Dukungan Gerbong Kosong Ala TGB ke Jokowi

0
2677
Dukungan Gerbong Kosong Ala TGB ke Jokowi
Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, dan Presiden Jokowi. (suratkabar.id)

Dalam politik terkenal istilah politikus kutu loncat. Istilah ini disematkan pada politikus yang hobi loncat-loncat gerbong. Mau hijau, biru atau merah tak masalah yang penting kepentingan tercapai. Demikianlah persepsi saya atas merapatnya TGB Zainul Majdi ke kubu pendukung Jokowi.

Secara politis, saya membaca beberapa makna di balik manuver ini.

Pertama, dukungan politik TGB kepada Jokowi tersangkut dengan masalah pelik yang menimpanya. Masalah yang saya maksud adalah perkara divestasi saham PT Newmont yang sedang diusut KPK. Amat sangat disayangkan apabila TGB benar-benar akhirnya tersangkut kasus bernuansa korupsi. Bukan cuma citranya yang bakal terpuruk, tetapi bisa dipastikan karir politiknya akan tamat. Padahal, dari segi usia, TGB masih tergolong muda, karir politiknya masih bisa meningkat lagi.

Maka, dengan memberikan dukungan kepada Jokowi, TGB terkesan hendak berlindung di bawah ketiak Presiden. Harapannya, KPK tak akan mengusik lagi. Jadi, KPK seolah-olah diposisikan sebagai alat kekuasaan untuk “menghilangkan” lawan-lawan politik penguasa menjelang Pilpres 2019.

Kedua,ini adalah skenario TGB untuk meningkatkan daya jelajahnya, dari NTB menuju level nasional. Terlebih, TGB telah dua periode menjabat Gubernur NTB. Jadi, secara etis memang targetnya adalah bermain di level pusat. Barangkali, posisi anggota legislative tak cukup menarik baginya. Sehingga TGB kemudian menargetkan posisi menteri bahkan cawapres. Jika ini yang dikejar, tentulah saat ini adalah momen terbaik. Bargaining posisi TGB tentu akan redup pasca dirinya tak lagi menjabat sebagai gubernur NTB.

Baca juga  Zulhas: Sandiaga Jawaban bagi Milenial yang Butuh Lapangan Kerja

Namun, yang luput dari pikiran TGB, kedua skenario ini sejatinya sama mentahnya. Jika yang ditarget adalah skenario A, agaknya TGB tidak belajar dari sejarah. Tangan-tangan KPK tak pernah pandang bulu dalam menciduk mereka yang bersalah. Bahkan sekaliber Ketum Partai Golkar plus Ketua DPR, Setya Novanto, yang telah membawa Partai Golkar tegas-tegas mendukung Jokowi, tidak bisa selamat dari tangan hukum. Jadi, bisa dikatakan skenario ini pun sia-sia.

Skenario kedua pun tidak hebat-hebat amat. Sayang tak yakin dukungan TGB ini signifikan mendokrak suara Jokowi di Pilpres. Pertama, jumlah pemilih NTB cuma 3,5 juta orang berbanding jumlah pemilih nasional yang mencapai 196,5 juta orang. Artinya cuma 1,7 % dari total pemilih nasional. Pada Pilgub 2013, TGB cuma dapat dukungan 1.038.638 pemilih. Bahkan jikan dibandingkann dengan perolehan suara kandidat Pilgub di Jawa, jumlah ini tak signifikan.

Baca juga  Demokrat All Out, SBY Akan Jadi Jurkam Prabowo-Sandi di 150 Kabupaten/Kota

Kedua, pergeseran dukungan TGB telah mengalami resistensi besar di kalangan pendukungnya. Kita bisa mengamatinya di media sosial, banyak netizen yang dulu mengelu-elukan TGB, kini kecewa habis. Resistensi massa pendukung TGB ini mengkonfirmasi bahwa tak serta merta umat Islam akan ikut semua begitu TBG memberi dukungan kepada Jokowi. TGB tidak akan mampu mendorong pemilihnya untuk mengikuti langkah-langkah politiknya.

Dengan demikian, manuver TGB sejatinya adalah manuver yang sia-sia, baik bagi diri TGB apalagi bagi Jokowi. Yakinlah, KPK tidak akan pandang bulu. Jika KPK menilai TGB tersangkut, pastilah Gubernur NTB ini akan diciduk. Bagi Jokowi, manuver TGB tak lebih dari gerbong kosong. Tak akan signifikan menarik dukungan umat Islam untuk mendukung Jokowi di Pilpres 2019.

Oleh:  Eka Pratama, pengamat politik umat Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here