BBM Mau Naik Kayak Ninja Lagi, Di Mana Politisi PDIP yang Dulu Menangis?

0
4785
BBM Mau Naik Kayak Ninja Lagi, Di Mana Politisi PDIP yang Dulu Menangis?

Aduh! Ternyata lagi-lagi pemerintah mau pakai jurus “ninja”. Rupanya pemerintah mau menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium. Rencana kenaikan harga Premium di Jawa Madura Bali (Jamali) menjadi Rp 7.000 dan di luar Jamali menjadi Rp 6.900. Rencana ini ditunda. Katanya gara-gara PT Pertamina belum siap.

BBM naik bak ninja ini sudah jadi tren pemerintahan Jokowi. Diam-diam, tak pakai publikasi yang massif, tiba-tiba BBM naik. Alasannya BBM Premium itu urusannya PT Pertamina, bukan urusan pemerintah.

Faktanya, hari ini menemukan BBM bersubsidi di SPBU itu seperti mencari jerawat di wajah artis Dian Sastro Wardoyo. Susahnya minta ampun. Makanya, mau tak mau, rakyat Indonesia harus beli BBM Premiun, termasuk mereka yang sebenarnya berhak untuk membeli BBM bersubsidi.

Apesnya PDIP, yang mendaku sebagai parpol wong cilik, malah tutup mata. Tidak ada seorang politikus PDIP pun yang memprotes kebijakan BBM naik bak ninja ini. Padahal saat ini PDIP adalah the ruling party. PDIP adalah partai penguasa. Kalau PDIP menolak kenaikan BBM, pemerintah apalagi PT Pertamina pasti berpikir ulang.

Padahal dulu di zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), PDIP adalah parpol yang paling gencar menolak kenaikan harga BBM.

Bahkan, partai besutan Megawati Sukarnoputeri ini tak segan-segan menggelar unjuk rasa hingga ke Istana supaya rencana kenaikan BBM itu dibatalkan. Jejak digitalnya bertebaran di dunia siber. Puan Maharani dulu sampai menangis menolak kenaikan BBM. Rieke Diah Pitaloka terjun di tengah massa demonstran guna mendesak SBY membatalkan rencana kenaikan BBM. Ribka Tjiptaning bahkan mengancam pemerintah SBY. Dia mengancam bakal mengerahkan dan memimpin 15 ribu orang ke Istana untuk menolak kenaikan harga BBM.

Baca juga  Dikotomi Cebong Vs Kampret Rusak Demokrasi

Penolakan kenaikan BBM juga terjadi di gedung DPR. Belagak sekuat daya, para politikus PDIP berusaha mengganjal kebijakan itu. Mereka juga membagi-bagikan buku soal sikap penolakan di sela-sela rapat paripurna soal RAPBN-P 2013 yang isinya mendiskreditkan rancangan anggaran yang disusun pemerintah. Agar lebih dramatis, para politikus PDIP memilih walkout ketika permintaannya tak diakomodir mayoritas anggota DPR saat itu.

Padahal kala itu SBY terpaksa mengambil kebijakan yang tak populis. Soalnya harga minyak dunia melangit. Indonesia dihantam krisis global 2008 dan 2013. Jika BBM tidak naik, APBN bisa jebol. Untuk menurunkan dampak negatif bagi masyarakat, SBY pun menerbitkan kebijakan antisipasi. Ada Bantuan Lansung Tunai (BLT), Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), ada beasiswa pendidikan tinggi dari alih subsidi BBM itu.

Secara politik, kebijakan SBY pun berisiko. Pasalnya, pemilu sudah di depan mata. Salah-salah, SBY dan Partai Demokrat bisa ditinggalkan pemilih. Tapi SBY tetap melakukannya juga.  Tapi toh alasan ini tidak digubris PDIP.

Baca juga  Megawati Capek dan Senjakala Trah Sukarno di PDIP

Sekarang keadaan ekonomi Indonesia jauh lebih buruk dibanding zaman SBY. Daya beli masyarakat anjlok dan pajak mencekik gara-gara pemerintah hanya fokus pada pembangunan infrastruktur. Dalam kondisi ini, sungguh tragis jika pemerintah semakin membebani rakyat dengan menaikan harga BBM.

Rakyat Indonesia hari ini bertanya. Di mana politisi PDIP? Di mana mereka yang turun ke jalan, yang mengancam dengan unjuk rasa masal, yang mengecam dan menangis di ruang sidang Gedung DPR Senayan? Di mana mereka saat kini telah menjadi penguasa? Kenapa mereka diam? Kenapa mereka pura-pura tutup mata?

Apa karena aksi-aksi PDIP itu cuma siasat politik untuk merebut hati rakyat, lantas memuntahkannya saat sudah dipercaya? Apa bagi PDIP, rakyat cuma komoditas politik jelang pemilu?

Oleh: Hendra Kurniawan, warganet tinggal di Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here