E-KTP Tercecer Sinyal Ada Yang Mau Selewengkan Suara Rakyat?

0
E-KTP Tercecer Sinyal Ada Yang Mau Selewengkan Suara Rakyat?

Publik heboh atas penemuan dua kantong plastik berisi Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) di semak-semak di Pariaman, Sumatera Barat pada 11 Desember 2018. Pasalnya, ini bukan kali pertama.

Peristiwa serupa sudah terjadi pada 26 Mei 2018 di Bogor, Jawa Barat.  Sebanyak satu kardus berisi e-KTP tercecer karena jatuh dari truk. Sebelumnya, pada 11 September 2018, satu kardus terbungkus karung berisi e-KTP juga ditemukan di Kebun Bambu, Serang, Banten. Lalu ada ribuan eKTP di sekitar permukiman di Duren Sawit Jakarta Timur, pada 8 Desember 2018 silam.  Oh, jangan lupa praktik jual beli blanko eKTP yang mulai viral di media sosail itu. Tak pelak, publik bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi?

Sulit kiranya memandang peristiwa ini hampa muatan politis. Karena Indonesia sudah memasuki tahun politik wajar bila banyak pakar yang menilai hal ini bisa berdampak pada Pemilu 2019. Jika penyelesaian kasus ini berlarut-larut, kualitas Pemilu 2019 akan anjlok.

Secara sederhana, publik bisa membaca lokus persoalannya. Ada dua hal yang patut jadi perhatian penting. Pertama, pemerintah, dalam hal ini Kemendagri, adalah institusi yang paling bertanggung jawab. Kinerja Kemendagri yang dipimpin Tjahjo Kumulo, yang berstatus politikus senior PDIP ini, patut diaudit secara khusus. Publik perlu tahu seberapa  tingkat profesionalitas dari ASN terkait termasuk pejabatnya

Baca juga  Tim BPN Optimis Prabowo Unggul di Debat Capres

dalam soal pelayanan e-KTP.

Kedua, perlu dipastikan apakah kasus-kasus ini murni kecerobohan ASN terkait? Pasalnya, kubu kandidat petahana sudah main apa dengan menyebut “keterlibatan” pihak di luar pemerintah.

Memang yang diuntungkan dari peristiwa ini adalah kalangan penantang Jokowi. Jokowi. Kubu Prabowo Subianto bisa memanfaatkan isu carut marutnya e-KTP sebagai amunisi. Sekiranya penyelesaiannya berlarut-larut, kubu Jokowi bisa dihantam habis-habisan karena dinilai tidak beres, tidak mampu menyelesaikan.

Bahkan bisa lebih ekstrem lagi. Muncul dugaan upaya penggelembungan suara di balik kasus ini: ada pemilih siluman. Alasannya, karena kasus penemuan e-KTP ini muncul jelang Pemilu 2019. Ini tidak bisa terlepas dari pengalaman Pilpres 2014. Kala itu banyak yang menilai kekalahan Prabowo karena persoalan DPT dan pemilih ganda yang bisa dimainkan. Kekhawatiran ini makin meruyak sebab sudah tersiar pula soal praktik jual-beli blangko e-KTP. Ada pula 31 juta data baru yang akan dimasukkan dalam data pemilih yang disusun KPU. Hal ini berpotensi memunculkan pemilih penyusup di Pemilu 2019.

Kalau ditelisik kasus ini memang seperti didesain, seperti disengaja. Meski begitu, saya melihat dugaan pihak penantang petahana bermain api agak keterlaluan. Siapa yang melakukan itu kalau bukan penyelenggara negara? Tidak mungkin masyarakat sipil punya akses ke gudang blanko eKTP kan?

Baca juga  Setelah Tolak Pemaparan Visi Misi, Kubu Jokowi Juga Tolak BW Jadi Panelis

Karena itu yang terjadi di kubu Prabowo sejatinya adalah langkah antisipasi menimbang pengelaman mereka di masa lalu.

Terakhir, apapun yang terjadi, masyarakat tidak boleh menjadi korban. Kasus ini jadi bukti betapa lemahnya tingkat keamanan data penduduk oleh pemerintah hari ini. Padahal KPU telah mewanti-wanti betapa bahayanya jika ada KTP yang beredar tanpa dipastikan keasliannya. Lantas, apakah masyarakat tidak perlu khawatir dengan kasus ini jelang Tahun Pemilu? Apakah suara mereka tidak akan diselewengkan?

Semua kemungkinan bisa terjadi, di sinilah ranah penyidikan pihak berwajib untuk bisa mengungkap peristiwa hukum dan latar belakangnya secara konprehensif.

Oleh: Dika Kusuma, netizen yang punya hak suara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here