Demam Politik dan Demagog Politik 2019

    0
    Demam Politik dan Demagog Politik 2019

    Pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia menyisakan waktu hanya beberapa bulan lagi. Yang tidak kalah penting dalam pemilu kali ini adalah diselenggarakannya pilpres berbarengan dengan pileg. Dari situ akan lahir pemimpin dan legislator yang akan menentukan nasib bangsa ini lima tahun mendatang.

    Demokrasi prinsipnya membimbing publik untuk menggunakan hak pilihnya dengan kesadaran penuh. Meningkatkan partisipasi publik untuk berperan aktif dalam pilihan politiknya. Dengan demikian, pemimpin yang dipilih secara demokratis diharapkan mendapatkan kepercayaan penuh dari publik.

    Namun, konstalasi politik belakangan ini tidak lagi menjadikan pesta demokrasi (pemilu) menjadi hal yang membahagiakan. Pemilu berubah menjadi hiruk pikuk yang terus meluas hingga masuk keruang-ruang private. Pemilu seakan menjadi sebuah penyakit. Ya, demam politik namanya.

    Demam politik mengakibatkan semua orang men’ceracau’. Ngoceh sana sini seakan dialah aktor politik sesungguhnya. Siap adu jotos jika ada yang menyanggahnya. Padahal, setiap harinya uang yang dibawanya pulang kerumah tetap saja 50 ribu.

    Ia tetap saja akan menerima ocehan si istri yang mengeluhkan biaya ini dan itu melambung tinggi saat tiba di rumah. Ia tetap saja akan susah tidur saat memikirkan tunggakan yang belum dibayar. Namun disaat bersamaan dalam kesembrautan pikirannya, ia tetap saja memikirkan narasi untuk mendebat orang-orang yang berbeda haluan dengannya. Sakit.

    Inilah fenomena baru dari kehidupan demokrasi kita. Partisipasi politik publik yang aktif, namun sakit. Hal ini ikut diperparah oleh narasi para demagog.

    Demagog berasal dari kata Yunani yang terdiri dari kata ‘demos’ berarti rakyat, dan ‘agagos’ penghasut. Para demagog ini dikenal sangat lihai dalam membakar dan menghasut massa agar berpihak kepadanya. Para demagog saat ini bisa berasal dari kalangan politisi, agamawan, akademisi, dan lain sebagainya.

    Contoh sederha kondisi demam politik plus hasutan demagog adalah peristiwa pemindahan makam diakibatkan perbedaan pilihan keluarga dalam pilihan politik yang terjadi di Desa Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Makam yang sudah ada sejak 26 tahun silam dipaksa untuk dipindahkan karena ahlul bait tidak mau memilih caleg dari Nasdem. Padahal, pemilik tanah makam itu adalah sanak keluarga sendiri. Naas.

    Kondisi ini tentu tidak dapat didiamkan begitu saja. Akan menjadi sangat berbahaya jika demam politik dan para demagog diberikan ruang dalam kehidupan demokrasi kita. Kebhinekaan yang dijaga selama 74 tahun bisa saja tinggal nama atau tinggal cerita.

    Harus ada konsensus bersama yang dilakukan elite parpol untuk menjaga suasana teduh dalam beberapa bulan kedepan. Memberikan teladan dan pendidikan politik yang benar kepada publik melalui kader-kader terbaiknya yang diusung menjadi caleg mewakili konstituennya. Para caleg harus dihimbau turun untuk mencerahkan publik dan tidak hanya memanfaatkan coattail effect dari pasangan capres-cawapres dengan narasi demagogi (hasutan).

    Di sisi lain, masyarakat pun harus merestrukturisasi pemahamannya tentang demokrasi yang sesungguhnya. Pilihan menjadi seorang demokrat adalah jalan yang harus dipilih untuk mencapai demokrasi. Jika dikaitkan dengan hukum sebab akibat, demokrat adalah titik awal dan demokrasi adalah tujuan akhir. Mustahil mencapai tujuan tanpa kita tahu dari mana harus memulai.

    Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here