Bijak Menyikapi Pertemuan IMF di Bali

0
1194
Bijak Menyikapi Pertemuan IMF di Bali

Indonesia dan IMF punya cerita yang tidak singkat. Mulai dari proses masuknya bantuan utang IMF ke Indonesia, sampai dengan dilunasinya utang Indonesia kepada IMF oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, pada masa kepemimpin SBY, Indonesia mampu menjadi donor IMF.

Keperkasaan IMF di Indonesia dimulai pada krisis 1997-1998. Pada 5 November 1997, IMF menyetujui pinjaman dalam bentuk stanby arrangements (sba) senilai 8,34 miliar SDR, tapi yang dicairkan hanya 3,67 miliar SDR. Kemudian pada 25 Agustus 1998, Lembaga Moneter Internasional menyetujui pinjaman dalam bentuk extended fund facility (eff) senilai 5,38 miliar SDR namun yang dicairkan hanya 3,8 miliar SDR. Lalu, pada 4 Februai 2000 kembali disetujui sebesar 3,64 miliar SDR dan semua dicairkan. Pinjaman IMF tersebut tidak dicairkan secara langsung tetapi secara bertahap mulai 1997 hingga 2003.

Pada tahun 2006, SBY melunaskan utang Indonesia kepada IMF sebelum waktu jatuh tempo yang seharusnya. Keberhasilan tersebut juga diiringi dengan komitmen SBY menjadikan Indonesia negara yang berdikari dengan membubarkan CGI pada tahun 2007.  CGI merupakan lembaga donor yang diprakarsai oleh Bank Dunia dan diketuai oleh Jepang.

Berkat keberhasilan tersebut, Indonesia menjadi negara di Asia yang diperhitungkan pertumbuhan ekonominya. Tidak hanya itu, Indonesia juga dipilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan annual meeting IMF 2018.

Baca juga  SBY Ingin Kader Demokrat Kerja Keras Menangkan Pemilu

Pengusulan Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan IMF diusulkan pada September 2014. Sementara penganggaran dan pembiayaan kegiatan tersebut dianggarkan oleh pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo. Hal tersebut dikarenakan penetapan Indonesia sebagai tuan rumah baru ditetapkan pada tahun 2015.

Keterlibatan Indonesia dalam pertemuan IMF sejatinya harus bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar. Jika pertemuan IMF hanya dijadikan motif bagi negara untuk menumpuk utang, maka ini kesalahan fatal. Karena, Argentina saja bisa mengajukan utang kepada IMF tanpa harus menjadi tuan rumah pertemuan IMF.

Posisi Indonsia dalam G20 harus bisa dimanfaatkan pemerintah hari ini untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi ekonomi secara global. Harkat dan martabat Indonesia yang gagah membubarkan CGI pada tahun 2007 dan melunasi utang kepada IMF di tahun 2006 harus menjadi marwah yang senantiasa dijaga.

Jika hari ini terdapat polemik terkait penyelenggaraan annual meeting IMF yang diselenggarakan di Bali, itu merupakan konsekuensi dari negara demokrasi. Pro dan kontra biasa saja terjadi. Jika penolakan didasarkan kepada tidak pentingnya penyelenggaraan IMF, tentu ini kesalahan berfikir yang harus diluruskan. Tapi jika kritikan didasarkan pada kondisi tekanan ekonomi yang dialami Indonesia saat ini dan musibah kebencanaan, tentu pemerintah harus mampu memberikan pertimbangan yang logis kepada publik.

Baca juga  Tolak Perda Syariah Sinyal PSI Anti Kebhinekaan?

Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menjaga stabilitas, baik keamanan maupun iklim ekonomi dan investasi. Kepastian dan kejelasan harus bisa dipaparkan pemerintah. Apa tujuan dan target pemerintah dalam annual meeting IMF di Indonesia kali ini.

Lumrah jika hari ini publik gelisah dengan pertemuan IMF di Bali tersebut. Pertimbangannya utang pemerintah yang terus meningkat dan situasi dan ekonomi Indonesia ya terus mengalami tekanan. Ditambah lagi kondisi kebencanaan di Indonesia yang semestinya mendapatkan skala prioritas penanganan pemerintah. Kegelisahan inilah yang harus dijawab pemerintah dengan jujur dan benar.

Jangan sampai orang berpesta di rumah kita, tapi kita hanya kebagian lelahnya saja. Pemerintah Indonesia harus mampu menjelaskan posisi dan peran strategis apa yang ingin diraih pemerintah untuk kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai kegagalan pemerintah menarasikan dengan bijak menjadi bumerang bagi pemerintah sendiri.

Zulfikar Garmin, Pengamat Ekonomi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here