Ingat! Pemilu 2019 Bukan Cuma Buat PDIP dan Gerindra

0

Pemilu 2019 adalah kompetisi politik yang mengerikan. Dilakukannya pemilu presiden dan pemilu legislatif secara bersamaan telah memantik fenomena baru. Elektoral capres-cawapres ternyata tidak sepenuhnya berimbas positif pada parpol-parpol koalisi.

Hanya PDIP dan Partai Gerindra yang mendapat durian runtuh dari Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Alasannya sebab Jokowi kader PDIP, sementara Prabowo Subianto adalah Ketua Umum Partai Gerindra. Ada presidential effect di situ.

Akan makin tragis bila kita mencermati hasil-hasil survei pileg yang banyak dirilis lembaga survei. Hingga hari ini hanya ada lima parpol yang diprediksi lolos parliamentary threshold (PT). Mereka adalah PDIP, Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat dan PKB. Selebihnya masih harus berjuang keras untuk menempatkan kader-kadernya di Senayan.

Fenomena ini mengindikasikan ada yang salah dari model koalisi parpol dengan pasangan capres-cawapres yang mereka dukung. Padahal, yang namanya kerjasama seharusnya bersifat saling menguntungkan. Ketika parpol mendukung pasangan capres-cawapres, mereka juga mendapat imbas positif.

Kompensasi berupa kursi menteri itu penting. Tetapi perolehan suara parpol di Pileg juga tak kalah penting. Buat apa punya kader yang duduk di kabinet jika jumlah dukungan di DPR tidak seberapa.

Baca juga  Tak Berani Beda Pilihan, DPW PAN Kalsel Deklarasi Dukung Jokowi-Ma'ruf

Sehingga seharusnya capres-cawapres juga turut membantu dalam mengerek elektabilitas parpol pengusungnya agar bisa lolos PT sebesar 4 persen secara nasional. Dengan lolos PT, parpol koalisi bisa melanjutkan kerjasama politiknya dengan capres-cawapres terpilih melalui DPR guna mengawal program-program pemerintahan baru yang dibentuk.

Tragisnya efek elektoral capres-cawapres ternyata cuma didapat PDIP via Jokowi dan Partai Gerindra via Prabowo. PPP dan Partai Hanura malah diprediksi tidak lolos PT. Sementara Partai Nasdem diramalkan akan terpental dari kursi parlemen pada 2019 mendatang. Sedangkan suara Partai Golkar diperkirakan akan anjlok. Di kubu Prabowo, sudah diprediksi PKS dan PAN akan tergusur dari DPR.

Tragis bukan. Ketika parpol-parpol itu sudah jungkir balik memenangkan kandidatnya, mereka justru berpeluang gagal punya wakil di DPR. Padahal mereka seharusnya bisa ikut menerima benefit elektoral dari dukungan yang mereka berikan kepada Jokowi dan Prabowo.

Dari sini bisa tergambar ada yang salah dari model kerjasama politik antara parpol koalisi dengan capres-cawapres. Model kampanye yang disetting Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf maupun BPN Prabowo-Sandiaga Uno tidak bisa menjawab masalah ini. Model yang mereka terapkan tidak cukup menguntungkan seluruh parpol koalisinya.

Baca juga  Nama Ketum PPP dan Kode ‘McLaren’ Kembali Disebut di Sidang Mafia Anggaran

Fenomena ini sudah menjadi keresahan bersama di kalangan parpol. Partai Demokrat menjadi pelopor dengan menerapkan sistem “dua kaki”, yakni sinergi pilpres dan pileg. Meskipun sempat dibully habis-habisan, nyatanya banyak parpol yang mulai terang-terangan mengikuti jejak Partai Demokrat. Sebut saja Partai Golkar, Nasdem dan PAN.

Karena itu diperlukan pembaruan model kerjasama politik di antara parpol dengan masing-masing capres-cawapres, khususnya dalam model kampanye yang dikembangkan. Jika fenomena ini terus diabaikan, bisa-bisa prediksi lembaga-lembaga survey itu benar-benar terjadi.
JIka benar-benar hanya ada lima parpol di DPR, hampir dapat dipastikan akan terjadi perubahan yang sangat besar dalam peta politik nasional ke depan.

Oleh: Toni Hidayat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here