Betulkah NKRI Terancam?

0
Sejumlah personel TNI memakai ikat kepala merah putih pada Parade Nusantara Bersatu di Pelataran Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (30/11). Apel yang digagas oleh Panglima TNI dan digelar serentak di seluruh Indonesia itu dimaksudkan untuk merevitalisasi nilai-nilai keberagaman sebagaimana tertuang dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika serta memperkokoh semangat persatuan dalam kerangka NKRI.

Banyak yang latah mengatakan Aksi Damai 411 dan juga Aksi Damai 212 yang lalu,  yang memang melibatkan jumlah massa yang amat besar, telah mengancam kebhinnekaan. Juga mengancam NKRI. Wah, jadi seram  kedengarannya.

Bahkan, beberapa hari setelah aksi damai itu berlangsung, di berbagai sudut Kota Jakarta banyak terpampang spanduk yang antara lain berbunyi “NKRI Harga Mati”. Kembali, sepertinya negara kita dalam keadaan genting. NKRI tengah menghadapi ancaman. Benarkah? Benarkah NKRI sungguh terancam?

Saya tergelitik untuk mengomentari pandangan bahwa NKRI terancam. Sungguhkah ini nyata? Is it real? Atau ini sesuatu yang didramatisasi atau katakanlah dilebih-lebihkan? Ataukah ini mainan dunia intelijen untuk menakut-nakuti rakyat sambil  mengancam, “Awas, jika kalian bikin onar akan ditumpas”. Barangkali terjemahan dari “mengancam NKRI” ya “bikin onar” tadi.

Apa yang dimaksud NKRI dalam konteks ini? Atau lebih khusus apa kaitannya protes terhadap penyelesaian dakwaan penistaan agama oleh Gubernur Jakarta Basuki tersebut dengan NKRI? Terus terang, jika kita berpikir jernih tak mudah untuk mendapatkan korelasi langsungnya. Kecuali jika kita gunakan ilmu “cocokisasi.”

BACA JUGA

Ancaman Sesungguhnya terhadap NKRI

AHY: Ganjal Antara Dua Ekstrem

NKRI, adalah singkatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mempertahankan NKRI kerap diartikan sebagai menjaga tegaknya kedaulatan negara (soverignty) dan juga keutuhan wilayah Indonesia (territorial integrity). Misalnya kalau tiba-tiba bulan depan Indonesia terancam bakal dikuasai oleh negara lain atau bangsa asing, maka NKRI terancam. Atau jika ada ancaman nyata terhadap kedaulatan kita atas Aceh atau Papua, dalam arti kedua wilayah itu akan merdeka sendiri dan lepas dari NKRI, berarti NKRI juga berada dalam ancaman. Nah, kepentingan nasional yang berkaitan dengan tegaknya kedaulatan dan keutuhan wilayah inilah yang sering disebut sebagai (survival interest). Bukan hanya vital interest. Pertanyaannya sekarang apakah aksi-aksi massa yang merupakan respons terhadap apa yang diucapkan dan dilakukan Ahok tersebut dinilai mengancam survival interest Indonesia? Apakah dengan rangkaian aksi damai tersebut Indonesia tidak lagi akan berdaulat dan sebagian wilayahnya akan lepas?  Saya pikir tidak ada ancaman itu. Tidak ada indikasi dan probabilitas ke arah itu.

Baca juga  Demokrat Berlari Menuju Indonesia Emas

NKRI harga mati juga kerap dikaitkan dengan sistem pemerintahan. Artinya jika sistem negara kesatuan yang kita anut ini tiba-tiba akan diganti oleh sistem negara federal misalnya, maka NKRI bakal terancam.  Dari sisi inipun nampaknya tak ada pemikiran dan juga tanda-tanda bahwa gerakan massa terkait dengan kasus Ahok ini akan membuat negara kita menganut sistem pemerintahan federal. Jadi dari sisi sistem pemerintahan yang kita anut dan jalankan, yaitu unitary system, tak ada pula ancaman yang nyata.

