Indonesia Rindu Pemimpin Pemersatu

0
1620

Dalam beberapa tahun belakangan, suhu politik di Indonesia tengah memanas. Meski telah tiga tahun berlalu, tapi efek dari Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 masih terasa hingga saat ini. Terutama yang pendukung Jokowi dan Prabowo, mereka masih tidak akur.

Jika biasanya ketegangan hanya terjadi ditingkat elit atau kader partai politik, tapi kali ini sudah merambah ketengah masyarakat biasa. Kalau hanya perdebatan masih dianggap wajar, tapi sudah menjurus kepada fitnah dan saling caci maki. Ini menjadi sinyal bahaya bagi kelangsungan negara kita, karena dapat menganggu hubungan sesama warga negara dan menghambat pembangunan.

Ada beberapa faktor yang membuat hal itu terjadi. Pertama, karena cinta mati. Yang dimaksud dengan cinta mati adalah pendukung Jokowi dan Prabowo terlalu beranggapan tokohnya benar, meski salah tapi tetap dianggap benar dan dibela. Kedua, benci sampai mati. Yang dimaksud dengan benci sampai mati adalah tidak mengakui kalau lawan tokohnya telah melakukan hal benar, dan selalu dianggap salah.

Faktor cinta dan benci mati ini telah mematikan logika dan menutup hati dalam menerima kebenaran. Karena ingin membela tokoh idolanya, para pendukung tersebut rela melakukan tindakan yang menyakiti hati orang lain. Pendukung Jokowi harus mengakui kalau idolanya telah melakukan beberapa kesalahan, sedangkan pendukung Prabowo juga harus mengakui kalau Jokowi telah melakukan beberapa hal kebaikan.

Baca juga  KPK Kembali Garap Setya Novanto dalam Mega Skandal Korupsi E-KTP

Ketiga, pemenang berlaku tidak adil. Faktor yang satu ini lebih mengarah kepada bagaimana penegakan hukum di Indonesia sejak Jokowi menjadi penguasa. Banyak ketimpangan dalam penegakan hukum, terutama berkaitan dengan orang-orang yang pernah mendukungnya.

Contohnya, kasus yang melihat Buni Yani dan Jonru. Dua sosok yang sering mengkritisi pemerintah ini diproses karena kasus ujaran kebencian. Sedangkan orang-orang yang melakukan hal serupa seperti Boni Hargen, Victor dan lainnya belum juga diproses meski jelas-jelas bukti perbuatannya ada. Bedanya orang ini adalah barisan yang dulu menjadi tim pemenangan Jokowi.

Mungkin saat ini pendukung Prabowo tentu bersemangat menjelang 2019, tujuan mereka untuk merebut kekuasaan dari Jokowi dan membalaskan dendam. Sedangkan pendukung Jokowi juga mungkin sedang mengerahkan seluruh kemampuannya, agar mempertahankan kekuasaan. Bisa jadi mereka berfikir jika Prabowo menang, maka posisi mereka tersudut.

Sebagai Presiden Indonesia, Jokowi harus mampu mengatur para pembantunya agar tidak berbuat ketidakadilan. Dia juga harus membuktikan dirinya kalau tidak pilih kasih dalam menetapkan kebijakan. Contohnya saat Ahok telah jadi terdakwa, Jokowi tidak menonaktifkan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Padahal kepala daerah lain langsung diberlakukan penonaktifan.

Baca juga  Lapangan Kerja Dikuasai Asing, Ketua MPR Minta Mahasiswa Jangan Diam

Indonesia Rindu Pemimpin Pemersatu

Menjelang 2019, suhu politik diprediksi bakal makin memanas. Kalau tidak dapat dikendalikan dengan benar, persatuan Indonesia akan terpecah. Siapapun yang akan menang diantara kedua tokoh ini pada Pilpres mendatang, diperkirakan ketegangan bakal tetap berlangsung.

Padahal kalau ditanya kepada masyarakat yang selama ini banyak diam dan jumlahnya mayoritas, mereka lebih memilih sosok yang dapat mempersatukan. Siapapun yang menang dapat merangkul semua, walaupun itu dari pihak kalah. Kerinduan akan hadirnya sosok pemimpin yang dapat mempersatukan itu sangat jelas disampaikan masyarakat.

Dan perlu diketahui, di Indonesia bukan hanya ada Jokowi dan Prabowo yang mampu memimpin 250 juta jiwa rakyat. Masih banyak tokoh lain, mulai dari yang berpengalaman hingga muda dan energik. Sebut saja ada nama Jusuf Kalla, Yusril Ihza Mahendra, Gatot Nurmantyo, Agus Harimurty Yudhoyono (AHY) hingga Tuan Guru Bajang.

Saya yakin, kalau Pilpres 2019 nanti ada tiga pasangan calon dan dua diantaranya Jokowi dan Prabowo. Maka kandidat ketiga punya peluang untuk menang, karena masyarakat rindu dengan pemimpin pemersatu.

Oleh – Yandika Pratama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here