Blunder Arief Poyuono Bikin Prabowo Makin Mantap Gandeng AHY

0
9570
Blunder Arief Poyuono Bikin Prabowo Makin Mantap Gandeng AHY

Arief Poyuono kena batunya. Cemooh bahwa Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) adalah “anak kecil” mendapat reaksi keras dari petinggi Partai Gerindra. Tak tanggung-tanggung, Prabowo Subianto sendiri yang mendamprat.

Bahkan Prabowo memerintahkan Poyuono memohon maaf kepada Partai Demokrat dan membikin keterangan pers untuk mencabut pernyataannya yang blunder itu.

Akibat blunder Poyuono, Prabowo menyampaikan penilaiannya atas sosok AHY. Prabowo menyebut: “Saya tidak menganggap Saudara AHY seorang anak kecil, pengalaman beliau selama di TNI dan juga sekolah beliau di dalam dan luar negeri menunjukkan beliau memiliki kapabilitas.”

Dari reaksi Prabowo ini, kita bisa menangkap dua hal:

Pertama, Partai Gerindra serius ingin berkoalisi dengan Partai Demokrat. Prabowo marah sebab blunder Poyuono bisa mengganggu hubungan Partai Gerindra dan Partai Demokrat yang kian mesra belakangan ini. Rakyat Indonesia sama-sama menyaksikan apa yang terjadi saat Prabowo membesuk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dirawat di RSPAD Gatot Subroto.

Dua purnawirawan jenderal itu begitu akrab, seolah-olah sahabat yang tidak pernah terlibat kompetisi. Aura persahabatan ini yang tidak ditemukan rakyat Indonesia saat Jokowi yang datang membesuk SBY. Jokowi terkesan kaku. Mungkin ini perkara kharisma SBY yang amat kuat sehingga Jokowi terkesan sengaja menjaga jarak dengan SBY.

Kedua, Prabowo serius hendak mengandeng AHY sebagai cawapresnya di Pilpres mendatang. Tidak percaya? Telisik saja penilaian Prabowo di atas. Ada dua aspek yang disebutnya. Aspek TNI terang mengacu pada patriotism, kemampuan mengorganisasi, dan karakter seorang prajurit.  Sekolah di dalam dan luar negeri, mengacu pada level pendidikan AHY yang memang jebolan universitas ternama di dunia.

Baca juga  Yorrys Raweyai Sebut Banyak Kader Terjerat Korupsi Bikin Suara Golkar Melorot

Penggabungan dua aspek itu kemudian memunculkan istilah “kapabelitas” AHY di mata Prabowo. Ingat, Prabowo menggunakan istilah “kapabelitas” bukan “kompetensi”. Ini artinya Prabowo menilai AHY bukan sekadar punya kompetensi (kemampuan, ketrampilan atau skill); melainkan punya kompetensi plus pemahaman mendalam tentang kompetensinya dan bagaimana cara menerapkannya. Inilah yang disebut “kapabelitas”.

Turunannya, di mata Prabowo, AHY bukan pemimpin di aras teknis, melainkan berada di aras strategis. Dan ciri khas pemimpin di level strategis adalah cepat memahami persoalan, dan mencarikan solusinya. Ada akselerasi di sana. Ada fast learning di sana.

Nah, di sinilah titik kekhilafan Poyuono. Ketika AHY sudah menjadi pemimpin satu orkestra yang sedang mempersiapkan konser musik yang spektakuler, Poyuono malah meminta AHY bermain gitar doang, atau mesti mahir main piano. Tidak nyambung bukan? Ini yang kemudian membikin Prabowo amat menyesali pernyataan Poyuono.

Tapi ya sudahlah! Saya pikir penilaian seorang Prabowo sebanding dengan penilaian seribu Poyuono. Jika Prabowo sudah bicara, kita bisa menganggap penilaian Poyuono tak pernah ada—mungkin dia lelah?

Baca juga  Sandiaga Pernah Janji Bantu Besarkan Demokrat

Selain keseriusan Gerindra dan kapabelitas AHY, faktor elektoral juga melatarbelakangi pilihan Prabowo untuk menggandeng AHY. Tidak bisa ditafik, elektoral AHY jauh lebih unggul ketimbang Zulkifli Hasan (kandidat PAN) dan Ahmad Heryawan (kandidat PKS). Tingginya elektoral AHY ini ditopang dari dukungan generasi milenial, satu ceruk pemilih yang relative belum tersentuh oleh Zulhas dan Aher.

Terakhir adalah fakta bahwa AHY adalah paket trisula. Mengandeng AHY, Prabowo akan juga merengkuh dukungan dari SBY dan Partai Demokrat.

Sebagai Presiden RI dua periode, SBY masih punya banyak pendukung di seantero Indonesia.  Sementara Partai Demokrat adalah partai “dua digit” yang didukung oleh 12,73 juta pemilih di Pileg 2014. Jauh lebih besar ketimbang suara PAN apalagi PKS.

Sehingga, jika Prabowo maju bersama AHY pada Pilpres mendatang peluang menangnya pun jauh lebih besar ketimbang dia mengandeng calon dari PAN atau PKS.

Inilah pilihan rasional kelompok oposisi hari ini. Akankah terwujud? Mari kita tunggu perkembangan pasca pertemuan SBY dan Prabowo hari ini.

Oleh: Sahrul Ramadhan, pemerhati politik demokrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here