Ikan Tongkol dan ‘Ganti Presiden’, Kedewasaan Berpolitik vs Provokasi di Debat Pilkada

0
1713
Ikan Tongkol dan ‘Ganti Presiden’, Kedewasaan Berpolitik vs Provokasi di Debat Pilkada
Pasangan calon gubernur dan wagub Jawa Barat nomor urut empat Deddy Mizwar (kiri)-Dedi Mulyadi (kanan) menyampaikan visi dan misinya pada Debat Publik Putaran Kedua Pillgub Jabar 2018 di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (14/5). Tema yang diangkat pada debat kedua Pilgub Jabar mengenai lingkungan hidup, sumber daya alam (SDA), energi dan pangan, pertanian, kelautan, kehutanan dan pertambangan. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Kedewasaan berpolitik yang hari-hari ini mulai jarang ditemui, akhirnya tersaji dalam debat calon pemimpin Pilkada Jawa Barat jilid 2. Empat pasangan kandidat berdebat dengan sehat, saling canda menghiasi pemaparan visi dan misi yang mereka usung dalam kontestasi. Meski di penghujung acara, salah satu pasangan calon melakukan kesalahan sehingga memprovokasi pihak lawan.

Tetapi setidaknya, dalam debat yang berlangsung selama hampir tiga jam itu, rakyat Jabar sudah bisa memilah, mana kandidat yang benar-benar punya program, mana yang hanya retorika, dan mana pula yang mencoba memperkeruh suasana guna menggalang suara.

Mesti jujur diakui, dari empat pasang kandidat itu hanya dua pasangan calon yang terlihat menonjol dalam debat yang berlangsung di Gedung Balairung, Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Senin (14/5/2018). Keduanya adalah Ridwan Kamil (Emil)-Uu Ruzhanul (Rindu) dan Deddy Mizwar (Demiz)-Dedi Mulyadi (Duo DM).

Selain popularitas dan elektabilitas kedua pasangan ini melejit jauh di atas dua pesaing lain, mereka juga memiliki program yang konkrit untuk ditawarkan. Terlebih lagi, sikap hangat yang ditampilkan Demiz dalam debat, membuat suasana cair dan dipenuhi gelak tawa. Sebuah sikap bijaksana yang jarang terlihat dalam setiap kontestasi pilkada.

Banyak momen menggelitik dari Demiz, yang membuat debat membosankan menjadi tontonan yang menarik. Di antaranya kala kader Partai Demokrat ini dicecar pertanyaan oleh pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) soal ketersediaan listrik di Jabar. Awalnya Demiz bercanda kalau debat kali ini yang terpanas, sebab banyak penonton berkipas-kipas.

Celetukan itu dibalas oleh Syaikhu, yang menyebut hal itu terjadi karena Demiz selaku wakil gubernur kurang memberikan subsidi listrik bagi kampus-kampus. Ia pun berjanji jika nanti jadi wagub, ia akan menambah jumlah subsidi.

Calon wakil Demiz, Demul, membalas, jika regulasi soal subsidi merupakan kewenangan gubernur, yang dulu dijabat oleh kader dari partai politik Syaikhu. Lagipula, timpal Demiz, bagaimana mungkin Syaikhu bisa menjadi wagub, jika yang jadi gubernur nanti adalah dirinya. Celetukan itu mengundang gelak tawa penonton dan kandidat lainnya.

Begitu pula kala pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) bertanya soal pengelolaan Citarum. Pasangan yang diusung PDI Perjuangan itu malah lebih banyak berbicara hingga waktu habis, ketimbang mendengarkan pemaparan dari Duo DM. Akibatnya dengan nada pura-pura kesal, Demiz bilang, “Saya kapan ngomongnya ini?”

Lebih menarik lagi kala pasangan Duo DM beradu argumen dengan pasangan Rindu. Saat Uu kewalahan menjawab pertanyaan dari Demul yang menyoroti kesemberautan Kabupaten Tasikmalaya, daerah yang dipimpin cawagub Emil itu, Demiz lagi-lagi tampil menghibur. Ia meminta cawagubnya untuk memberinya kesempatan bicara dengan gestur bercanda.

Namun alih-alih menengahi perdebatan, ia ikut mencecar Emil yang dinilai tak beres mengurus Kota Bandung lantaran mesin parkir tak pernah berfungsi. Mendengar Emil gelagapan menjawab, Demiz justru tertawa terpingkal-pingkal. Bukannya mendengar jawaban, ia malah menghitung mundur waktu yang disediakan panitia debat. “Empat, tiga, dua, satu, selesai,” katanya sembari tertawa mendekati pasangan Rindu untuk bersalaman.

Emil pun tertawa melihat tingkah pesaingnya itu. Bahkan dia ikut berjingkrak menyambut uluran tangan Demiz. Di akhir acara pun wali kota Bandung ini malah terlebih dahulu menyongsong Demiz yang duduk paling ujung, untuk menyalaminya dengan sikap tubuh menunduk.

Ulah Demiz itu nyatanya tak membuat Emil dan kandidat lain merasa tersinggung. Bahkan mereka terlihat menjadi kian akrab. Tak nampak perselisihan di antara mereka, meski tengah terlibat dalam kontestasi demokrasi di pilkada. Memang, Demiz berhasil mencairkan suasana dengan mempertontonkan kedewasaan dalam berpolitik.

Sayangnya, di penghujung debat, terjadi insiden yang diduga melanggar moral dan etika. Dalam closing statement-nya, pasangan Asyik memperagakan kaos bertuliskan “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden”. Hal tersebut sempat membuat kegaduhan, lantaran kader-kader dari parpol pemerintah tak terima dalam debat pilkada kandidat dari parpol oposisi ini justru berkampanye untuk pemilihan presiden.

Meski acara terhenti sejenak, debat akhirnya bisa berlanjut untuk mendengar orasi terakhir dari pasangan Duo DM. Lagi-lagi, pasangan ini berhasil membuat penonton tersenyum. “Saya sudah kurang bernapsu menyampaikan ini sebetulnya, karena melihat istri saya ketakutan. Saya serahkan ke Pak Dedi, tapi saya buka di awal saja saya sampaikan. Ikan tongkol… lanjut,” kata Demiz.

Demul kemudian melanjutkan dengan mengatakan mereka hadir untuk menyejahterakan buruh tani dan masyarakat lainnya, serta akan menyelesaikan problem lingkungan. “Pat pat gulipat gunung jangan diembat, pat pat gulipat rakyat kudu dirawat, pat pat gulipat jangan lupa pilih nomor empat.”

Oleh: Muhammad Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here