Inilah Tujuh Nama Tokoh yang Berpeluang Jadi Calon Wakil Presiden di Pilpres 2019

0
1576

Pilpres 2019 masih lama akan dilakukan. Undang-undang pelaksanaan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu juga masih harus diuji di Mahkamah Konstitusi dan sampai saat ini belum ada vonis dari ruang sidang hakim yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat itu. Namun jika merujuk pada hasil survey nama nama seperti Agus Harimurti Yudhoyono, Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Muhaimin Iskandar, Zulkifli Hasan, Yusril Ihza Mahendra dan bahkan Setya Novanto masuk dalam daftar nama yang akan dipilih sebagai Wakil Presiden pada Pilpres mendatang.

PolitikToday mencoba menuliskan tujuh nama tersebut dalam uraian dibawah ini:

Agus Harimurti Yudhoyono

Nama mantan Calon Gubernur DKI 2017 ini menjadi nama yang paling banyak disorot. AHY begitu hari ini, putra tertua Presiden RI ke Enam, SBY itu biasa dipanggil menempati posisi teratas dalam polling yang dilakukan beberapa lembaga Survey. Bahkan nama AHY menjadi politisi paling dipilih oleh generasi milenial jika kelak ia ikut serta dalam Pilpres 2019 entah menjadi Capres atau Cawapres.

Modal elektabilitas sebesar 17 persen di Pilkada DKI lalu memang masih kecil jika dihitung dengan skala nasional, namun jika mencermati langkah politiknya pasca April 2017 lalu, Ayah satu anak ini pantas diperhitungkan. Sebagai politisi baru, AHY memiliki sandaran kekuatan yaitu Partai Demokrat dan saat ini didukung penuh oleh partai berlambang mercy itu.

Poster besar AHY bersama kader Partai Demokrat kini dengan mudah dapat dijumpai di berbagai daerah. Bahkan setiap kunjungannya ke daerah dalam rangka memberikan ceramah umum di kampus kampus, ratusan bahkan ribuan mahasiswa rela antri dan berdesakan untuk mengikuti kuliah umum alumni terbaik Akademi Militer tahun 2000 tersebut.

Yusril Ihza Mahendra

Nama kedua ini memang bukan nama asing di jagat politik dalam negeri. Ia sudah malang melintang di pentas politik baik semasa orde baru maupun semasa reformasi dan saat ini. Yusril adalah Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang yang juga dijuluki pendukungnya sebagai “Natsir Muda”.

Hal itu wajar, karena semasa aktif di organisasi kemahasiswaan, Yusril dikenal dengan dengan tokoh pendiri Masyumi dan Mantan Perdana Menteri RI Dr. Mohammad Natsir. Yusril kenyang makam asam garam politikd an pemerintahan.

Baca juga  Politisi PDIP: Ada Mafia Anggaran di Pemerintah dan DPR

Dimasa Soeharto, ia sudah bekerja di Bina Graha sebagai pengonsep dan penulis pridato Soeharto, dimasa Reformasi, Ia beberapa kali menjabat sebagai Menteri di Kabinet dan terakhir menjadi Mensesneg di Kabinet Indonesia Bersatu pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Sayangnya, partai Yusril, yaitu Partai Bulan Bintang saat ini masih harus berjuang keras di Mahkamah Konstitusi dan Bawaslu karena digugurkan oleh KPU sebab dianggap tidak lolos syarat administrasi.

Zulkifli Hasan

Seperti halnya Yusril, nama politisi asal Lampung ini juga memiliki modal yang tak boleh diremehkan. Zulhas begitu ia biasa disapa adalah Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional dan Ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2014 – 2019. Ia juga dikenal sebagai politisi tanggung dan sudah malang melintang di pentas politik nasional sejak tahun 1999 lalu di PAN.

