Harga Anjlok, Petani Garam Minta Ekspor Dihentikan

0
1958
Pekerja menyortir garam beryodium di sebuah industri rumahan pengolahan garam beryodium di Desa Kedungmalang, Kedung, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (16/1). (ant)

PolitikToday – Ratusan petani garam asal Sumenep, Madura kesulitan menjual garamnya ke pasaran karena anjloknya harga garam. Selain itu perusahaan di Jatim juga enggan menyerap garam petani.

“Kalau dulu biasanya langsung dijual ke Susanti (perusahaan penggolahan) tapi sekarang tidak mau. Perusahaannya buka tetapi gudangnya tutup,” kata Candra, petani garam asal kecamatan Kalianget, Sumenep, saat mendatangi kantor Pemprov Jatim, Senin (6/2).

Dia mengatakan, jumlah garam yang belum terserap ke pasar pada 2017 mencapai 75 ribu ton. Sampai saat ini, harga garam terus merosot hingga Rp 2 ribu kg.

“Kalau pada tahun 2017 yang belum terserap mencapai 75 Ribu ton,” katanya lagi.

Dia mengatakan, punya 30 hektare lahan garam dan sekarang tidak berproduksi lagi. Pasalnya, harga garam sudah tidak menutup biaya operasional dan ongkos membayar pekerja. Candra berharap agar Pemprov Jatim meninjau ulang izin bongkar garam di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Baca juga  PKS Diyakini Akan Tetap Dukung Prabowo Meski SSA Tidak Dijadikan Cawapres

“Kita belum tahu akan meneruskan menanam atau tidak. Karena sekarang harganya sangat rendah dan kita merugi. Kami berharap agar impor garam dihentikan. Kalau tidak harga garam lokal bisa hancur,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelainan dan Perikanan Heru Tjahjono mengatakan, pada 2018 akan mengeluarkan kebijakan meningkatkan mutu garam petani. Di antaranya dengan memberi bantuan geomembran dan rumah garam.

“Kami akan menggelontor program yang bisa meningkatkan garam petani. Untuk menambah target garam petani yang layak konsumsi industri meningkat menjadi 50 persen,” katanya ketika dikonfirmasi.

Menurut dia, kualitas garam petani lokal sebenarnya standart import. Bahkan, kandungan NACL mencapai 97,8 persen, sehingga layak menjadi konsumsi industri.

Tahun ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merekomendasikan impor garam untuk kebutuhan industri sebesar 2,17 juta ton. Angka tersebut berbeda dengan rencana impor garam oleh Kementerian Perdagangan sebanyak 3,7 juta ton.

Baca juga  Yenny Wahid: NU Tidak Boleh Berpolitik

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengatakan, KKP telah menyampaikan rekomendasi impor garam tersebut dalam rapat di Kementerian Koordinator Bidang Perekenomian. Namun rekomendasi KKP tak diindahkan dalam rapat koordinasi tersebut.

“Keputusan untuk mengimpor 3,7 juta ton adalah overidde dari Kementerian Ekonomi dan Perdagangan karena pertimbangan-pertimbangan tertentu tidak mengindahkan rekomendasi Kementerian Kelautan dan Perikanan yang hanya merekomendasikan 2,1 juta ton. Saya mohon ini tidak dipolitisir. Karena impor garam itu sudah dilakukan jauh sejak menjabat menteri, kita sudah 15 tahun mengimpor,” kata Susi.
(kg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here