Ini Peta “Langgeng-Cerai” Petahana di 7 Pilkada Sultra

0

PolitikToday – Pengamat politik Sulawesi Tenggaran (Sultra), Najib Husain memprediksi peta politik petahana di 7 kabupaten di Sultra yang akan menggelar Pilkada 2020. Menurutnya fenomena pecah kongsi kandidat petahana sangat mungkin terjadi.

Kemungkinan besar kepala daerah yang akan bercerai, kata Najib, adalah di Konawe Selatan (Konsel) antara pasangan Surunuddin Dangga dengan Arsalim. Selanjutnya, Tony Herbiansyah dan Andi Merya Nur di Kolaka Timur (Koltim).

“Yang sudah pasti Konawe Selatan, Kolaka Timur, Buton Utara antara Abu Hasan dan Ramadio masih fifty-fifty, Wakatobi (Arhawi-Ilmiati, red) juga peluangnya fifty-fifty,” jelas pengajar di FISIP Universitas Halu Oleo (UHO), Selasa (9/7/2019).

Sementara paslon yang masih langgeng akan bertahan adalah di Konawe Kepulauan dan Konawe Utara. Najib memprediksi Amrullah dan Andi Muhammad Lutfi masih akan maju bersama di Pilkada Kepulauan. Demikian pula Ruksamin dan Raup untuk Pilkada Konawe Utara.

Terkait Pilkada Muna, Bupati Rusman Emba dipastikan akan mencari pasangan lain. Pasalnya, Malik Ditu sudah memasuki periode kedua sebagai Wakil Bupati Muna.

Alasan Pecah Kongsi

Najib menilai ada beberapa faktor yang membuat pasangan petahana tak langgeng. Pertama faktor internal soal tugas pokok dan fungsi satu sama lain.

“Faktor yang kedua, saya mengistilahkan ada pembagian ‘kue’ yang tidak adil, dimana lebih dominan bupati daripada wakil bupati,” imbuh Najib.

Selain itu, ada faktor eksternal juga mempengaruhi kemesraan keduanya yaitu masalah komitmen parpol pengusung. Seharusnya parpol pengusung bisa mempertahankan pasangan bupati dan wakilnya karena parpol menjadi tempat “curhat” mereka.

“Tapi persoalannya partai politik tidak bisa menjalin hubungan jangka panjang. Karena mereka masuk ke partai politik tidak gratis, tetapi harus membayar biaya politik yang cukup besar,” tegasnya.

Baca juga  Lukman Edy Minta DPR RI Harus Tegas Sikapi Status Novanto

Terkait, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kendari Muhammad Nasir mengatakan pecah kongsi dalam dunia politik itu hal yang sangat dimungkinkan. Memakai istilah klasik, dalam politik tidak ada musuh maupun kawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan.

Wacana cerai para pasangan kepala daerah ini, kata Nasir, bisa terjadi karena beberapa faktor. Misalnya basis massa yang dibangun oleh 01 sendiri sejak memangku jabatan, birokrasi yang besarkan, dan kedekatan partai politik.

“Mungkin juga karena kemampuan wakil selama ini, punya massa, jaringan di birokrat, dan punya saham selama ini,” ujar Muhammad Nasir, Selasa (9/7/2019).

Kendati demikian, Nasir meragukan kemampuan 02 ini untuk bertarung melawan 01 soal kendaraan partai politik mereka. 02 Tidak menjadi masalah ketika punya kekuatan partai untuk maju pilkada.

Selain itu, menurutnya, para wakil ini harus berani mempublikasikan diri kepada masyarakat luas terkait kinerja yang selama ini dihasilkan.

“Di sini juga mereka harus punya strategi, mereka harus mampu mempublikasikan program kerja mereka, baik bupati maupun wakil bupati. Tinggal masyarakat yang menilai,” pungkasnya.

(rt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here