Elektabilitas Petahana Menurun, Prabowo – Sandi Bisa Diuntungkan

0
2597
Elektabilitas Petahana Menurun, Prabowo – Sandi Bisa Diuntungkan

Lembaga Survey Indikator Politik Indonesia merilis hasil survey terbaru dengan menempatkan pasangan petahana masih memimpin perolehan suara hingga 57, 7 persen. Angka ini jauh diatas pesaing satu satunya pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno yang disebutkan mendapat dukungan suara 32,3 persen.

Ada yang menarik dari survey tersebut. Yaitu adanya kecendrungan menurunnya elektabilitas petahana dibanding periode bulan sebelumnya. Hal sebaliknya justru terjadi pada kandidat penantang menunjukkan grafik kenaikan serta masih tingginya angka pemilih yang masih belum menentukan/merahasiakan pilihan.

Saya semakin tertarik membaca hasil survey ini. Sebagai petahana, mestinya Jokowi sudah stabil dan tinggal memastikan pemilih tidak berpindah pilihan dari dirinya. Namun kenyataan hasil survey ini berbicara lain. Jokowi secara terus menerus mengalami penurunan elektabilitas dan mungkin saja, disisa waktu tujuh bulan kedepan, ia akan makin terpuruk.

Lalu apakah faktor yang memicu penurunan Jokowi dan kenaikan Prabowo tersebut. Menurut saya, ini disebabkan adanya figur SBY dan Partai Demokrat di kubu Prabowo.

Meski pada awalnya sempat terjadi kegaduhan, namun pelan dan pasti, kubu Prabowo – Sandi makin menapak jalan terang dan memberikan perlawanan. Bersama SBY, AHY dan Demokrat, Prabowo – Sandi serta koalisi lainnya seperti PAN, PKS, Berkarya terus memberikan perlawanan.

Jadi, tidaklah salah jika posisi SBY yang kini bergabung dengan koalisi Prabowo adalah penyemangat bagi koalisi Adil Makmur. Prabowo, jelas membutuhkan energi yang dimiliki Demokrat termasuk SBY dan AHY. Pengalaman sebagai Presiden selama sepuluh tahun dan loyalis yang masih tersebar kuat dimana mana membuat SBY tidak boleh dipandang sembarangan. Konon sebelum hari terakhir penentuan capres/cawapres di kedua kubu, Jokowi masih sempat merayu SBY untuk bergabung. Alasannya dapat saya terka, bahwa Jokowi juga sangat membutuhkan SBY dalam koalisinya. Namun sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa sulit mempersatukan SBY dan Megawati yang sudah lebih dahulu memimpin koalisi kerja.

Baca juga  Bandingkan Era SBY dan Jokowi, Sujiwo Tejo Takut Digeruduk Cebong

Penurunan elektabilitas Jokowi ini, saya yakini akan terus terjadi karena baru baru ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya sebelumnya terkait kondisi ekonomi. Pernyataan Sri yang selama ini dikenal mati matian membela klaim ekonomi baik baik saja seperti palu godam yang diberikan kepada penantang untuk memukul balik rezim berkuasa.

Pernyataan Sri membuktikan klaim oposisi selama ini bahwa kondisi ekonomi Indonesia rentan diterpa badai krisis. Kenaikan rasio utang luar negeri terhadap pendapatan domestik bruto serta makin tak terkendalinya nilai tukar mata uang Rupiah terhadap mata uang asing semakin memperkuat ketakutan bahwa Indonesia memang diambang kriris.

Hal lain adalah, banyaknya infrastruktur yang diklaim dibangun oleh pemerintah saat ini sebenarnya adalah lanjutan dari program kerja pemerintah terdahulu. Meski aktif berkampanye di media sosial dengan klaim keberhasilan pembangunan ini dan itu namun faktanya, justru bicara lain. Sebanyak klaim, sebanyak itu pula bantahan yang diungkap.

Hal lain yang justru membuat keadaan terbalik adalah dukungan kepala daerah terhadap Jokowi. Patut dicatat, baru saja dilantik menjadi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil sudah menegaskan sikap untuk mendukung Jokowi di Pilpres. Hal yang sama dilakukan oleh kepala daerah lain seperti Lukas Enembe di Papua dan belasan Bupati/Walikota lainnya. Sikap ini tentu mengejutkan publik. Belum bekerja saja, para kepala daerah itu sudah keluarkan pernyataan dukung mendukung.

Baca juga  Hormati Sikap Demokrat, Kubu Prabowo Cari Waktu Agar Bisa Kampanye Bersama

Blunder lain juga dilakukan oleh Tim kampanye Jokowi yang terkesan pongah. Raja Juli Antoni, Guntur Romli dan beberapa nama lain di Tim Kampanye Jokowi memamerkan kepongahan seolah olah kemenangan sudah ditangan. Belum lagi blunder kasar Ali Ngabalin, Farhat Abbas dan nama nama lainnya.

Saya jadi teringat ucapan orang bijak, bahwa musuh terbesarmu adalah orang dekatmu. Saya meyakini, penurunan elektabilitas Jokowi ini juga bisa jadi disebabkan oleh tingkah polah tim kampanyenya yang asbun dan liar.

Jadi jika elektabilitas petahana terus menurun, dan ini dimanfaatkan dengan baik oleh kubu penanantang, bukan tidak mungkin 2019, Indonesia akan memiliki Presiden baru. Sebab, 11 persen angka responden yang tidak menjawab itu bukan selalu karena belum menentukan pilihan, tapi karena merahasiakan pilihan. Dan bagi saya, inilah mereka silent majority itu. Mereka akan menjadi memberi kejutan kepada petahana atau sebaliknya.

Oleh Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here