolakan dari Ahokers ini, kelompok GNPF yang dulu sangat menghormati Ma’ruf, juga terkesan menjauh. Kedekatan yang terjalin selama ini, juga tidak serta merta membuat mereka melupakan begitu saja sikap arogansi penguasa. Seperti tindakan kriminalisasi kepada ulama dan pembelaan terhadap penista agama.

Hal itu terlihat dari keinginan Ma’ruf untuk menemui Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, di Mekah, Arab Saudi. Ketua Dewan Pembina GNPF itu hanya berkenan bertemu jika tujuannya silaturrahmi. Tapi kalau untuk pembicaraan politik, ia menolak.

Begitu pula dengan GNPF di Tanah Air. Mereka menjatuhkan pilihan politik kepada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, meski keduanya bukan berasal dari kalangan ulama. Status ulama yang disandang Ma’ruf, tidak bisa membuat mereka mendukung petahana.

Padahal, salah satu tujuan Ma’ruf didapuk sebagai pendamping, lantaran Jokowi ingin meraih simpati dari kalangan ini. Ia hendak menghilangkan stigma anti-Islam, yang selama empat tahun terakhir melekat kepada pemerintahannya. Sayang, langkah itu menjadi sia-sia.

Beginilah balada nasib Ma’ruf. Ia ditolak Ahokers, dijauhi oleh GNPF. Pendukung penguasa tidak mempercayai dia sepenuhnya, sementara kalangan oposisi sudah kelihangan simpati terhadapnya. Bisa disimpulkan, keberadaannya justru hanya merugikan petahana.

Oleh: Muhammad Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here