Didukung PKS dan Gerindra, Mengapa Prabowo Masih Minder Buat Nyapres?

0
1087
Didukung PKS dan Gerindra, Mengapa Prabowo Masih Minder Buat Nyapres?

Pertemuan antara Partai Gerindra, PKS, dan PAN kemarin siang ternyata tidak menghasilkan kesepakatan yang menggelegar. Prabowo belum mau menyatakan maju atau tidak maju terkait Pilpres 2019: Dia berkilah masih harus berkoordinasi dengan DPP Partai Gerindra. Padahal kita sudah sama-sama paham, suara-suara kader Partai Gerindra agar Prabowo kembali nyapres sudah membahana.

PKS sudah terang-terangan berharap untuk berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam Pilpres 2019. Alasannya, biar Jokowi nanti tidak melawan kotak kosong. Untuk perhelatan itu, PKS sudah menyiapkan nama-nama kader internal yang akan diusung sebagai capres atau cawapres.

PAN apalagi. Amat membingungkan. Sekjen PAN, Eddy Soeparno menyebut koalisi Gerindra, PKS dan PAN di Pilkada serentak 2018 tidak serta merta merupakan refleksi atas garis PAN pada Pilpres 2019. Terlebih Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan terang-terangan menyebut ingin bertemu Megawati dahulu sebelum Prabowo Subianto.

Apakah ini ada kaitannya dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang diduduki kader PAN, Asman Abnur? Apakah ini sinyal PAN tegak di atas dua kaki?

Menurut saya tidak! Dari berbagai momentum sejatinya sudah tergambar bahwa PAN tidak berdiri di dua kaki. Terkait arah parpol memang tidak bisa diletupkan sendiri-sendiri, harus via forum resmi organisasi. Hal ini terkait dengan kultur organisasi PAN di mana keinginan Ketum dan Sekjen belum tentu menjadi keputusan resmi organisasi. Ada dinamika tinggi di sana. Jadi apabila keputusan PAN menunggu rakernas April mendatang, ini bisa dimaklumi. Kultur ini berbeda dengan Gerindra di mana pengaruh Prabowo Subianto amatlah besar.

Baca juga  OTT di Aceh, KPK Amankan Dua Kepala Daerah

Namun sekali lagi, menurut saya PAN sudah condong pada kelompok oposisi, kendati Jokowi masih mempertahankan satu pos menteri untuk kader PAN. Malahan, posisi PAN yang unik ini justru menguntungkan koalisi oposisi.

Keuntungan pertama, PAN bisa memahami posisi pemerintahan Jokowi dalam berbagai topik. PAN jadi ‘orang dalam’. Dengan jadi ‘orang dalam’, PAN pasti mendapat banyak informasi yang mereka peroleh atau ingin peroleh dari sidang kabinet, database pemerintah, atau sumber-sumber internal pemerinta lainnya.

Keuntungan kedua, walaupun memiliki menteri di kabinet pemerintahan, PAN masih bisa menarik massa dari kubu oposisi. Komitmen mereka pada oposisi, komitmen pada orang-orang yang anti-Jokowi, masih memiliki tempat. Paling gampangnya bisa dilihat dari kelompok Alumni 212 yang mengusulkan nama-nama calon kepala daerah kepada PAN, PKS dan Gerindra.

Jadi pertanyaannya sekarang bukan kemana arah PAN, PKS atau Gerindra, tetapi kemana arah Prabowo? Betapapun PAN misalnya menarik diri dari koalisi ini, jumlah kursi DPR PKS dan Gerindra sudah cukup buat mengantarkan Prabowo sebagai capres 2019.

Lantas mengapa Prabowo tak lekas bersuara? Kebungkaman Praabowo ini tak pelak memicu isu macam-macam. Ada yang menyebut Prabowo dilarang keluarga besarnya untuk nyapres karena faktor umur dan sudah dua kali terserang stroke. Ada yang bilang Prabowo akan mundur, dan mengambil posisi sebagai king maker meski tak jelas siapa pula yang hendak diusung. Saat muncul wacana untuk menjadikan Prabowo sebagai cawapres Jokowi, yang agaknya didukung oleh beberapa politisi senior lintas parpol, Prabowo malah bersikap hati-hati—sesuatu yang bertolak belakang dengan kebiasaan tegasnya di media massa.

Baca juga  Cetak Rekor Lagi, Rezim Jokowi Naikkan Harga BBM Berkali-kali

Dari sini saya menilai agaknya Prabowo sudah terserang sindrom minder. Prabowo sudah tak lagi percaya diri untuk maju sebagai capres 2019 sebagai kompetitor Jokowi. Barangkali karena elektabilitasnya yang masih terus tertinggal jauh dari Jokowi, atau perkara finansial, atau faktor umur dan kesehatan, atau faktor-faktor lainnya yang membuat Prabowo ragu untuk kembali nyapres.

Barangkali Prabowo terinspirasi pada manuver Amien Rais di tahun 1999. Sadar kalau perolehan PAN tak seberapa, Amien Rais memutuskan untuk mendukung K.H. Abdurahman Wahid dalam sidang istimewa MPR. Ia membangun poros tengah yang berhasil mengusur Megawati dari kursi Presiden RI ke-4.

Apakah ini yang hendak dilakukan Prabowo? Kita hanya bisa menduga. Namun yang jelas, tampak sekali kegamangan Prabowo untuk jadi capres 2019.

Oleh: Arif Rahman Hakim, blogger yang bermukim di Bandung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here