Zulhas juga pernah menjabat sebagai Menteri Kehutanan dan Perkebunan pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Dengan status tambahan sebagai Besan Ketua Majelis Kehormatan PAN, Amien Rais, Zulhas juga diyakini memiliki peluang untuk menjadi orang nomor dua di Indonesia pasca 2019 yang akan datang.

Anies Rasyid Baswedan

Nama yang satu ini tiba tiba melonjak naik usai berpidato di Balaikota DKI beberapa saat setelah pelantikannya sebagai Gubernur DKI di Istana Negara, Oktober bulan lalu. Anies Baswedan sebelumnya dikenal sebagai Rektor Universitas Paramadina Jakarta.

Doktor Ilmu Politik lulusan Cornell University, Amerika Serikat itu disebut sebut akan mengikuti jejak Gubernur DKI sebelumnya Joko Widodo yang maju di Pilpres 2014 lalu. Anies sendiri pada saat kampanye 2014 tercatat sebagai Tim Sukses dan Juru Bicara Tim Kampanye Jokowi- JK.

Kedekatan hubungan antara Anies dengan Jusuf Kalla dan dukungan Partai Gerindra kepadanya pada Pilkada 2017 lalu, diyakini akan dijadikan alat untuk menggerek elektabilitas cucu pejuang kemerdekaan Abdurrachman (AR) Baswedan kelak.

Muhaimin Iskandar

Cak Imin, begitu Politisi dan Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa ini disapa tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia adalah seorang politisi ulung dan kenyang makan asam garam politik Indonesia.

Baca juga  Marsekal Hadi Tjahjanto Lolos Fit and Proper Test, Kontras Kritik DPR

Lahir dari keluarga darah biru Nahdatul Ulama, Muhaimin pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR periode 2004- 2009 dan menjadi Menteri Tenaga Kerja pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (2009 – 2014).

Ditangan keponakan Mantan Presiden Abdurrrahman Wahid itu, Partai Kebangkitan Bangsa disebut sebut mengalami transformasi menjadi partai modern namun dengan tetap mengandalkan basis masa kaum Nahdliyin (NU). Namun, sebagaimana pendapat kalangan pengamat, Muhaimin terkendala satu hal. Ia praktis hanya mengandalkan perolehan suara dari basis NU.

Gatot Nurmantyo

Nama lain yang tak boleh dipandang enteng adalah nama Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo. GN mulai dielu elukan sebagai calon pemimpin masa depan karena dianggap sebagai tokoh militer yang disukai kelompok Islam. Hal ini menurut beberapa pengamat terjadi karena Gatot dinilai mampu memainkan peran persuasif terhadap kelompok Islam saat melakukan aksi aksi bela Islam pada tahun 2016 lalu.

Gatot sendiri, sepertinya tidak ambil pusing dengan hal itu. Kepada media dalam beberapa kali kesempatan, Jenderal bintang empat dan pernah menjabat sebagai KASAD itu menyebutkan, ia tengah fokus menjalankan tugasnya sebagai Panglima TNI.

Sebagaimana diketahui, masa jabatan Panglima TNI akan segera berakhir seiring dengan masa pensiun Jenderal Gatot pada April 2018 yang akan datang.

Setya Novanto

Nama terakhir ini menjadi Trending topic media sosial sejak dua bulan lalu. Setya Novanto memang seorang politisi kawakan dan lihai. Ia kini tengah tersangkut kasus hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Meme meme dan berbagai tulisan serta tanda pagar di jejaring media sosial seperti Twitter, Facebook dan Instagram dengan mudah dijumpai dan dishare oleh ratusan bahkan ribuan akun.

Namun peluang Setya bukan tidak ada. Ia berada di posisi teratas sebagai calon yang berhak diusung oleh Partai Golkar karena berstatus sebagai Ketua Umum. Secara struktural, Setnov tentu harus didahulukan. Namun demikian, jika melihat situasi yang tengah dihadapinya saat ini, nama Setnov sepertinya tidak terlalu dihitung.

(mrz/net)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here