Garbi Siap Merepotkan PKS

0
ilustrasi Garbi vs PKS
ilustrasi Garbi vs PKS

Organisasi Kemasyarakatan (ormas) Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) mempersiapkan diri menjadi partai politik dan mengaku siap bertarung di pentas politik 2024. Jalan yang ditempuhnya ini mirip dengan NasDem dan Perindo diawal-awal, menjadikan ormas sebagai simulasi untuk mengukur perhatian publik. Faktor Fahri Hamzah yang vokal dan moment politik 2019, ormas ini dengan cepat berkembang di seantaro Indonesia.

Seperti diketahui, Fahri sempat beberapa kali dijungkalkan oleh partai yang membesarkannya, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Akan tetapi, bukan Fahri namanya kalau dia hanya diam menerima pukulan-pukulan itu. Fahri pun kemudian melawan para murabinya itu dan memenangkan perkara mulai dari Pengadilan Tinggi hingga tataran Mahkamah Agung. Tidak hanya disitu, perlawanan Fahri juga berujung pada denda yang harus dibayar sejumlah elite PKS sebesar 30 miliar rupiah.

Banyak pendapat yang berkembang, lahirnya Garbi adalah salah satu bentuk perlawanan Fahri kepada sejumlah elite PKS. Pendapat lain mengatakan, Garbi awal, dianggap sebagai kendaraan politik Fahri untuk dapat eksis di kancah perpolitikan tanah air. Terbukti, Garbi yang awalnya adalah ormas diyakini kedepan akan menjadi salah satu partai politik.

Sebagai bakal calon partai baru di 2024, ternyata Garbi mempunyai irisan atau basis suara yang sama dengan PKS. Hal tersebut cukup beralasan, karena banyak pengurus Garbi berasal dari kader-kader PKS yang sebelumnya dicopot posisinya, mirip seperti kasus Fahri vs PKS. Perbedaan Garbi dan PKS hanyalah masalah pendekatan kepada konstituen. Jika PKS menyasar kelompok islam secara menyuluruh, Garbi cenderung memilih segmen pemilih muda islam yang kiritis dan nasionalis.

Dengan segmen pemilih muda, acara-acara yang dihelat Garbi pun terkesan lebih santai. Bahkan Fahri yang dianggap macan panggung, beberapa kali tidak berkutik ketika ‘diroasting’ oleh komik stand up comedy. Fahri sangat paham fisiologi anak muda yang gemar mengkritik tanpa harus baper ketika dikritik.

Baca juga  Olly: Fahri Datang sebagai Wakil Ketua DPR

Segmen pemilih yang akan disasar Garbi ini tentunya kedepan akan sangat merepotkan PKS. Di pemilu 2019 lalu, pemilih milenial diprediksi hampir 40 persen dari jumlah pemilih di Indonesia. Angka itu diprediksi akan terus meningkat seiring bonus demografi atau ledakan penduduk usia produktif yang diprediksi baru berakhir di 2036.

Faktor lain yang kedepan akan membuat PKS keteteran menghadapi Garbi adalah media. Peran sebagai ‘oposisi minoritas terkucil’ (mengutip pernyataan Andi Arief), tentunya akan membuat partai ini ke depan sangat minim publikasi media. Apalagi satu-satunya program yang diperjuangkan PKS saat kampanye lalu (penghapusan pajak kendaraan roda dua) merupakan keniscayaan untuk bisa terwujud karena berdampak kepada ekonomi secara makro.

Berbeda dengan PKS, Garbi dengan tokoh sentral Fahri Hamzah sepertinya akan menjadi sorotan banyak media dengan sikapnya yang berani tampil beda. Apalagi saat ini Fahri Hamzah diketahui juga tengah mempersiapkan ide publikasi kreatif dengan cara membuat chanel YouTube. Ide publikasi ini tentunya bukan semata-mata karena kebetulan dan tanpa ada kalkulasi yang jelas.

Sekali lagi, segmentasi pemilih dan pola pendekatan yang dilakukan Garbi ke depan diyakini akan sangat merepotkan PKS. Jika Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera memberi candaan “bikin partai itu berat, biar kami saja”, sebenarnya itu adalah sikap menghibur diri semata. Karena, di sisi lain ketakutan elite PKS itu terlihat jelas dengan harapan Garbi tidak mengambil kader-kader PKS.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here