Bencana Lidah Tak Bertulang Politisi Pro Jokowi

0
2447
Bencana Lidah Tak Bertulang Politisi

Lidah adalah organ dalam mulut. Berfungsi sebagai penyampai dari apa yang ada dalam pikiran, perasaan dan gemuruh dalam hati. Setiap orang memiliki lidah yang berbahasa sesuai dengan tujuan dan keinginan.

Lidah para politisi, dalam momen Pilpers 2019 bersuara dan menjadi narasi dari berbagai pemberitaan. Diantara yang menjadi sorotan dan menjadi trending topik, baik di youtube, vlog dan pemberitaan media mainstrem dan siaran televisi.

Beberapa ucapan lidah politisi menjadi kontribusi bencana yang merusak pemahaman doktrin agama, menghancurkan bagunan keilmuan dan melanggar beberapa UU, diantaranya UU ITE. Sedangkan dalam konteks penyelenggaraan pemilu 2019, telah mengotori berdemokrasi santun, beradab dan damai.

Politikus PDIP Imam Suroso anggota Komisi IX DPR “Jokowi itu mungkin titisan Allah untuk menyelamatkan NKRI. Mentalnya hebat dan dia dari orang miskin,”alasannya menyebutkan keutamaan presiden Jokowi sebab berasal dari rakyat kecil Jokowi ternyata mampu memimpin bangsa ini dengan penuh prestasi. Ungkapan Imam Suroso keluar saat diwawancarai di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (1/10/2018).

Ucapan ini keluar dari cara berfikir non muslim. Titisan Allah adalah ungkapan yang menyalahi kodrat manusia sebagai makhluk (ciptaan) Allaah Yang Maha Esa.

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin Farhat Abbas mengeluarkan ucapan Ajak Masyarakat Pilih Jokowi Masuk Surga, yang tidak pilih masuk neraka.

Ucapan lidah Farhat Abbas adalah kebablasan tentang hak Maha Pencipta untuk menentukan seseorang masuk surga atau neraka. Beberapa orang kemudian meminta Farhat Abbas mencabut ucapan dan meminta maaf atas ucapannya yang menjadi pantun di akun instragram.

Tenaga Ahli Utama Deputi IV Kepala Staf Preside (KSP) Ali Mochtar Ngabalin, ucapan lidahnya pemerintahan Joko widodo seperti sidratul muntaha. Ucapan ini menganggap bahwa Jowidodo berkapasitas sebagai pewaris kerja, fikir dan risaunya Rasulullah Saw.

Ucapan dan ungkapan yang keluar dari lidah Ali Mochtar Ngabalin tengang makar, perang suriah. Membuat berbagai kalangan meluruskan dan sebagian mendukung.

Baca juga  Kalau Ma’ruf Tidak Minta Maaf, Elektabilitas Jokowi Terancam Tergerus

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mendukung ujaran Ali Mochtar Ngabalin “Ya, kalau kita lihat, Ombudsman harus cermat, ya. Ketika ada pihak-pihak yang nyata-nyata membuat sebuah gerakan di dalam konteks demokrasi kita itu tidak pas, di dalam aturan main, di dalam membangun keadaban publik, itu tugas Pak Ngabalin bertindak seperti itu,” ucap di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Jumat (31/8/2018).

Ombudsman RI menyoroti Tenaga Ahli Utama Deputi IV Kepala Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin yang kerap ‘mati-matian’ membela Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sedangkan fadli Zon mengeluarkan ucapan bahwa Ngabali semakin blunder. Fadli mengaku heran atas berbagai pernyataan yang dilontarkan Ngabalin selama ini, apakah pernyataan tersebut mewakili Presiden atau timses Jokowi.

“Saya kira Pak Ngabalin ini, entah ya, ini merepresentasikan suara Presiden atau suara apa. Masyarakat bisa menilai kapasitasnya karena dari sisi substansi juga tidak kena, dari sisi cara apalagi, dan KSP itu tupoksinya apa,” ujar Fadli di gedung DPR RI hari Jumat (31/8/2018).

Fadli  menjelaskan KSP bukan sarangnya tim sukses. KSP itu punya tugas memprioritaskan program pembangunan, melakukan konsolidasi, dan melakukan komunikasi politik.

Karena itu, Fadli meminta Ngabalin memperjelas posisinya. Apakah sebagai jubir presiden, juru bicara partai koalisi pemerintah dalam rangka pilpres 2019, atau sebagai apa?.

Pernyataan Komisioner Ombudsman RI La Ode Ida menyampaikan terkait dukungan pejabat ke salah satu pasangan calon yang berpotensi maladministrasi, saat jumpa pers di kantornya pada Kamis (30/8/2018).

La Ode Ida mengatakan bahwa secara khusus, Pak Ngabalin sudah jadi komisaris, kemudian dia dapat KSP. Itu tak boleh dia tampil secara frontal menunjukkan keberpihakannya pada satu pasangan calon presiden.

Yang terbaru, Ngabalin merespons serangan terhadap Jokowi terkait gerakan #2019GantiPresiden yang dituding sebagai makar.

La Ode pun menilai sikap-sikap yang ditunjukkan Ngabalin tersebut tak pantas. Sebagai pejabat negara, Ngabalin harus bersikap netral.

Baca juga  Kampanye Medsos Pilpres 2019 Minim Pendidikan Politik

la Ode meerinci bahwa Pelayan publik, mereka yang memperoleh uang dari negara dalam menjalankan tugasnya, tidak boleh berpihak, yang dia makan adalah uang rakyat. Jadi sadarkanlah mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Bahkan La Ode meminta Ngabalin dan para pejabat lainnya yang memang mendukung calon presiden tertentu cuti atau mengundurkan diri. Jika tidak, potensi maladministrasi besar terjadi. Hal ini terkait ucapan Ngabalin.

“Publik mengerti, nggak boleh dibodohi, umat Islam itu nggak bisa dibohongi. Sudah nggak ada lagi politik aliran, politik identitas. Sekarang dia mau cari apa lagi untuk menyerang pemerintah. Begitu ada KH Ma’ruf jadi calon wakil Pak Joko Widodo kan mereka kalang kabut cari diksi, cari narasi apalagi yang bisa diserang. Tidak ada yang lain kecuali #2019GantiPresiden. Makan itu kau punya hashtag itu!” ucap Ngabalin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (28/8/2018).

Syafii mengatakan tudingan itu merupakan fitnah. Ia menyebut Ngabalin tidak memahami undang-undang. Penilaian Syafii terhadap ucapan Ngabalin adalah bahwa Dia kemudian tidak peduli dengan apa yang dia ucapkan. Padahal itu jelas-jelas ucapannya itu merupakan fitnah.

Syafii, tudingan ‘makar’ itulah yang patut disebut sebagai pelanggaran hukum. Sementara itu, #2019GantiPresiden merupakan gerakan yang sah dan tak bertentangan dengan hukum.

Hukuman terbaik dari segi sosial politik bagi politisi yang berbicara tanpa data, fakta dan merusak tatanan budaya timur yang elok, bermoral, beretika adalah tidak dipilih dan dijadikan rakyat biasa.

Sedangkan secara hukum, mesti disidangkan dan mendapatkan hukuman sesuai dengan UU yang berlaku.

Edwardy Yahqut Pengamat Budaya Politik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here