Mungkin pula ada yang mengaitkan aksi-aksi sosial dan politik saat ini dengan ideologi dan dasar negara Pancasila yang tertuang dalam konstitusi negara, yaitu UUD 1945. NKRI terancam jika Pancasila juga terancam.  Sebutlah Pancasila tersebut akan digantikan oleh ideologi yang lain, misalnya komunisme ataupun “islamisme”. Atau gerakan unjuk rasa damai memprotes penanganan kasus Ahok ini ujung-ujungnya akan mengubah negara kita ~ dari Negara Pancasila, menjadi Negara Komunis ataupun Negara Islam. Coba kita teliti apakah spanduk dan orasi-orasi yang disampaikan dalam Aksi Damai 411 dan Aksi Damai 212 secara eksplisit akan mengganti Pancasila dengan ideologi dan sistem yang lain? Rasanya hal itu tak terdengar sama sekali.

Masih satu lagi. Barangkali ada yang mengkhawatirkan bahwa unjuk rasa sangat besar itu, yang di seluruh tanah air melibatkan massa berjumlah jutaan orang tersebut, dinilai telah mengancam keberagaman atau kebhinnekaan. Berhubung Bhinneka Tunggal Ika adalah salah satu jiwa NKRI, bolehlah hal begitu dikaitkan dengan NKRI. Mari kita uji bersama. Apakah dalam orasi mereka, yel-yel mereka dan juga spanduk-spanduk yang mereka usung, ada kata-kata yang menyerang dan mendiskreditkan agama tertentu atau etnis tertentu? Misalnya karena Ahok adalah seorang Tionghoa dan beragama Kristen, adakah yang mendiskreditkan Tionghoa dan Kristen? Tidak ada bukan? Jadi anggapan unjuk rasa itu telah mengancam kebhinnekaan juga tidak kena.

Baca juga  Benarkah Indonesia Butuh Pemimpin Baru?

Ada lagi yang sangat tak masuk diakal. Tiba-tiba oleh sekelompok kalangan Ahok telah dijadikan simbul bahkan pahlawan kebhinnekaan dan NKRI. Tambah kacau bukan? Ahok itu didakwa melakukan tindak pidana penistaan agama. Bukan masalah politik. Kasusnya adalah kasus hukum. Kecuali jika Ahok sedang berjuang menegakkan NKRI atau sedang menjaga kokohnya kebhinnekaan tiba-tiba “diserang” oleh massa yang tergabung dalam serangkaian aksi damai tersebut, baru tepat jika Ahok dijadikan simbul dan “hero” dalam menegakkan kebhinnekaan dan NKRI.

Dengan uraian ini semua saya harus mengatakan bahwa penyimpulan NKRI terancam saat ini terlalu mengada-ada. Keluar dari akal sehat. Nampak seperti sengaja diciptakan. Tak baik jika rakyat, kita semua dibodoh-bodohi. Rakyat kita cerdas. Jangan dilecehkan.

Kalau pemerintah dan aparat keamanan serta penegak hukum mengatakan agar setiap gerakan protes itu damai, tertib, tidak merusak dan tidak anarkis kita semua setuju. Juga jika mengingatkan agar jangan sampai melakukan makar, alias merebut kekuasaan dari tangan pemerintah yang syah, itu sangat bisa diterima. Namun, janganlah sedikit-sedikit rakyat digertak dengan kata-kata “tindakan kalian telah mengancam kebhinnekaan dan mengancam NKRI”. Tak baik negara seperti ini.

Oleh: Rama Adi Bangkit (pemerhati politik nasional)

OPINI TERKAIT

Siapa yang SARA di Pilkada Jakarta?

Indonesia, Negeri yang Sedang Risau

Ancaman Perpecahan Bangsa Terhadap NKRI

Sindrom Takut Kehilangan Kekuasaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here