Internal Golkar Kembali Pecah?

0
2136
Internal Golkar Kembali Pecah?

Pada pertengahan Agustus silam, anggota Dewan Pembina Partai Golkar Fadel Muhammad mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait kondisi di internal partainya. Fadel menyebut bahwa gara-gara Joko Widodo memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapres, internal Golkar pecah. Sebagian kader berjuang untuk kemenangan Joko Widodo, sebagian sibuk mengurus kemenangan dalam pemilu legislatif.

Sebulan kemudian, apa yang disampaikan Fadel menjadi kenyataan. Saat elit elit Golkar tengah berbulan madu bersama Jokowi dan tengah asik menikmati jabatan struktural di Tim Kampanye Nasional, kader partai beringin mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo – Sandiaga Uno. Mereka, para kader tersebut mengatasnamakan diri Forum Caleg Golkar dan menyatakan sikap mendukung Prabowo sebagai Capres, bukan sebagaimana sikap politik Golkar yang mengusung Jokowi.

Saya tidak terlalu heran dengan pernyataan Fadel tersebut. Apalagi pernyataan koordinator Forum Caleg Golkar yang dideklarasikan di salah satu hotel di Jakarta. Golkar memang partai yang selama perhelatan Pilpres berlangsung selalu terpecah sikap soal dukung mendukung capres/cawapres. Seorang kawan bahkan menyebut, bahwa sikap ini terjadi karena Golkar tidak punya DNA sebagai partai oposisi.

Mari kita menengok ke masa lalu saat Pilpres 2004, Puluhan senior Golkar menyeberang ke kubu SBY – Jusuf Kalla di Pilpres. Mereka membangkang putusan partai yang mengusung Wiranto – Wahid yang memenangkan konvensi bakal capres di partai itu. Akibat mbalelo itu, beberapa tokoh senior kader Golkar seperti Fahmi Idris, Syamsul Muarif dikenakan sanksi pemecatan oleh Akbar Tanjung sang ketua umum pada waktu itu.

Pun pada tahun 2009, saat Jusuf Kalla berjibaku untuk merebut kursi Presiden dari teman sejalannya SBY, kader kader senior dan elit Golkar memilih bertahan di kubu SBY dan meninggalkan JK.

Baca juga  Impotensi Restorasi Surya Paloh di Partai Nasdem

Begitu seterusnya di tahun 2014. Giliran Aburizal Bakrie yang merasakan pahitnya mbalelo kader kader partai beringin. Ia harus menempuh jalan terjal mempertahankan kursi ketua umum Golkar saat Agung Laksono dan beberapa tokoh lainnya berusaha menyingkirkannya.

Kini, di tahun 2019, meski gaungnya belum sekeras pada masa 2004, 2009 dan 2014, beberapa kader Golkar di daerah sudah menunjukkan sikap berbeda dari pengurus pusatnya. Meski tidak senekat apa yang dilakukan kader yang tergabung dalam Forum Caleg Golkar itu, namun di beberapa tempat, diam diam kader Golkar mulai menyadari bahwa dukungan atas pencalonan Jokowi sebagai capres tidak memberi efek positif sama sekali bagi partai di daerah dan juga pencalonan mereka di Pileg.

Disinilah ucapan Fadel menemukan pembenarannya. Bahwa internal Golkar terpecah dalam berbagai sikap atas pencalonan Jokowi – Ma’ruf.

Namun, apakah hal ini cuma terjadi di Partai Golkar ?, saya berani mengatakan tidak. Sebab pergeseran dukungan dari kader di daerah juga terjadi di partai pendukung Jokowi lainnya. Alasannya cukup rasional. Bahwa pencalonan Jokowi hanya akan menguntungkan PDI-P. Sementara partai koalisi tidak akan merasakan efek apa apa selain hanya sebagai pengusung. Apalagi, cawapres yang ditunjuk Jokowi juga bukan politisi, namun tokoh agama.

Kembali ke Golkar dan ucapan Fadel. Seperti yang saya tuliskan diatas tadi, banyak kader senior Golkar yang diam diam kini beralih sikap mendukung Prabowo – Sandiaga. Memang tidak terang terangan. Namun, secara diam diam kita bisa mengikuti dari pernyataan demi pernyataan mereka di ruang publik yang terdengar tidak sepenuh hari mendukung Jokowi.

Baca juga  Ingat! Pemilu 2019 Bukan Cuma Buat PDIP dan Gerindra

Golkar adalah sebuah partai yang tidak pernah menang di Pilpres namun selalu mendapat tempat di dalam pemerintahan. DNA mereka bukan oposisi. Golkar tidak akan tahan berada di kubu melawan pemerintah.

Kultur ini terbangun di Golkar sejak pertama kali didirikan dengan nama Sekber Golkar pada awal awal orde baru dan menjadi organisasi peserta pemilu non partai yang berkuasa selama 32 tahun berkat lindungan penguasa orba.

Jadi, sulit rasanya bagi Golkar untuk mengambil sikap apalagi bertahan sebagai oposisi. Namun, rasanya patut pula direnungkan dan dijadikan pertanyaan, apakah dengan mengambil sikap berbeda dari pengurus pusat itu kader Golkar akan merasa bahwa Jokowi akan kalah di Pilpres?, rasanya masuk akal. Sebab jika mereka yakin Jokowi menang dan sekaligus mendapatkan efek elektoral yang positif dri pencalonan Jokowi, manalah mungkin Golkar membelah diri.

Elit Golkar bisa saja berkilah bahwa itu bukan sikap partai. Bahkan Indra Bambang Utoyo menuding Forum Caleg Golkar sebagai kader pinggiran. Namun fakta bahwa banyak kader Golkar yang tidak menerima dan setuju dengan pencalonan Jokowi juga tak bisa dikesampingkan. Apalagi koalisi ini dibangun bukan atas dasar ideologis serta kesamaan visi. Namun koalisi pragmatis.

Oleh Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here