Intoleransi Merajalela, Siapa yang Merawat dan Siapa yang Bertanggungjawab?

0
93
Kyai Umar Basri, Penhasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Sentiong Cicalengka, Bandung, yang diserang orang gila.

Menjelang tahun politik 2018-2019 suasana yang baru pulih dari tercabik-cabiknya kebhinekaan pasca Pilgub DKI kembali menyeruak. Akhir-akhir ini marak aksi penyerangan terhadap sejumlah pemuka agama. Tidak hanya penyerangan terhadap pemuka agama islam saja, tapi juga pemuka agama lainnya seperti Kristen, Hindu dan Budha.

Seperti kita ketahui, Pilgub DKI yang lalu menyisakan luka dan jurang intoleransi yang dalam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bayangkan saja, bahasa kasar setiap hari kita baca di sosial media. Tudingan kafir pun dengan mudah disematkan kepada orang-orang yang tidak sepaham dengan pilihannya.

Persekusipun menjadi tontonan yang lumrah. Sekelompok massa yang tidak suka terhadap seseorang dengan mudah memburu, mendatangi dan meneror orang tersebut. Inilah warisan dari Pilgub DKI yang lalu, mau tidak mau, suka tidak suka, itulah tugas berat kita semua untuk kembali merajutnya.

Belum usai kita memintal benang untuk kembali merajut toleransi dan kebhinekaan, hal serupa kembali terjadi akhir-akhir ini. Banyak pihak yang meragukan aksi-aksi belakangan ini murni dilakukan oleh orang per orang tanpa ada yang menggerakkannya.

Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, dalam cuitannya di sosial media twitter sempat melemparkan wacana tentang upaya “by design” terkait serangkaian aksi teror kepada sejumlah pemuka agama belakangan ini. Tentunya sebagai mantan seorang militer dia paham betul tentang skenario dan upaya adu domba seperti ini. Apalagi latar belakangnya sebagai seorang mantan pejabat tinggi militer, tentunya dia banyak mendapatkan informasi A1 dari rekan maupun bawahannya yang masih aktif.

Baca juga  Prabowo Capres “Tanpa Koalisi”

Begitu juga tanggapan yang disampaikan oleh Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan. Ketua Umum PAN ini juga menduga ada upaya adu domba yang sengaja di skemakan agar tahun politik menjadi riuh. Akan ulkifli tidak mau berpolemik terlalu jauh terkait siapa dan untuk apa upaya adu domba itu dilakukan. Dia hanya meminta masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan meminta pihak kepolisian dengan professional menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat.

Secara umum, kita semua mempunyai andil dalam merawat dan bertanggungjawab dengan intoleransi yang terjadi belakangan ini. Istilah orang tua zaman dulu “kita akan memanen apa yang kita tanam”. Jadi jika menanam kebencian, radikalisme, dan sikap-sikap intoleran lainnya, maka bersiaplah kita semua akan sangat mudah dibenturkan sesama anak bangsa lainnya. Namun apabila kita menanam kebaikan, kemajemukan, menerima perbedaan, dan menjaga toleransi kerukunan beragama, maka niscaya kita akan mendapatkan suasana yang teduh di bawah demokrasi dan Pancasila yang kita banggakan.

Baca juga  Amien Rais Disebut Politikus Comberan, PAN Sebut Ketua Hanura Kotoran

Pihak pertama yang harus bertanggung jawab dengan kondisi ini tentunya pemerintah dengan perangkatnya. Pemerintah bersama perangkatnya seharusnya lebih siap dan cepat dalam menangani hal seperti ini. Bukankah kita mempunyai intelijen yang mumpuni untuk mencegah secara dini hal tersebut. Atau jangan-jangan pemerintah juga ikut menikmati kekacauan intoleransi ini? Semoga tidak demikian.

Pihak kedua yang harus bertanggung jawab adalah partai politik. Kenapa demikian? Karena partai politik merupakan pilar demokrasi yang harusnya bisa memberikan wawasan kebangsaan, bernegara, dan merawat demokrasi dengan baik. Kekacauan hari ini tidak bisa lepas dari tanggungjawab partai politik dalam membangun skema pertarungan dengan menarik unsure sensitifitas agama dalam politik.

Ada partai yang agak “sensi” terhadap agama, ada juga partai yang terlalu menjadikan agama menjadi komoditasnya. Kedua hal inilah yang menjadi cikal bakal dari tumbuhnya intoleransi. Karena partai sebagai pilar demokrasi tidak berhasil mengukuhkan dirinya sebagai pewaris peradaban.

Abdul Gafar, Aktivis Aliansi Pembela Ideolgi Umat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here