Bukannya Adu Gagasan, Tubagus Hasanuddin dan Anton Charliyan Tunjukkan Keberingasan

0
2280
Bukannya Adu Gagasan, Tubagus Hasanuddin dan Anton Charliyan Tunjukkan Keberingasan

PolitikToday – Sebelumnya pasangan Tubagus Hasanuddin dan Anton Charliyan pernah absen di acara yang diadakan KompasTV. Padahal ketiga pasangan calon lain seperti Ridwan Kamil- Uu, Sudrajat-Syaikhu, dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi hadir dalam undangan tersebut. Acara yang dipandu oleh Rosi itu berjalan cair dengan suasana yang santai.

Entah sibuk ataupun gugup tampil di depan umum, sangat disayangkan pasangan Tubagus Hasanuddin- Anton Charliyan yang diusung PDI Perjuangan ini tidak dapat hadir. Padahal secara undang-undang, pemilih mempunyai hak untuk menerima informasi yang utuh tentang calon kandidat yang akan dipilihnya. Suatu kewajiban juga bagi kandidat memberikan informasi tentang dirinya, visi-misinya, dan program yang dijanjikannya melalui saluran apapun. Tidak hanya poster, baliho, pamphlet, dan sticker seperti saluran politik konvensional biasanya.

Hal ini berdampak menurut saya pada peforma yang ditampilkan oleh pasangan Tubagus Hasanuddin- Anton Charliyan pada debat kandidat putaran pertama yang diadakan KPU Jawa Barat. Terlihat tiga pasangan lainnya bisa dengan “enjoy” menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Rosi. Dengan tenang dan percaya diri, tiga pasangan calon lain menurut saya berhasil memaparkan gagasan dan ide-idenya dalam debat kali ini.

Sementara pasangan Tubagus dan Anton, dibanding memaparkan visi-misinya yang matang, ia hadir malah membawa pesan negative kepada public. Pasangan yang saya anggap dadakan ini lebih banyak mempertanyakan sikap dan menyalahkan konsistensi kepemimpinan dari lawan politiknya. Ini tentunya menambah daftar persepi negative terhadap pasangan ini.

Baca juga  Minta Alquran Tak Lagi Dijadikan Barang Bukti Terorisme, Rakyat Petisi Polri

Sebelumnya, pasangan yang diusung PDI Perjuangan ini dikatakan dekat dengan kelompok intoleran. Anton Charliyan yang sebelumnya menjadi Kapolda Jawa Barat diketahui pernah menjadi pembina salah satu ormas yang sering bentrok dengan kelompok masyarakat dan FPI di Jawa Barat.

Kembali lagi dalam pembahasan debat kandidat calon Gubernur Jawa Barat. Dalam beberapa sesi, baik itu Tubagus maupun Anton Charliyan kompak menyerang pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang diusung koalisi sejajar Partai Demokrat dan Partai Golkar. Mereka mempertanyakan sikap Deddy Mizwar selaku Wakil Gubernur Jawa Barat hari ini terkait dulunya menolak dan sekarang mendukung pembangunan Meikarta yang dituduhkannya merugikan rakyat.

Namun menurut saya tudingan yang dilemparkan oleh Tubagus- Anton ini salah sasaran dan hanya menguntungkan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. Hal itu dikarenakan kedua pasangan ini mempunyai latar belakang birokrat yang mempunyai basis data dan pengetahuan. Deddy Mizwar Wakil Gubernur Jawa Barat, dan Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta.

Dengan enteng Deddy Mizwar memaparkan kepada public, yang ditolak oleh pemprov Jabar adalah pembangunan Meikarta sebagai Kota Metropolitan dengan luas 500 hingga 2.000 hektare. Pemprov Jabar hari ini hanya memberikan 84,6 hektare saja saja kepada proyek milik Lippo Grup tersebut. Catatan yang lebih penting dibuka Deddy Mizwar adalah proyek tersebut telah ditetapkan oleh Gubernur pada tahun 1994. Artinya, proyek tersebut telah ada jauh sebelum momentum Pilkada hari ini.

Baca juga  Biadab! Israel Bantai 52 Warga dan 8 Balita Palestina di Pembukaan Kedubes AS Yerussalem

Dari aspek ekonomi, pasangan Tubagus- Anton pun harus menahan malu dengan paparan strategis yang disampaikan oleh pasangan Deddy Mizwar, yaitu Dedi Mulyadi. Mantan Bupati Purwakarta ini pun menjelaskan pada public bahwa proyek Meikarta itu mengahsilkan pajak 1 triliyun. Dengan pajak tersebut, daerah mempunyai kesempatan untuk membangun kampung-kampung di Bekasi dan sekitarnya setara dengan Meikarta.

Apa yang ditampilkan pasangan Tubagus Hasanuddin- Anton Charliyan menurut saya jauh dari apa yang diharapkan public. Pasangan ini hanya sibuk mempermasalahkan hal-hal yang teknis daripada menyampaikan konsep dan gagasan membangun Jawa Barat lebih baik. Jangan racuni masyarakat Jabar yang cinta damai dengan sikap kekerasan dan intimidasi elite politik yang ada.

Deden Candra, warga Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here