Bangkit dari Mati Suri, Mahasiswa Desak Turunkan Jokowi

0
2618
Bangkit dari Mati Suri, Mahasiswa Desak Turunkan Jokowi
Pengunjuk rasa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berupaya menghindari serbuk putih yang disemprotkan petugas menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), saat berunjuk rasa mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (14/9). Dalam aksi tersebut pengunjuk rasa mengkritisi tentang masalah kemandirian pangan, kesejahteraan petani, pelanggaran HAM, dan kestabilan ekonomi. (ANTARA FOTO/R. Rekotomo)

Gema reformasi mulai mendengung lagi di sejumlah daerah di Nusantara. Para mahasiswa yang dulu dikenal sebagai cowboy kota, pembela nasib rakyat melalui unjuk rasa, kini kembali turun ke jalanan. Desakan mereka senada, meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun dari jabatannya.

Seperti yang terjadi di Bandung akhir pekan lalu, Jumat (7/9/2018). Aksi ini awalnya dipicu oleh kegagalan pemerintah dalam menangani pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Beberapa hari sebelumnya, rupiah memang terus terpuruk hingga menyentuh level Rp15.000. Ini merupakan level terendah sejak krisis moneter 20 tahun lalu.

Unjuk rasa mahasiswa se-Bandung Raya itu rupanya memantik gelombang aksi di berbagai daerah lainnya. Di antaranya, di Pekanbaru Riau, pada Senin (10/9/2018). Ribuan mahasiswa yang turun ke jalan tersebut bahkan sempat menduduki gedung DPRD provinsi. Mereka mendesak Jokowi segera lengser dari kursi kepresidenan karena dianggap gagal menstabilkan nilai rupiah.

Aksi serupa kemudian juga terjadi di Aceh, Lampung, Makassar, Sulawesi Selatan, Palu, Sulawesi Tengah. Di Jakarta, mahasiswa juga berencana menggelar aksi, namun batal karena mereka khawatir aksinya ditunggangi. Namun yang pasti, mereka menyuarakan protes yang sama.

Setidaknya ada tujuh tuntutan yang mereka suarakan. Yakni, turunkan Jokowi, kementerian terkait harus membenahi sektor ekonomi, meminta TNI/POLRI wajib netral pada Pilpres 2019, copot Lukman Hakim sebagai Menteri Agama, turunkan harga BBM, stop impor, dan hapus Perpres nomor 20 tahun 2018 tentang tenaga kerja asing (TKA).

Semua desakan ini lahir karena imbas ketidakpercayaan mahasiswa kepada pemerintah. Sudah empat tahun berkuasa, namun rezim Jokowi belum menunjukkan prestasi membanggakan dalam menyejahterakan rakyatnya. Penagakan hukum masih tebang pilih dan bidang ekonomi amburadul. Daya beli masyarakat melorot, sementara lapangan kerja masih juga sulit didapat.

Memang selama ini ketidakpuasan akan kinerja rezim bisa diredam. Itu terlihat dari gerakan 2019 ganti presiden yang marak digelar kalangan oposisi. Mereka sudah tak percaya lagi kepada kepemimpinan Jokowi, tapi masih berharap mengganti presiden seusai konstitusi di pilpres nanti. Namun kesabaran seperti itu tak lagi dimiliki kalangan mahasiswa. Mereka menginginkan Jokowi agar turun dengan segera.

Ada hal positif memang dari aksi mahasiswa ini. Setidaknya menunjukkan bahwa mereka masih peduli. Tidak seperti selama ini, kala mereka dianggap mati suri lantaran selalu berdiam diri. Seakan tak ambil pusing dengan semua kebijakan pemerintah, meski dirasa menyusahkan bagi rakyat di negeri ini.

Apalagi, dengan kejadian setahun silam yang telah menorehkan aib dalam perjalanan panjang pergerakan kaum mahasiswa. Kala itu, ratusan mahasiswa dari berbagai perwakilan kampus di Indonesia, menggeruduk kediaman kediaman Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Aksi itu dipicu lantaran SBY sering mengkritik sikap dan kebijakan pemerintah.

Tentu saja publik mencibir. Baru kali ini mahasiswa sejak zaman penjajahan hingga reformasi, mahasiswa tampil membela penguasa. Lebih memalukan lagi, mereka justru mendemo rumah warga, yang bukan pejabat publik, bukan pengambil kebijakan. Mereka mengkritik seorang pensiunan.

Publik yang awalnya bersimpati, akhirnya melontarkan kecaman dan caci maki. Saat itu, mahasiswa tampak sudah tidak lagi mengusung suara rakyat, melainkan membela kepentingan para pejabat. Para intelektual muda itu bahkan dianggap sudah menjadi alat politik pemerintah.

Semoga kebangkitan mahasiswa dari mati suri ini bisa membawa kebaikan bagi negeri. Dengan timbulnya kepedulian mereka, dengan turun ke jalan untuk bersuara, penguasa bisa menyadari kelalaiannya. Dalam sebuah pemerintahan, kelompok penyeimbang memang diperlukan, dan oposisi sangat dibutuhkan. Tujuannya, agar penguasa tidak berlaku seenaknya.

Oleh: Muhammad Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here